Menyikapi Keterlibatan Perempuan di Garis Depan Aksi Terorisme

Penulis: Bagong Suyanto Guru Besar FISIP Unair,  terlibat dalam penelitian tentang radikalisme di Indonesia Pada: Selasa, 19 Mar 2019, 04:00 WIB Opini
Menyikapi Keterlibatan Perempuan di Garis Depan Aksi Terorisme

MI/Tiyok

KETERLIBATAN perempuan dalam aksi terorisme kini tidak hanya sebagai pendukung pasif, tetapi juga sudah merambah maju ke garis depan. Dalam tiga tahun terakhir, pelaku teror tidak lagi didominasi laki-laki, tetapi sebagian telah dimasuki kaum perempuan yang dari perspektif gender sebelumnya dinilai lebih pasif. Tidak sedikit perempuan kini memerankan diri sebagai eksekutor, bahkan mengembangkan tingkat radikalisme yang lebih militan daripada laki-laki atau suaminya.

Dalam kasus penembakan terhadap umat muslim yang tengah melakukan salat Jumat di dua masjid di Selandia Baru, misalnya, salah satu teroris yang menewaskan 50 orang yang tidak berdosa itu dilaporkan ialah seorang perempuan. Sementara itu, dalam kasus penangkapan Husain alias Abu Hamzah terduga teroris di Sibolga, Sumatra Utara, yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh Densus 88 Mabes Polri pada penggerebekan, 12 Maret 2019, dilaporkan justru sang istri yang tidak mau menyerah. Negosiasi selama 10 jam lebih yang dilakukan aparat dan tokoh masyarakat tidak membuahkan hasil. 

Alih-alih menyerah, bersama dua anaknya, istri Abu Hamzah lebih memilih mati daripada menyerahkan diri ke aparat. Perempuan yang sebelumnya tidak dikenal dan tidak diperkirakan berani bertindak radikal itu, tanpa diduga memilih meledakkan diri sembari membawa dua orang anaknya. Seperti diakui Abu Hamzah bahwa istrinya memang cenderung lebih ekstrem terpapar paham radikalisme ISIS sehingga daripada menyerahkan diri, ia lebih memilih mati bunuh diri sebagai jihadis yang teguh memperjuangkan prinsipnya yang keliru.

Faktor penyebab
Keterlibatan kaum perempuan dalam aksi terorisme sebetulnya bukan hal baru. Di Indonesia tidak sekali-dua kali dilaporkan adanya keterlibatan perempuan dalam aksi teror yang mematikan. Sebelum kasus aksi peledakan diri yang dilakukan istri Abu Hamzah di Sibolga, sejumlah aksi yang melibatkan perempuan telah berkali-kali terjadi di Tanah Air.

Pada 2016 misalnya, seorang perempuan bernama Dian Yulia Novi, dilaporkan telah merencanakan menggelar aksi bom bunuh diri di Istana Negara, tetapi untungnya berhasil digagalkan. Di 2018, aksi bom bunuh diri di salah satu gereja di Surabaya dilaporkan juga dilakukan seorang perempuan yang membawa mati anaknya untuk alasan yang tidak masuk di akal.

Berbeda dengan aksi teror gelombang sebelumnya yang didominasi laki-laki dan cenderung berwajah maskulin, dewasa ini aksi teror yang berkembang di Indonesia mulai mengalami pergeseran. Kaum perempuan, terutama para istri tersangka terorisme yang sehari-hari ikut mengalami masa-masa harus hidup dalam penderitaan, bersembunyi dari kejaran aparat, dan bahkan mungkin juga telah kehilangan suami atau saudara mereka dalam aksi teror yang dilakukan, kini mulai mengembangkan peran baru sebagai eksekutor. 

Perkembangan proses feminisasi aksi terorisme ini muncul, terutama karena sejumlah faktor sebagai berikut. Pertama, berbagai kasus penangkapan pelaku teror, yang umumnya kaum laki-laki ditengarai menjadi salah satu munculnya radikalisme di kalangan perempuan.  
Di lingkungan keluarga teroris yang umumnya patriarkis, kemungkinan para perempuan untuk membela suaminya yang teroris niscaya akan sangat besar sebagai ekspresi ketaatan dan kesetiaan mereka pada suaminya sebagai kepala keluarga. 

