Kamis 21 Maret 2019, 08:05 WIB

Tantangan Bagi Sineas Muda di Era Digital

Galih A Saputra | Weekend
Tantangan Bagi Sineas Muda di Era Digital

Ist

LA Indie Movie Festival, MovieLAnd, menantang kreativitas sineas muda tanah air untuk menghadapi era digital dunia perfilman. Dalam festival yang dihelat Sabtu (16/3), para sineas muda difasilitasi dalam sejumlah lokakarya, mulai dari lokakarya director (sutradara), editor, hingga sinematografi. Sineas Garin Nugroho yang beberapa waktu lalu sempat meraih penghargaan di Festival Film Asia Pasifik, kali ini didapuk untuk menjadi pembicara dalam sesi Directing Thinking in Digital Era.

Garin membedah bagaimana pengaruh era digital terhadap dunia perfilman dari sudut pandang sutradara. Selain itu, ia juga membahas konsep, teknologi, hingga seperti apa peluang di era digital yang harus dipahami sineas muda. Menurut Garin, perkembangan teknologi adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa ditolak oleh umat manusia. Teknologi juga ia anggap sebagai naluri alamiah manusia terkait penciptaan. "Sifatnya sangat universal," katanya.

Sinematografer Fahmi J Saad yang selanjutnya mendapat giliran untuk membahas bagaimana kultur sinematografi di era digital, kemudian mengulas apa yang hilang dan bertahan, termasuk bagaimana kemudahan dan kesederhanaan yang dapat diperoleh seorang sinematografer di era tersebut.

Meski demikian, sebelum membahas secara panjang lebar, Fahmi yang mengawali karirnya sebagai kamerawan itu mengatakan bahwa salah satu hal yang perlu dipahami sinematografer sebelum menyambut era digital adalah pengertian dasar dari sinematografi itu sendiri.

Baginya sinematografi adalah seni dan proses fotografi dalam film. "Memang sekarang ada istilah yang dikenal dengan videografer karena perkembangan alat yang serba digital. Tapi dahulu sebelum semua itu ada, dikenalnya sinematografi karena mediannya adalah film. Seluloid segala macam memang sekarang sudah menjadi kenangan, meskipun saat ini juga masih banyak perdebatan sinematografer senior di luar negeri terkait teknologi," ucapnya.

Namun, di luar perdebatan itu, Fahmi kemudian menggarisbawahi salah satu hal penting yang harus diingat oleh sinematografer ialah profesionalitas. Memang seluloid bisa ditinggalkan, jenis kamera bisa berubah-ubah, atau media distribusi juga bisa bermacam-macam. Tapi, baginya keberadaan profesionalitas harus dijaga karena posisinya amat penting dan sangat berpengaruh pada peforma maupun karya.

Tips dan trik untuk menjadi editor sukses lantas diulas editor film Kelvin Nugroho dalam lokakarya editing. Menurutnya, seorang editor harus mampu membangun jaringan yang luas. Ia juga mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital saat ini sangat mempermudah keinginan seseorang yang ingin menjadi editor.

"Tidak perlu minder. Alat-alat yang ada saat ini dirancang agar mudah dioperasikan penggunanya. Contoh sederhana, buat stori di Instagram itu namanya sudah editing. Jadi mulai sekarang, sehabis keluar dari ruangan ini coba dekati orang di kanan-kiri. Colek-colek, kumpul, ngobrol, siapa tahu jadi tim produksi. Tapi jangan kumpul sesama editor, repot kalau tim produksi isinya editor semua. Harus ada sutradara dan lain-lain," canda penyunting film Night Bus yang pada 2017 lalu sempat menggondol gelar Editor Terbaik dari Festival Film Indonesia (FFI) itu.

BACA JUGA: Akhiri Masa Vakum, LA Indie Movie Hadir Kembali

Langsung praktik
Selain memberikan lokakarya, MovieLAnd turut membuka kesempatan berkespresi sineas muda lewat sejumlah kompetisi. Kompetisi itu berlansung di area festival dimana para sineas bisa mengikuti Filmmaker Hunt, sebuah kompetisi pencarian Sutradara, Sinematografer, Editor, dan Penata Artistik. Melalui kompetisi itu pula sineas terbaik nantinya juga akan diberi kesempatan untuk terlibat dalam produksi film yang didukung LA Indie Movie.

Selain itu, mereka juga diberi kesempatan untuk merasakan serunya terlibat dalam produksi film. Keterlibatan mereka ini nantinya akan diberi penghargaan dari LA Indie Movie terkait beberapa katergori seperti, Penulis Cerita Pendek Terbaik, Penata Rias Terbaik, hingga penyusun Musik Latar, sekaligus Pemeran Terbaik.

Anggota Komunitas Kaca Film, Dwi Subiantoro mengaku sangat antusias menghadiri kembali MovieLAnd. "Dari sini kita bisa belajar memahami era digital, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana cara kita berkarya di tengah keterbatasan. Sederhana saja, misalnya, bagaimana dapat memroduksi film hanya dengan bermodal handphone" tutur anggota komunitas yang berada di daerah Cengkareng itu.

Adapun para sineas muda yang berhasil menerima penghargaan dan nominasi selanjutnya akan dipilih yang terbaik, dan dibentuk menjadi satu tim produksi yang akan dimentori oleh para pekerja film profesional. LA Indie Movie bakalan mengumumkan nama senias terpilih lewat laman media sosialnya tepat seminggu pasca perhelatan MovieLAnd. Karya mereka nantinya juga akan didistribusikan secara digital lewat Iflix, Viddsee, dan HOOQ. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More