Jokowi-Ma'ruf Paling Dirugikan Jika Angka Golput Tinggi

Penulis: M Ilham Ramadhan Avisena Pada: Selasa, 19 Mar 2019, 17:30 WIB Politik dan Hukum
Jokowi-Ma

MI/M. Irfan

KURANG dari sebulan menjelang Pemilu 2019, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mendapati temuan penaikan jumlah golput dalam tiap pesta demokrasi.

Hal itu diungkapkan oleh peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman dalam konferensi pers bertemakan 'Siapa dirugikan Golput: Jokowi atau Prabowo?' di Gedung LSI, Rawamangun, Jakarta, Selasa (19/3).

LSI melakukan survei pada 18-25 Februari lalu dengan menggunakan metode random sampling. Jumlah responden pada survei itu sebanyak 1.200 orang dengan margin of error 2,9%.

"Data KPU menunjukkan, dalam tiga kali pemilu terakhir jumlah golput cukup variatif. Pada 2004, tingkat golput ada di angka 23.3% lalu pada 2009 jumlah golput sebanyak 27.45% dan 2014 angka mereka yang golput sebanyak 30.42%," ujar Ikrama.

LSI, lanjut Ikrama, membagi masyarakat yang golput kedalam enam segmentasi pemilih. Segmentasi dikategorikan berdasarkan pemilih minoritas (nonmuslim), pemilih wong cilik, pemilih milenial, pemilih emak-emak, pemilih terpelajar dan pemilih muslim.

Dari enam kategori kantong suara itu, pasangan Jokowi-Ma'ruf menjadi yang dirugikan bila jumlah golput tidak dapat ditekan. Kecuali pemilih terpelajar, petahana unggul di lima segmentasi lainnya.

"Survei terbaru LSI Denny JA menunjukkan bahwa Prabowo - Sandi memperoleh dukungan sebesar 45,4% sementara Jokowi-Ma'ruf memperoleh dukungan sebesar 36,1%. Artinya, pasangan Prabowo-Sandi unggul dengan selisih 9,3%," ungkapnya.

Sementara, Jokowi-Ma'ruf unggul di segmen pemilih minoritas dengan selisih 68,7%. Kemudian 36,3% selisih di segmen pemilih wong cilik. Di kantong suara milenial, pasangan nomor urut 01 itu juga unggul dengan selisih 22%.

Baca juga: Bimbim Sebut Golput Itu Usang

Selanjutnya, di segmentasi emak-emak, petahana unggul dengan selisih 31% dari lawannya. Pun demikian kantong suara pemilih muslim, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan selisih 15%.

"Pemilih muslim ini terbagi menjadi dua, ada yang mengafiliasi dirinya dengan FPI, HTI serta jaringan PKS. Kedua, mereka yang mengafiliasi dirinya dengan ormas lain atau diluar tiga itu," jelas Ikrama.

"Jika golput di pemilih muslim yang merasa bagian dari FPI, HTI dan jaringan kultural PKS, maka yang dirugikan adalah Prabowo-Sandi," lanjutnya.

Hal itu lantaran hasil survey menunjukkan pasangan Prabowo-Sandi memperoleh banyak dukungan kuat dari pemilih muslim konservatif. Ikrama juga menambahkan, golput pada segmen pemilih muslim bagian itu diduga kecil, lantaran mereka dinilai lebih militan.

Menurutnya, pasangan Jokowi-Ma'ruf terancam akan kalah dari opisisi bila melihat hasil survei. Hal itu dikarenakan pendukung pasangan 01 sudah merasa menang dan lebih unggul, sehingga antusiasme untuk mencoblos berkurang.

"Kurangnya antusiasme datang ke TPS karena merasa Jokowi-Ma'ruf sudah menang, sehingga merasa tidak penting untuk datang ke TPS. Ia merasa satu suara tidak akan berpengaruh, tapi bagaimana bila 50 juta orang berpikir demikian? Tentu akan sangat merugikan kubu Jokowi - Ma'ruf," tandas Ikrama. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More