Sebagai istri yang mendukung sepenuh hati keyakinan suaminya, tidak jarang kaum perempuan justru menjadi lebih militan karena proses indoktrinasi dan ditempa pengalaman. Ketika suami mereka tertangkap aparat, hal itu sering bukan malah menyadarkan bahwa mereka telah memilih jalan yang keliru, melainkan justru sebaliknya malah memantik rentetan perkembangan sikap radikal di kalangan kaum perempuan.

Kedua, karena tekanan kebutuhan hidup dan kondisi ekonomi keluarga pelaku terorisme yang sering kali kekurangan atau sederhana, terutama pascapenangkapan suami mereka, langsung atau tidak langsung menyebabkan masa depan perempuan dan anak-anaknya terganggu.      

Dalam kondisi ekonomi keluarga yang porak poranda, jangan heran jika kemudian yang timbul ialah benih-benih dendam di benak para perempuan, kebencian, dan bahkan keinginan untuk melawan pihak-pihak yang dianggap telah menyengsarakan kehidupan keluarganya. 

Ketiga, karena implikasi terjadinya pergeseran strategi taktis dari pelaku terorisme yang memanfaatkan kelengahan aparat dan masyarakat terhadap posisi perempuan dan anak yang cenderung lebih tidak dicurigai daripada laki-laki. 

Dalam berbagai kasus, kehadiran perempuan sebagai pelaku teror umumnya lebih leluasa bergerak menjalankan misinya karena cara pandang kita yang tidak menduga perempuan tega melakukan perbuatan keji dalam aksi bom bunuh diri. 

Sikap longgar dan kelengahan seperti inilah tampaknya yang kemudian menajadi alasan kelompok terorisme mendorong perempuan berganti peran menjadi eksekutor dengan pertimbangan peluang keberhasilannya lebih besar.

Menggeser fokus
Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme ditengarai tidak hanya terjadi di tanah air. Sejumlah laporan memperlihatkan bahwa tidak sedikit perempuan telah berangkat ke Suriah bergabung dengan Daulah Islamiyah ISIS untuk memperjuangkan ideologi garis keras yang mereka yakini itu. 

Proses radikalisasi yang kini merambah ke kaum perempuan ialah konsekuensi yang tidak terhindarkan akibat pergeseran strategi internal kelompok teroris dan implikasi dari model pendekatan yang dikembangkan aparat selama ini. 

Lebih dari sekadar dampak dari penyebaran doktrin tentang kewajiban jihad sebagai fardu ain masih hidup di Indonesia, penanganan kasus terorisme yang sering kali menyebabkan perempuan menjadi korban dari hilangnya suami mereka cepat atau lambat tumbuh dengan dendam kesumat yang menjadikan mereka terkadang lebih radikal daripada suaminya.

Berbeda dengan stigma tentang perempuan yang umumnya dinilai bersikap lemah lembut, keibuan, dan stereotip feminin lainnya, saat ini para perempuan yang terlibat dalam jaringan terorisme tidak lagi berbeda dengan kaum laki-laki. Ketika pikiran mereka sudah dirasuki dendam dan diracuni pengaruh buruk ideologi radikal, keterlibatan mereka dalam aksi teror bom bunuh diri bukan lagi hal yang mengagetkan.

Pascaterjadinya bom di sejumlah gereja di Surabaya, kita tahu ratusan pendukung JAD dan ISIS telah berhasil ditangkap aparat. Para perempuan yang merupakan istri tersangka pelaku terorisme, kini tentu tengah menghadapi masa-masa sulit karena menjadi single parent. 
Model penanganan yang hanya fokus menyasar laki-laki pelaku teror, tetapi melupakan kondisi perempuan yang harus terpisah dengan suaminya, tentu akan menjadi celah yang berbahaya jika tidak segera ditangani dengan baik.
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More