Selasa 19 Maret 2019, 07:35 WIB

Pemenang Debat Rebut Swing Voters

Tosiani | Politik dan Hukum
Pemenang Debat Rebut Swing Voters

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berbincang dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) usai mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019).

 

DALAM waktu tersisa 30 hari, kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden masih mempunyai kesempatan untuk merebut hati swing voters (pemilih yang masih berubah atau belum menentukan pilihan) melalui dua kali debat Pilpres 2019 yang bakal digelar Komisi Pemilihan Umum.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan pasangan calon 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno harus tampil memikat dalam debat. Paslon yang memenangkan debat secara mutlak akan meraih suara swing voters.

"Kedua paslon harus betul-betul bisa meyakinkan swing voters yang jumlahnya total mencapai kisaran 25%," kata Djayadi saat dihubungi, tadi malam.

Swing voters, kata Djayadi, terdiri atas kelompok yang sudah punya pilihan, tapi masih mungkin bisa berubah. Mereka ada di kisaran 10%-15%. Adapun mereka yang sama sekali belum memutuskan akan memilih siapa calon yang akan dipilih sekitar 10%. "Sekitar 25% pemilih yang bisa berubah ini harus bisa diyakinkan para kandidat dalam waktu 30 hari ke depan. Mereka kebanyakan kaum milenial."

Persoalannya, lanjut Djayadi, kebanyakan milenial ialah angkatan kerja produktif berusia 25 tahun ke bawah. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mereka ada di kisaran 15%.

"Para kandidat harus meyakinkan mereka terkait ketersediaan lapangan kerja dan solusi konkret mengatasi pengangguran. Hal itu belum terjawab jelas pada debat cawapres Minggu (17/3) malam," ujarnya.

Menurutnya, dari pihak Ma'ruf Amin ataupun Sandiaga memang menawarkan solusi. Ma'ruf memang mengajukan kartu prakerja untuk mengatasi pengangguran, tetapi apakah kartu itu bisa menjamin milenial dapat kerja atau sekadar mengulur waktu sambil tetap bisa hidup.

Sandi juga mengusung program rumah siap kerja, serta link and match. Namun, kata Djayadi, konsep rumah siap kerja belum jelas karena seperti tidak ada beda dengan balai latihan kerja (BLK) yang sudah ada sekarang. Link and match juga sudah ada sejak zaman Presiden Soeharto.

"Persoalan mengatasi peng-angguran belum terjawab dalam debat cawapres itu," cetusnya.

Djayadi mengatakan debat ketiga antarcawapres itu berjalan berimbang. "Tidak ada pemenang telak dalam debat sehingga tidak akan banyak memengaruhi elektabilitas dari dua kandidat."

Mendominasi

Perihal debat ketiga, lembaga survei Politica Wave merilis hasil survei seusai debat cawapres. Rilis tersebut menyebut penampilan Ma'ruf Amin di debat ketiga melebihi ekspektasi warganet.

"Ma'ruf mendominasi percakapan netizen dengan jumlah percakapan 58,26%, dengan perbandingan 98% sentimen positif dan 2% sentimen negatif," jelas Politica Wave melalui keterangan tertulis, kemarin.

Sandiaga Uno, lanjutnya, mendapatkan jumlah percakapan 41,74% dengan perbandingan jumlah sentimen positif 79% dan 21% sentimen negatif.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan, mengatakan debat ketiga belum menunjukkan sebuah debat yang memberikan gambaran distingtif antarpasang-an. "Akibatnya masyarakat tidak menemukan pijakan untuk menentukan pilihan secara kuat berdasarkan perbedaan antarkandidat."

Debat pilpres akan diselenggarakan dua kali lagi, yakni debat keempat pada 30 Maret, dan debat kelima (tanggal dan tempat belum ditentukan). (Mal/Ins/*/X-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More