Bukan sekadar Penonton Pembangunan

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Sabtu, 23 Mar 2019, 23:40 WIB Weekend
Bukan sekadar Penonton Pembangunan

MI/Ardi Teristi Hardi

DI kalangan pemerhati isu disabilitas, Anggiasari Puji Arya­tie barangkali sosok yang tak asing lagi. Perempuan kelahiran 1980 tersebut selama ini dikenal sebagai aktivis yang giat menyuarakan pemenuhan hak bagi para penyandang disabilitas. 

Kini, Anggiasari mencoba cara lain agar perjuangannya lebih efektif, yaitu melalui jalur politik. Bersama Partai NasDem, ia menjadi salah satu calon legislatif penyandang disabilitas yang berjibaku untuk melaju ke Senayan. 

Akhir pekan lalu, Media Indonesia pun menjumpai perempuan yang akrab disapa Anggi itu, untuk menggali lebih jauh motivasi dan rencananya sebagai anggota DPR. Bertempat di sebuah kafe di Jalan Affandi, Kota Yogyakarta, Anggi bertutur mengenai keputusannya menjadi caleg dan Indonesia yang inklusif di masa depan. Berikut petikan wawancaranya. 

Bagaimana mulanya Anda memutuskan menjadi caleg?
Saya awalnya diajak Rachel Saraswati, salah seorang caleg DPRD DIY dari Partai NasDem. Dia ternyata teman anaknya Subardi, Ketua DPW (DIY) Partai NasDem.
Awalnya, saya hanya ingin tahu tentang partai. Namun, setelah itu, saya dicalonkan menjadi caleg DPR. Prosesnya pada Ramadan tahun lalu.

Kok Anda mau menerima tawaran menjadi caleg?
Saya sudah lama bekerja untuk isu penyandang diabilitas dan ini merupakan kelanjutan dari kerja yang selama ini saya jalankan.

Boleh tahu apa kegiatan Anda sebelum menjadi caleg?
Saya tenaga ahli inklusi dan gender yang bekerja di Handicap International, sekarang bernama Humanity Inclusion, lembaga nonprofit internasional yang berpusat di Prancis. Lingkup saya di Indonesia dan Timor Leste dengan menangani isu tentang pendidikan inklusi, kebijakan-kebijakan, hingga kemandirian. Saya mengawasi setiap proyek yang dilakukan organisasi saya supaya partisipatif terhadap penyandang disabilitas.

Banyak aktivis anti berurusan dengan dunia politik. Anda sendiri bagaimana?
Kalau perjuangan kita jelas, politik bisa baik. Politik bukan sekadar berebut kekuasaan. Yang membuat politik kotor karena kita membiarkan oknum-oknum melakukan itu. Padahal, ada banyak orang baik yang jauh lebih pintar dan berdedikasi dari saya yang sudah terjun di dunia politik. Perjuangan mereka jelas dan tahu isu apa di masyarakat yang harus diperjuangkan dan dikontribusikan. Mereka benar-benar menjadi wakil rakyat.

Kalau posisi ini tidak diambil orang-orang pintar dan berdedikasi, citra DPR tetap seperti saat ini. Padahal, mereka penentu kebijakan dan plot-plot anggaran.

Jadi, Anda mantap beralih dari aktivis menjadi politikus?
Selama ini saya bekerja banyak berhubungan dengan pemerintah. Mau tidak mau, dari relasi dengan pemerintah, saya berpikir caranya mengawal kebijakan-kebijakan yang sudah baik dibuat pemerintah (terutama terkait dengan penyandang disabilitas). Sebagai masyarakat sipil juga sudah mengawal, tapi tugas pokok mengawal dan mengawasi kan ada di DPR-RI.

Mengapa Anda sangat ingin me­ng­a­wal kebijakan tentang disabilitas?
Saya mau mengawal dan mengawasi UU (undang-undang) tentang Penyandang Disabilitas. Berbicara tentang penyandang disabilitas, berbicara tentang saya juga dan teman-teman. Berbicara nasib saya dan teman-teman. UU tentang Penyandang Disabilitas juga berbicara dalam konteks lebih luas bangsa Indonesia karena setiap orang berpotensi menjadi disabilitas.

Penyandang disabilitas selain dari kelahiran, juga ada yang karena kecelakaan kerja ataupun lalu lintas, bencana alam, konflik sosial, dan macam-macam. Kalau tidak mulai sekarang berseru tentang penyandang disabilitas, kapan lagi?

Apa yang ingin Anda perjuangkan jika terpilih?
Ada dua hal pokok yang saya perjuangkan, yaitu pendidikan yang inklusif dan pekerjaan yang layak. Dua hal tersebut pokok karena di dalamnya ada hak-hak pendidikan, disabilitas, hak asasi manusia, aksesibilitas, serta perlindungan dan kemandirian perempuan.

