Membidik Manisnya Pasar East African Community

Penulis: Profesor Dr Ratlan Pardede Duta Besar RI untuk Tanzania  merangkap Rwanda, Burundi, dan Uni Comoros Pada: Sabtu, 16 Mar 2019, 05:20 WIB Opini
Membidik Manisnya Pasar East African Community

MI/Tiyok

“THIS is the moment for the African Continent. A free trade area for Africa is going to be like a flood. A flood that is going to lift all the boats. It is not about South Africa. It is more about all of us.” 
(Cyril Ramaphosa, Presiden Afrika Selatan, 2018)

Aspek penting yang diperlukan dalam upaya peningkatan ekspor, di antaranya memahami dinamika perkembangan politik dan ekonomi di kawasan yang menjadi target pasar produk RI. Salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian RI ialah Afrika. 
    
Kawasan yang sangat potensial dengan pertumbuhan ekonomi tinggi disertai persaingan politik-ekonomi antarnegara yang terkadang cukup intens. Sebagaimana yang terjadi antara negara-negara di kawasan Afrika Timur yang tergabung dalam East African Community (EAC). 
    
Upaya memahami dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di kawasan Afrika Timur juga bertepatan dengan penelaahan kembali kebijakan perdagangan EAC dalam World Trade Organization (WTO) di pertengahan Maret 2019.
    
Sejarah pembangunan ekonomi di kawasan EAC hampir serupa dengan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang tidak lepas dari semangat membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Meski demikian, dalam perjalanannya upaya negara-negara di kawasan tidaklah terlalu mulus. Kebijakan berdikari yang diterapkan beberapa negara di Afrika belum cukup berhasil. Kebijakan itu belum didukung SDM yang baik serta kondisi politik dan keamanan yang stabil. 
     
Hal ini menyebabkan negara-negara di Afrika, khususnya di Afrika Timur, harus mengimpor barang kebutuhan pokok dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan domestik.
     
Dengan menyadari ketimpangan yang terjadi, negara-negara di Afrika sepakat bersatu membentuk organisasi kerja sama ekonomi yang dapat menghubungkan potensi ekonomi melalui perdagangan bebas di kawasan.     
    
Keinginan untuk menghadirkan perdagangan bebas terjadi, baik mencakup seluruh kawasan Afrika maupun di antara subkawasan untuk membentuk kesepakatan perdagangan bebas. Seperti African Union (AU), Common Market for Eastern and Southern Africa (COMESA), Economic Community of West African States (ECOWAS), dan Southern African Development Community (SADC).  

Dinamika politik dan ekonomi
Semangat untuk tidak terus menjadi pasar produk-produk negara lain juga yang mendorong Burundi, Kenya, Rwanda, Tanzania, dan Uganda membentuk EAC, yang hingga saat ini beranggotakan enam negara dengan masuknya secara resmi Sudan Selatan menjadi anggota.
   
Dua dekade sejak pendiriannya, EAC berupaya aktif mengintegrasikan perekonomian negara-negara anggotanya menjadi salah satu blok perdagangan yang berpengaruh di kawasan Afrika. 
    
Upaya ini ditandai dengan dua hal yang cukup menonjol, yakni dengan adanya Traktat Pembentukan EAC (1999) dan kesepakatan penetapan tarif serta bea antara negara anggota EAC. 
    
Kemajuan ini mendorong EAC menjadi salah satu blok ekonomi regional dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dengan rata-rata sekitar 5% per tahun. Terlebih lagi dua negara anggota EAC, Tanzania dan Rwanda, masing-masing mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 6,8% dan 7,2% pada 2018. 
   
Meski demikian, perkembangan politik-ekonomi domestik dan persaingan antaranggota-anggota EAC memengaruhi kemajuan yang telah dicapai sejak terbentuknya kesepakatan tarif dan bea bersama antara negara EAC. Hal ini ditandai dengan terhambatnya harmonisasi pengawasan penetapan tarif bersama dalam EAC dan terhambatnya proses finalisasi kesepakatan dagang antara EAC dan Uni Eropa. 
    
Dinamika politik dan ekonomi yang terjadi dalam EAC menjadi tantangan bagi pengembangan potensi perdagangan di kawasan Afrika Timur. Pasar EAC dengan populasi 172 juta jiwa dan memiliki sumber daya melimpah mengalami defisit neraca perdagangan cukup besar.     
    
Sebagai gambaran, EAC dengan produk domestik bruto sebesar US$172 miliar dan nilai total perdagangan sebesar US$45,65 miliar tahun 2017 hanya memiliki nilai ekspor sebesar US$13,57 miliar. 
    
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan domestik, negara-negara di EAC harus mengimpor komoditas dari negara lain sebesar US$32,08 miliar. Dengan kata lain, EAC mengalami defisit neraca perdagangan US$18,51 miliar. Suatu kondisi yang dialami hampir seluruh negara di kawasan EAC.
    
