Perajin Tikar Mendong Menunggu Gulung Tikar

Penulis: (Kristiadi/N-2) Pada: Senin, 18 Mar 2019, 23:45 WIB Nusantara
Perajin Tikar Mendong Menunggu Gulung Tikar

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

DENGAN teliti Nur Hasanah, 63, memasukkan batang-batang mendong di antara benang tenun dalam mesin yang biasa disebut tustel. Sambung-menyambung batang-batang mendong ini menghasilkan sebuah tikar sepanjang 100 meter dengan lebar 1 meter. Warga Desa Singkup, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, hingga saat ini masih bertahan sebagai perajin tikar mendong khas Tasikmalaya. 

Dia bersama delapan perajin lainnya masih setia menjalani profesi sebagai perajin mendong. Kota Tasikmalaya dikenal dengan tikar mendong ini. Namun, belakangan ini banyak perajin tikar mendong gulung tikar. 

“Zaman berubah membuat budaya juga ikut berubah. Seperti sebelumnya banyak orang menanam mendong di areal lahan pertanian, tetapi sekarang telah berubah menjadi tanam padi. Kebutuhan bahan baku selama ini tetap sulit. Mendong yang kami tenun ini didatangkan dari Malang dan Jember. Di sini (Tasikmalaya) tidak banyak yang melakukan penanaman,” kata Nur Hasanah yang bekerja di sebuah rumah produksi tenun mendong. 

Bagi Nur Hasanah, menenun mendong tidak bisa stabil setiap harinya karena tergantung apakah ada bahan baku atau tidak. Satu hari ia bisa menyelesaikan tenun mendong sepanjang 10 meter. Dalam sepekan, ia bisa membuat tikar sepanjang 60 meter. Untuk 1 meter, Nur Hasanah menerima upah Rp3.000. Jika ia menenun di bawah target, hanya mendapatkan Rp2.500 untuk 1 meter. Upah yang ia terima untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. 

Soimah, 40, rekan kerja Nur Hasanah, mengatakan biasanya pegawai-pegawai usia muda mampu menyelesaikan tenun mendong 20 meter per hari. Namun, Nur yang usianya sudah kepala enam hanya mampu 10 meter per hari. 
“Upahnya memang tidak jauh berbeda dengan lainnya, tapi produksi kerajinan mendong­nya terus berkurang,” ujarnya. 

Sejarah kejayaan tanaman mendong era 1940-an. Tanaman mendong dibawa ke Purbaratu dari Pulau Sumba oleh dua saudagar sekaligus pedagang kuda dari Tasikmalaya, Oneng dan Maksum. Kemudian mendong ini populer sebagai bentuk kerajinan pada 1980 hingga 1990-an. 

“Pada masa kejayaan hampir semua rumah memproduksi kerajinan mendong. Tapi sekarang hanya tinggal dua rumah produksi besar yang masih aktif. Salah satunya tempat saya dan Nur bekerja,” ungkapnya.

 Soimah mengakui produk yang dihasilkan dari Purbaratu ini membutuhkan sentuhan modern sebab model yang dikembangkan tertinggal dengan produk serupa, tapi diimpor. (Kristiadi/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More