Kamis 21 Maret 2019, 21:10 WIB

Kebiasaan Jokowi, JK: Keluar Tidak Pernah Pakai jam dan HP

M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum
Kebiasaan Jokowi, JK: Keluar Tidak Pernah Pakai jam dan HP

MI/Susanto

 

WAKIL Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla menjadi pembicara dalam acara Kamis Kerja dengan tema Jokowi di Mata Sahabat: Jokowi di Mata Jusuf Kalla, di Kerja @86 HUB, Jakarta, Kamis (21/3).

Pria yang akrab disapa JK itu menceritakan sosok Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menjadi rekannya memimpin negeri selama empat setengah tahun ke belakang.

JK menyatakan, selama mendampingi Jokowi, dirinya menghabiskan banyak waktu bersama Jokowi karena banyaknya rapat yang diagendakan dalam satu tahun. Hal itu menurutnya menjadi perekat hubungan keduanya.

"Tahun 2017 ada 240 hari (untuk rapat), setidak-tidaknya itu ketemu, ditambah pertemuan berdua, acara, ya saya kira 300 kali lah dalam setahun, kalau pacaran kan tidak sepanjang itu, paling lewat WA," ungkap JK terkekeh.

Baca juga: Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Jokowi-JK Terus Naik

JK juga mengatakan, selama empat setengah tahun Jokowi memimpin, infrastruktur memang jadi program andalan. Dengan pembangunan infrastruktur yang masif, menurut JK juga akan memengaruhi karakter masyarakat menjadi lebih baik.

"70 tahun lebih kita ketinggalan dibanding dengan negara lain. Pembangunan infrastruktur itu tidak sekedar membangun saja, tapi juga berkaitan dengan karakter masyarakat. Karakter masyarakat akan lebih disiplin jika teratur infrastrukturnya," kata JK.

Lebih jauh, ia bercerita tentang kebiasaan Jokowi yang menurutnya tidak akan dilakukan oleh masyarakat saat ini, khususnya generasi milenial. Hal itu menurutnya juga tidak mungkin ia lakukan.

"Kebiasaannya gini, ada dua hal yang beliau punya dan anda tidak mungkin lakukan. Kalau anda keluar, apa yang anda bawa? Kalau pak Jokowi tidak pakai arloji dan tidak bawa hp. Itu yang menarik. Saya keluar rumah tanpa jam saja rasanya tidak enak, kalian juga kalau tidak bawa hp kan gak bisa," ungkapnya.

Penampilan Jokowi yang kerap informal menurut JK sudah menjadi kekhasan tersendiri. Hal itu juga yang membuat Jokowi cocok dengan generasi milenial.

"Liat aja caranya pakai baju, selalu informal, pakai jaket, kaos, sepatunya kets, itu sangat informal, saya malah tidak pernah begitu, saya lebih formal," tambah JK.

Selain gaya penampilannya yang terkesan santai, JK menilai gaya kepemimpinan Jokowi disenangi masyarakat lantaran menjunjung tinggi nilai demokrasi.

Hal itu penting, lantaran suatu negara akan jatuh bila pemimpinnya juga jatuh. Dalam hal ini dimaksudkan pemimpin yang tidak baik dalam memimpin.

Pemimpin yang masuk dalan kategori tidak baik, dan bisa mengakibatkan runtuhnya negara demokrasi ialah pemimpin yang otoriter dan membudayakan nepotisme.

JK mengambil era Orde Baru sebagai contoh, di mana pemimpin yang otoriter dan nepotis akhirnya tumbang oleh masyarakat.

"Terjadi di jamannya pak Harto, dia memerintah otoriter, hanya keputusan dia yang berlaku. Kedua nepotisme, anak-anaknya memonopolu banyak hal, akhirnya jatuh," terang JK.

"Apakah jokowi begitu? Tidak. Karena setiap ada masalah selalu dirapatkan oleh beliau. Hari kerja itu 260 hari kan, rapatnya itu ada 240 hari. Dia demokratis tdk otoriter, dia tidak nepotis juga. Anak beliau dagang martabak, kedua jual pisang, saya gak tau namanya. Tapi apakah itu ada urusan dengan pemerintah tidak? Jadi beliau tidK akan merusak dengan gaya otoriter dan nepotisme," ujar JK. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More