Dinamika politik dan ekonomi di kawasan Afrika Timur menjadi kesempatan yang mendorong banyak negara datang menjual produknya di Afrika, mulai bahan kebutuhan pokok, seperti minyak goreng, pakaian, baterei, piring, pupuk, hingga kendaraan bermotor perlahan membanjiri negara di kawasan Afrika Timur. Kawasan itu menjadi ‘medan pertempuran’ bermacam-macam jenis produk dari berbagai negara.
    
Sepuluh besar produk impor yang masuk ke pasar EAC ialah bahan bakar mineral, mesin mekanik, kendaraan bermotor, mesin, dan peralatan elektronik. Ada juga sereal (gandum, jagung, beras), plastik dan produk farmasi, besi, baja, minyak sawit, margarin, serta gula.  
    
RI saat ini menduduki peringkat ketujuh negara dominan pengekspor komoditas ke Afrika. Sementara itu, enam peringkat tertinggi berturut-turut ialah RRT, India, Persatuan Emirat Arab, Arab Saudi, Jepang, dan Afrika Selatan. Sementara itu, AS dan Jerman berada di bawah Indonesia. 
    
RRT yang berada di posisi teratas memiliki nilai ekspor sebesar US$9,11 miliar atau menguasai 28,38% pangsa pasar EAC pada 2017. Pada 2018, nilai ekspor mengalami peningkatan menjadi US$9,70 miliar. Dari sepuluh produk impor terbesar yang dibutuhkan oleh pasar EAC, hampir seluruhnya dapat dipenuhi RRT.

Pendekatan mumpuni
Performa RI, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, relatif lebih baik. RI menjadi negara ASEAN dengan nilai ekspor tertinggi ke negara EAC, yakni US$587 juta atau memiliki sekitar 1,83% pangsa pasar EAC di Afrika Timur. Selanjutnya diikuti Malaysia dan Thailand yang memiliki pangsa pasar 1,52% dan 1,11% pada 2017. 
    
Namun, di antara sepuluh komoditas unggulan ekspor Indonesia, seperti yang dirilis Indonesia Eximbank, dalam Outlook Ekspor Komoditi unggulan 2019, hanya terdapat dua komoditas unggulan RI yang masuk sepuluh komoditas impor tertinggi EAC, yaitu kelapa sawit dan produk tekstil. Hal ini menunjukkan komoditas Indonesia belum dapat bersaing dengan negara lain, terutama dengan RRT.   
    
Beberapa komoditas RI yang memasuki pasar negara EAC, mulai urutan tertinggi, ialah minyak kelapa sawit dan turunannya, kertas, mesin dan peralatan mesin, serat stapel, bahan kimia dan turunannya, mesin elektronik, produk tekstil dan bahan tenun. 
    
Minyak kelapa sawit dan turunannya berkontribusi paling besar bagi ekspor Indonesia, yaitu US$450 juta atau 76,71% dari seluruh total ekspor Indonesia ke negara EAC. Sementara itu, komoditas lainnya hanya memiliki porsi kecil jika dibandingkan dengan komoditas yang dipasok RRT. 
    
Dengan melihat potensi pasar EAC yang sangat besar, masih terdapat ruang bagi RI untuk melakukan improvisasi dalam upaya menikmati porsi ‘kue’ yang ada di kawasan Afrika Timur. Improvisasi ini akan semakin baik setelah memperhatikan sejumlah tantangan yang teridentifikasi dari dinamika politik dan ekonomi di kawasan EAC. 
    
Beberapa tantangan bagi produk RI memasuki pasar kawasan EAC, antara lain ketentuan standardisasi produk yang tidak sama antarnegara EAC, perubahan tarif impor kerap terjadi, serta ketentuan pembentukan dan implementasi perjanjian perdagangan dalam EAC. 
     
Setelah memahami dinamika politik dan ekonomi seraya mengidentifikasi tantangan bagi produk-produk RI di kawasan EAC, perlu terobosan dan pendekatan khusus membidik pasar di kawasan ini. Sejalan misi pemerintah membidik pasar Afrika, maka pendekatan khusus perlu diterapkan bagi produk dan pengusaha yang ekspor ke kawasan ini.
    
Untuk itu, sejumlah langkah yang dapat dipertimbangkan sebagai upaya membangun landasan kuat bagi produk RI memasuki kawasan Afrika khususnya EAC, antara lain, internalisasi standar produk RI di EAC, intensifikasi promosi dagang di kawasan EAC, pemberian insentif bagi eksportir produk RI ke kawasan Afrika. Selain itu, diversifikasi komoditas unggulan RI disertai kajian ekspor yang komprehensif. 
     
Oleh sebab itu, dengan menghadirkan pendekatan yang mumpuni, Indonesia dapat bangkit dari kursi penonton untuk ikut menikmati manisnya ‘kue’ perdagangan di kawasan EAC.  

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More