Negeri Kiwi Bersatu dengan Cinta

Penulis: Denny Parsaulian Sinaga Pada: Sabtu, 23 Mar 2019, 07:15 WIB Internasional
Negeri Kiwi Bersatu dengan Cinta

Marty MELVILLE/AFP

SEORANG muazin berkopiah putih mengumandangkan panggilan untuk salat Jumat pada pukul 13.30 waktu setempat dari atas podium di Hagley Park di Christchurch.

“Allahu Akbar (Tuhan ­Mahabesar),” lantunnya di tengah ribuan orang, termasuk PM Selandia Baru Jacinda Ardern, di taman di seberang Masjid Al Noor. Masjid ini ialah salah satu masjid yang menjadi tempat pembantaian pekan lalu.

Selanjutnya dilakukan mengheningkan cipta selama 2 menit. Tak hanya di Christchurch, tapi juga di seluruh negeri, termasuk di Wellington, Auckland, dan kota-kota besar lain di ‘Negeri Kiwi’.

Di negara tetangga, Australia, orang-orang berhenti di jalan-jalan dan di toko-toko untuk menandai momen itu.

Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda kemudian naik ke podium di Hagley Park dan mengecam ideologi jahat supremasi kulit putih dan memuji ‘Negeri Kiwi’ atas dukungan mereka.

“Saya melihat cinta dan kasih sayang di mata ribuan warga Selandia Baru dan manusia dari seluruh dunia,” kata Fouda.

Sepekan sebelumnya, pelaku pembantaian Brenton Tarrant, penganut supremasi kulit putih, menembak secara membabi buta jemaah salat Jumat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Christchurch, Selandia Baru.

Jumlah jemaah yang meninggal dunia 50 orang.

“Teroris ini berusaha untuk menghancurkan bangsa kita dengan ideologi jahat mereka. Akan tetapi, sebaliknya, kita telah menunjukkan bahwa Selandia Baru tidak bisa dipecah belah,” tandas Fouda.

Masjid Al Noor tetap ditutup karena para pekerja sedang memperbaiki dinding yang penuh peluru serta membersihkan lantai yang berlumuran darah.

Sepanjang salat Jumat berlangsung, ribuan warga yang tidak salat berdiri memagari mereka yang tengah salat.

Setelah salat Jumat, suasana suram di luar mereda. Saat itu warga nonmuslim mulai mendekati masjid untuk meletakkan karangan bunga atau berangkulan dan berswafoto dengan para warga muslim.

Koro Tini, seorang pria Maori berusia 46 tahun dengan tato wajah tradisional yang rumit dan jubah asli upacara, memeluk dan menyentuhkan hidungnya kepada seorang pria yang turut salat Jumat.

Sementara itu, banyak perempuan yang hadir di Hagley Park mengenakan kerudung sebagai tanda solidaritas.

“Aku bisa melepas kerudung jika aku takut. Mereka tidak bisa,” kata Kirsty

Wilkinson yang datang ke Hagley Park dengan dua temannya, yang semuanya berkerudung.

“Kebencian tidak bisa menang,” ujar Kirsty.

Surat kabar utama Selandia Baru memberikan penghormatan khusus pada edisi Jumat (22/3). Halaman depan surat kabar Christchurch, The Press, menuliskan kata Arab ‘Salam’ (Damai) dengan nama 50 korban tewas. (AFP/Denny Parsaulian Sinaga/X-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More