Lemhanas: Polarisasi Politik Diprediksi Tetap Mengkristal

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 14:02 WIB Politik dan Hukum
Lemhanas: Polarisasi Politik Diprediksi Tetap Mengkristal

MI/Susanto

GUBERNUR Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menyoroti adanya perebutan pengaruh organisasi kemasyarakatan dari dua kelompok politik yang bertarung dalam pilpres kali ini. Kedua kelompok dipandang terus mencari dukungan dan dikhawatirkan akan membuat polarisasi di masyarakat.

"Fenomena ini tidak memiliki batas berhenti, terutama pada pelaku politik karena terus dicari. saya mengibaratkan kalau masih ada tanah kosong yang belum punya pemilik yang tegas itu akan selalu dicari dan selalu ingin diambil. Jadi politik ini akan memperebutkan wilayah independen dan civil society, fenomena ini yang bisa menjurus kepada polarisasi maasyarakat," tutur Agus dalam diskusi di Lemhanas di Jakarta, Rabu (20/3).

Pada pemilu kali ini Lemhanas menemukan adanya pelibatan dan upaya mencari dukungan dari kelompok seperti purnawirawan TNI-Polri, Kampus hingga civil society. Agus sendiri meempertanyakan apakah para relawan ini partisan atau non partisan, sebab kenyataannya terkadang para relawan lebih galak ketimbang partai politik.

Baca juga: Polarisasi Politik Ciptakan Masyarakat Sensitif

Jika melihat pola gerak dan sifat relawan di negara lain, Agus mengungkapkan setiap warga negara memang memiliki preferensi tertentu dalam pilihan umumnya menjadi relawan. Akan tetapi jika setelah pemilihan semua relawan kembali kepada lingkungan profesi dan non partisannya kembali.

Akan tetapi hal tersebut dalam temuan Lemhanas dikhawatirkan tidak terjadi, namun para relawan ini cenderung tetap menjadi partisan dan mengkristal. Salah satu penyebabnya adalah karena relawan ini terbentuk bukan dari logika dan kedewansaan berpolitik namun dari fanatisme dan emosi.

"Kelihatannya di Indonesia ini bisa menunjukkan gejala gejala untuk tidak menuju ke arah kembali ke non partisan, karena fanatisme dan emosi yang dikerahkan untuk mendukung salah satu calon. Sehingga setelah pemilu berpotensi untuk bersifat tetap (partisan)," tutur Agus.

Agus juga melihat tetap partisannya relawan juga disebabkan karena adanya tujuan tujuan tertentu yang ingin mereka capai. Sehingga dengan kata lain makna 'relawan' itu sendiri menjadi semu karena tidak didasarkan kepada rasa sukarela, tetapi karena ada kepentingan dibalik dukungan dari relawan.

Agus menilai bahwa pola -pola seperti itu akan dapat menggerus ruang independen yang seharusnya pada politik konvensional harus dijaga. Dengan semakin meruncingnya perseteruan dari dua kubu Agus menilai perlu adanya kelompok penengah yang dapat mengembalikan situasi non partisan.

Dirinya memandang untuk kelompok tengah ini sebetulnya berasal dari kelompok independent dan negarawan, keduanya sebetulnya memiliki jumlah yang besar. Namun sayangnya dengan adanya situasi sepeti saat ini yang memperebutkan dukungan kelompok independen menjadi sesuatu yang perlu menjadi perhatian.

"Bagaimana mereka memiliki kekuatan tengah agar dapat menjadi penetralisasi dari polarisasi didalam masyarakat. Sebab tujuan akhirnya adalah untuk mencegah perpecahan, dengan membangun dan memperkuat kekuatan tengah yang non partisan dari kekuatan bangsa," pungkas Agus. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More