Diprovokasi Poros Bandung

Penulis: MI Pada: Sabtu, 23 Mar 2019, 23:20 WIB Weekend
Diprovokasi Poros Bandung

MI/Abdillah Marzuqi

DUA tangan diangkat tinggi hingga hampir tegak. Tidak kaku, masih ada beberapa bagian tangan yang melekuk lembut. Seseorang itu menolehkan kepalanya ke samping kanan dengan cukup kencang hingga rambut yang tergerai merespons gerak kepala. Satu kaki sudah cukup untuk menopang berat tubuhnya. Satu kakinya menjengket, sedangkan kaki lain dibiarkan agak menggantung. 

Rupa cantik dengan tubuh molek menjadi detail yang cukup untuk merangsang imajinasi. Keindahan gerak masih bisa ditangkap meskipun perempuan itu diam. Masih dapat dibayangkan bahwa tarian yang dilakukannya punya kesulitan tingkat tinggi. Detail dan kesan itulah yang menjadikan patung itu seolah hidup.

Begitulah karya Nyoman Nuarta berjudul Dancing Queen II (2017). Nuarta juga menempatkan satu karya lagi disampingnya, yakni berjudul Five Officials (1990). Dua karya itu bersanding dengan karya puluhan seniman lain dalam tajuk Poros Bandung di Galeri Salihara Jakarta pada 3 Maret­ sampai 1 April 2019. Pameran itu dikuratori Rizki A Zaelani, Asmudjo J Irianto, A Rikrik Kusmara, dan Nurdian Ichsan.

Sebanyak 22 karya seniman yang dipamerkan untuk memprovokasi. Karya-karya yang dikumpulkan untuk pameran itu menunjukkan rentang jejak perkembangan seni rupa Bandung yang cukup panjang. Karya-karya itu dikerjakan para seniman dari jenjang generasi yang berbeda. 

Setidaknya para seniman itu mempunyai benang me­rah yang sama, yakni pernah mengenyam pendidikan ataupun berproses kreatif di Bandung. Sebutlah dari mulai Sunaryo (1943), But Muchtar (1930), G Sidharta (1932), Popo Iskandar (1927), AD Pirous (1932), Nyoman Nuarta (1951), hingga Agung Fitriana (1984), dan Etza Meisyara (1991).

Bandung mempunyai posisi tersendiri dalam dunia seni rupa Indonesia. Sedemikian vitalnya hingga memunculkan istilah Mazhab Bandung. Adalah Claire Holt dalam Art in Indonesia: Continuities and Change (1967) yang membubuhkan istilah Bandung School yang kini lebih dikenal sebagai Mazhab Bandung. Selepas Holt, penjelasan soal Mazhab Bandung tak banyak diungkit. Istilah itu pula yang dijadikan sebagai pijakan untuk sebuah pameran bertajuk Poros Bandung. 

“Itu kan kaitannya sama Mazhab Bandung. Jadi, ada cerita tentang Mazhab Bandung, Mazhab Yogyakarta. Terutama itu populer di antara para peneliti dan seniman,” terang salah satu kurator Rizki A Zaelani.

Pameran itu mengetengahkan karya sejumlah perupa lulusan Seni Rupa ITB lintas generasi yang juga sering disebut dengan istilah Mazhab Bandung. Pameran itu juga mengangkat kembali pembicaraan tentang kemajuan masyarakat modern dan modernisme. 


Cara penafsiran

Dalam kuratorial tertulis tajuk pameran Poros Bandung lebih bermakna sebagai sebuah provokasi dari pada eksplanasi. Provokasi itu ditujukan untuk menyegarkan kembali ingatan bahwa Mazhab Bandung bukan hanya tentang pemaknaan pada sebuah alur peristiwa, melainkan juga mengenai cara penafsiran karena istilah itu belum menjadi sebuah kerangka pemahaman yang lengkap. 

Banyak pertanyaan terkait dengan Mazhab Bandung belum juga terjawab terang. Setidaknya, belum ada definisi kesenirupaan terkait dengan istilah tersebut. Paling-paling hanya mengacu pada seniman yang berdiam dan berkarya di sebuah kota bernama Bandung.

“Namun, sebenarnya penjelasan tentang Mazhab Bandung tidak pernah jelas karena itu diberikan oleh orang lain, bukan orang Bandung sendiri. Jadi, pameran itu untuk memprovokasi orang Bandung sendiri untuk memperjelas posisi Mazhab Bandung, apakah itu masih relevan dibicarakan atau bagaimana dampaknya terhadap perkembangan sekarang,” pungkasnya. (Zuq/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More