Banyak teman disabilitas yang belum menikmati pendidikan yang layak sehingga tidak dapat memaksimalkan pengembangan diri mereka maupun potensi-potensi yang dimiliki. Kalau pengembangan diri dan potensi tidak dapat berkembang, tentu sulit mendapatkan pekerjaan layak.

Apa yang Anda maksud dengan pekerjaan yang layak?
Pekerjaan yang layak ialah ketika kita bisa dan sesuai dengan pengembangan diri dan potensi kita. Pekerjaan yang layak sangat penting karena akan membuat hidup kita semakin bermartabat. Martabat ialah hak asasi manusia. Spesifiknya, kita ingin mendapat kesempatan yang setara untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang layak.

Bagaimana pandangan Anda tentang inklusi?
Inklusi ialah memberikan aksesibilitas bagi disabilitas, baik ramp, toilet, hingga tenaga pendidik. Inklusi harusnya bisa diarusutamakan sejak tenaga guru dididik di pendidikan tinggi. Inklu­si sangat penting karena lintas sektor, dari pendidikan, pekerjaan, hingga kesetaraan gender. Kelompok disabilitas ada di semua sektor.

Jika inklusivitas tidak diperhatikan, kami tidak dapat menikmati hasil pembangunan. Kami hanya menjadi penonton dari pembangunan yang sedang giat dilaksanakan. Kami ingin bisa berpartisipasi mulai perencanaan yang ramah bagi disabilitas.
Pengguna aksesibilitas yang inklusif tidak hanya penyandang disabilitas, tetapi juga bisa dimanfaatkan manula, ibu-ibu hamil, hingga anak-anak. Jika bangunan yang inklusif dilakukan sejak perencanaan, biaya tambahannya tidak sampai 2%. Namun, jika sudah jadi dan dilakukan renovasi, biayanya bisa lebih dari 10%.

Bagaimana Anda menilai persepsi masyarakat atas teman-teman disabilitas saat ini?
Teman-teman disabilitas masih mendapat stigma hingga sekarang, dari pekerjaan, pendidikan, hingga hidup bermasyarakat. Kami terus berusaha agar masyarakat bisa melihat kami sebagai bagian masyarakat yang seutuhnya, termasuk berpartisipasi dalam masyarakat, seperti ikut kerja bakti di lingku­ngan hingga menghadiri musrenbang (musyarawah rencana pembangunan).

Apakah Anda pernah mengalami diskriminasi?
Misalnya, saya ke bank dan mau ke teller. Meja teller sangat tinggi, jauh melebihi kepala saya, sedangkan petugasnya duduk di belakang meja dan tidak dapat melihat saya. Saat membeli tiket kereta di loket, posisinya juga sangat tinggi dan ruang petugas loket ditutup kaca.

Bagaimana kebijakan pemerintah bagi penyandang disabilitas?
Banyak kebijakan-kebijakan baik yang dibuat pemerintahan saat ini, antara lain pendataan disabilitas secara berkala, kebijakan pemerintah agar penyandang disabilitas bisa aman dan nyaman menggunakan layanan-layanan umum, misalnya, di Kota Yogyakarta, serta adanya Perda tentang Perlindung­an dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Namun, semua itu masih langkah awal, bukan tujuan akhir, untuk dapat meningkatkan komitmen pemerintah mengawal isu disabilitas. Hal baik itu harus dikawal terus oleh orang-orang atau lembaga-lembaga yang paham betul tentang isu-isu tersebut, termasuk lewat jalur legislatif.

Pada Pemilu 2019 ini ada sekitar 42 orang disabilitas yang menjadi caleg. Ini kesempatan yang baik untuk lebih paham tentang isu disabilitas.

Sebagai caleg, apa strategi Anda untuk meyakinkan pemilih?
Saya door to door orang hingga ke komunitas-komunitas. Saya berbincang dan menyerap isu-isu yang dekat dengan mereka, misalnya, tentang penghapusan kekerasan seksual.

Bagaimana Anda menghadapi politik uang di lapangan?
Saya tidak melakukan politik uang dan saya sampaikan sejak masa awal kampanye saya. Ini ialah pendidikan politik bagi kita. Kita berjuang untuk masa depan lima tahun mendatang.

Saya optimistis karena saat ini banyak pemilih cerdas, terlebih dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Mereka dengan mudah mencari tahu sosok caleg dan rekam jejaknya.

Apa pesan Anda bagi para aktivis lain terhadap dunia politik?
Dunia politik akan menjadi baik jika kita memiliki tujuan jelas yang diperjuangkan. Buat teman-teman, jangan takut untuk masuk dunia politik. Ada banyak praktik baik yang bisa diperjuangkan lewat jalur politik. Ayo, kita bahu-membahu untuk membangun Indonesia yang lebih baik. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More