Dilarang Ikut USBN dan Hina Orangtuanya, Kepsek Dihajar Siswa

Penulis: RK/N-3) Pada: Senin, 18 Mar 2019, 20:31 WIB Nusantara
Dilarang Ikut USBN dan Hina Orangtuanya, Kepsek Dihajar Siswa

Ilustrasi--Thinkstock

AN, siswa kelas III SMA Negeri 2 Rakit Kulim, Indragiri Hulu, Riau, emosi memukul kepala sekolahnya, Bambang Fajrianto, 50. Emosi AN tersulut karena Bambang melarangnya mengikut ujian sekolah berstandar nasional (USBN), sebab AN menunggak membayar iuran uang sekolah sebesar Rp740 ribu.

Selain itu, sikap kepala sekolah yang memaksa ibunda AN, Farida, 45, untuk segera datang membayar uang sekolah pada hari pelaksanaan ujian Rabu (13/3) membuat AN kesal. Kekesalan anak yatim sejak dua tahun lalu itu makin memuncak, saat perkataan kepala sekolah yang menyinggung almarhum ayahnya. Yang tua tidak bijaksana mengakibatkan darah muda AN tersulut dan berujung duel dengan kepala sekolahnya.

“Saya sakit hati almarhum ayah saya dihina karena itu saya balas memukulnya. Saya memukul kepala sekolah hanya membela diri, dia memukul saya lebih dulu. Kalau dia hanya memarahi saja tidak mengapa, jangan singgung almarhum ayah,” tegas AN.

Ibunda AN, Farida, menyatakan saat kejadian itu dia sedang mencari pinjaman untuk membayar tunggakan uang sekolah dan uang OSIS sampai Juni sebesar Rp740 ribu. Uang pinjaman dari tetangga dan sanak saudara terkumpul, tetapi saat tiba di sekolah, Farida mengaku terkejut mengetahui peristiwa duel itu. Rupanya AN diusir kepala sekolahnya dari dalam kelas karena menunggak uang sekolah. Padahal, Farida sudah memohon meminta tempo agar bisa membayar uang tunggakann sekolah tersebut. Namun, pihak sekolah tidak mau ambil pusing, sampai ­akhirnya AN berkelahi dengan kepala sekolahnya.

“Ketika itu saya langsung minta maaf pada kepala sekolah. Tetapi dia (kepala sekolah) tak mau. Dia tetap melaporkan anak saya ke polisi,” kata Farida.

Farida mengaku sejak kematian ayahnya, AN bersikap murung. Anak bungsunya menjadi mudah naik pitam apabila disinggung soal ayahnya. Apalagi, kondisi ekonomi keluarga kini hanya bergantung dari pemberian dua abangnya yang bekerja sebagai sopir. “Dia sangat dekat dengan ayahnya dan menyayangi almarhum,” jelas Farida.

Sementara itu, polisi telah resmi menetapkan AN sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap Bambang Fajrianto. Paur Humas Polres Indragiri Hulu Aipda Misran mengatakan tersangka tidak ditahan karena pertimbangan masih berstatus seorang pelajar. “A ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana ringan dan tidak ditahan,” jelas Misran. Hingga berita ini diturunkan, pihak sekokah belum mau komentar. (RK/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More