Sindikat Pemalsu Meterai Rugikan Negara Rp30 Miliar

Penulis: MI Pada: Kamis, 21 Mar 2019, 09:20 WIB Megapolitan
Sindikat Pemalsu Meterai Rugikan Negara Rp30 Miliar

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
PENGUNGKAPAN MATERAI PALSU: Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat (tengah) menunjukkan barang bukti saat rilis pengungkapan pemalsuan materai dan pencucian uang di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (20/3/2019). Polisi berhasil menangkap sembil

POLDA Metro Jaya mengungkap sindikat pemalsu meterai dan pencucian uang yang menye-babkan kerugian negara hingga Rp30 miliar.

"Kita telah berhasil menangkap sembilan tersangka kasus tindak pidana pemalsuan meterai dan pencucian uang. Kalau kita hitung, kerugian negara kurang lebih Rp30 miliar dari meterai palsu yang beredar selama ini," kata Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Ha-diningrat, kemarin.

Guna menyamarkan aksi mereka, sambung Wakapolda, sindikat itu menggunakan situs belanja daring untuk memasarkan produk meterai palsu buatan mereka. Dijual dengan harga yang sangat rendah, meterai palsu itu laris manis di pasar daring.

"Mereka menjual lewat situs belanja online, ditawarkan dengan harga Rp2.200, padahal nilai harga asli seharusnya Rp6.000," terang Wahyu.

Pengungkapan kasus itu bermula dari laporan Ditjen Pajak pada 25 Oktober 2018 lalu perihal adanya penjualan meterai palsu di situs belanja daring. Polisi pun langsung memulai penyelidikan.

Pada akhir Februari, polisi akhirnya meringkus kawanan pemalsu meterai itu, yakni ASR, DK, SS, ASS, ZUL, RH, SF, DA, dan R.

Baca Juga: Polisi Ungkap Pemalsuan Oli Merek Ternama di Bekasi

ASR dan DK ditangkap di Bekasi dengan peran sebagai tukang sablon dan menjual meterai palsu secara daring. Berikutnya SS, ia ditangkap di Depok yang berperan seba-gai penyedia bahan baku dan mencarikan perusahaan percetakan.

"Ditangkap pula tersangka ASS dengan peran membuat hologram meterai palsu. Begitu juga dengan ZUL dan RH, ditangkap dengan peran mencetak meterai palsu menggunakan mesin offset," Kata Wahyu.

Ia menjelaskan, secara kasat-mata, meterai palsu buatan mereka nyaris sempurna. "Bagi masyarakat umum, fisik meterai ini sangat mirip dengan yang asli. Tapi masyarakat seharusnya curiga ketika meterai Rp6.000 itu dijual dengan harga Rp2.000," ucap Wahyu.

Atas perbuatan itu, para tersangka dijerat dengan UU No 13/1985 tentang Bea Me-terai, serta KUHP Pasal 257 dan KUHP Pasal 253 mengenai menjual, menawarkan, menyerahkan, memiliki persediaan untuk dijual atau memasukkan ke Indonesia meterai tidak asli, palsu, atau dibikin dengan melawan hukum. Para tersangka terancam hukuman tujuh tahun penjara.

Kiat khusus

Di kesempatan berbeda, Direktur Operasi Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) Saiful Bahri mengatakan masyarakat harus jeli saat membeli meterai.

"Dengan adanya penangkap-an kasus pemalsuan meterai, masyarakat harus lebih teliti saat membeli meterai," ungkap Saiful, kemarin.

Ia menambahkan, ada kiat-kiat khusus bagi masyarakat untuk membedakan meterai palsu dan asli. "Ada tiga kiat untuk mengenalinya, yakni dengan cara dilihat, diraba, dan digoyang."

Saat membeli, masyarakat harus melihat bagian hologramnya. Mesin cetak Peruri akan menghasilkan hologram yang menampilkan fitur-fitur keamanan meterai.

"Lalu jika diraba, pada ba-gian atas meterai akan terasa kasar karena dicetak oleh mesin khusus. Kemudian mete-rai digoyang, pada gambar bunga akan terjadi perubahan warna," jelas Saiful.

Saiful juga mengatakan, berdasarkan Peraturan Peme-rintah No 28/1986, Peruri di-berikan mandat oleh pemerintah menjadi satu-satunya lembaga yang mencetak uang dan meterai. "Sehingga di luar Peruri, itu melanggar hukum," katanya. (*/J-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More