Generasi Milenial Perlu Waspadai Hipertensi

Penulis: (*/H-2) Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 04:15 WIB Weekend
Generasi Milenial Perlu Waspadai Hipertensi

Thinkstock

GENERASI milenial diimbau untuk mewapadai hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi. Mengingat, gaya hidup masa kini yang kian memperbesar risiko untuk terkena penyakit berbahaya itu.

“Salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum milenial," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Paskariatne Probo Dewi Yamin SpJP, pada diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Gaya hidup yang dimaksud, lanjutnya, lebih mengarah pada aktivitas fisik yang berkurang karena semakin berkembangnya fasilitas yang ada seperti lift yang membuat masyarakat semakin jarang menggunakan tangga, kebiasaan merokok, dan faktor psikososial seperti stres akibat pekerjaan.

"Selain itu, konsumsi makanan instan dan cepat saji yang banyak mengandung MSG. MSG yang sering dikonsumsi akan meningkatkan risiko hipertensi,” terang Dewi.

Ia mengingatkan, hipertensi disebut juga sebagai penyakit silent killer atau penyakit yang tidak menimbulkan tanda-tanda khusus. Rata-rata kaum milenial diketahui terkena hipertensi saat melakukan medical check-up.

"Itu pun jika ada program dari kantornya. Sebenarnya hal ini tidak dapat disepelekan. Apabila kaum milenial tidak sadar dengan faktor risiko yang ada, dapat menimbulkan penyakit berat, seperti stroke, ginjal dan jantung."

Maka dari itu, lanjut Dewi, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan melakukan deteksi dini atau mengukur tekanan darah sendiri di rumah, apalagi sekarang sudah ada alat pengukur tekanan darah digital yang lebih memudahkan masyarakat.

Segera obati
Pada kesempatan sama, Prof dr Suhardjono SpPD-KGH mengatakan hipertensi harus diobati, semakin cepat lebih baik. Karena jika tidak segera diobati, dapat menimbulkan kerusakan organ jantung, stroke, gagal ginjal, dan pembuluh darah yang berakibat buruk hingga dapat menimbulkan kematian dan kecacatan.

"Pengobatan hipertensi ditujukan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dengan cara mengendalikan maksimal semua faktor risiko yang ada. Kami mengimbau, masyarakat mau melakukan pencegahan dengan menerapkan modifikasi gaya hidup, makan sehat, olahraga teratur, dan patuh terhadap pengobatan hipertensi yang saat ini mudah didapatkan, serta melakukan deteksi dini tekanan darah baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan,” imbaunya.

Berdasarkan data WHO 2018, prevalensi hipertensi di dunia sebesar 40% dan rata-rata dimulai pada usia 25 tahun. Adapun studi epidemiologi di Amerika menemukan sebanyak 7,3% kaum milenial (dewasa muda usia 18-39 tahun) terkena hipertensi dan sebanyak 23,4% termasuk kategori prehipertensi. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%.

Presiden Indonesian Society of Hypertension dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH menekankan pentingnya penanggulangan hipertensi karena dapat menyebabkan kerusakan organ seperti jantung dan ginjal.

Penyakit jantung dan ginjal telah menyita beban negara sangat besar. Penyakit jantung sebesar Rp2.665.304.682.844 dan untuk gagal ginjal sebesar Rp2.165.507.578.258 (BPJS 2014),” katanya. (*/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More