Menekan Pertumbuhan Penderita Gagal Ginjal

Penulis: Djoko Santoso Guru Besar FK Unair,  Pendiri rumahginjal.id Pada: Sabtu, 16 Mar 2019, 03:20 WIB Opini
Menekan Pertumbuhan Penderita Gagal Ginjal

Thinkstock

SAAT seseorang terkena penyakit gagal ginjal, yang dibayangkan ialah bagaimana menghadapi situasi yang berat ini. Tiap minggu harus cuci darah dengan biaya yang mencekik leher. Jika sudah terkena gagal ginjal kronis, hidup rasanya penuh penderitaan.

Jumlah penderita gagal ginjal kronis di Indonesia terus meningkat. Laporan keuangan BPJS 2016 menunjukkan, pada 2013 ada 15.128 pasien baru gagal ginjal, dan meningkat jadi 17.193 pasien pada 2014. Naik lagi menjadi 21.050 pada 2015, dan terus naik menjadi 25.446 pasien pada 2016. Angka pertumbuhan yang fantastis.  

Celakanya, mayoritas penderita gagal ginjal kronis ialah usia produktif. Data 7th Report of Indonesian Renal Registry 2014 menunjukkan, 56% penderita gagal ginjal berusia di bawah 56 tahun. 

Menyedot biaya 
Gagal ginjal belum masuk lima besar penyakit yang paling banyak diderita di Indonesia. Urutan rankingnya berturut-turut ialah stroke, jantung, diabetes, TBC, dan hipertensi. Penyakit gagal ginjal juga belum masuk jajaran teratas penyakit penyebab kematian, yang juaranya ialah stroke, dan disusul penyakit jantung.

Namun, gagal ginjal menempati juara kedua sebagai penyakit yang paling banyak menyedot biaya. Menurut Laporan Keuangan BPJS Kesehatan 2016 di atas, penyakit jantung sebagai juara pertama menyedot anggaran BPJS sebesar Rp7,48 T. Sedang penyakit gagal ginjal sebagai juara kedua menyedot anggaran Rp2,59 T. Kemudian diikuti oleh penyakit kanker sebagai juara ketiga yang menyedot Rp 2,35 T.

Jika dibandingkan dengan penyakit yang menempati deretan teratas penyebab kematian, penyakit gagal ginjal jauh lebih menyedot biaya. Bandingkan misalnya dengan penyakit diabetes yang masuk kategori ‘silent killer’. 

Pada diabetes, pengobatan dan perawatannya tak begitu mahal, asal bisa disiplin. Paling hanya siap-siap insulin, mencegah atau mengurangi konsumsi gula dan makanan yang mengandung gula. Minum teh tawar atau air putih malah ngirit. Penderita diabetes lebih dituntut untuk disiplin, baik dalam pencegahan, perawatan, maupun pengobatan. 

Ini sangat berbeda dengan pasien yang sakit gagal ginjal. Untuk pencegahan bagi yang masih sehat, bisa dengan minum air rendaman seledri atau peterseli secara rutin. Akan tetapi, jika sudah stadium gagal ginjal kronis, pasien harus melakukan cuci darah. Bisa seminggu sekali walaupun ini tidak dianjurkan, bisa juga seminggu 2 kali, dengan biaya yang tak murah. 

Biaya sekali cuci darah menurut layanan BPJS sekitar Rp700 ribu sampai Rp750 ribu. Di luar fasilitas BPJS, biayanya bisa mencapai Rp1,2 juta sekali cuci darah. Jika seminggu sampai dua kali cuci darah, berarti sebulan menyedot biaya Rp6 juta (BPJS) atau Rp9,6 juta jika non-BPJS.  Belum biaya obat dan layanan perawatan lainnya.     

Bisa dibilang, gagal ginjal ialah ‘penyakitnya orang kaya’. Orang miskin janganlah sampai sakit gagal ginjal, kecuali jika ikut fasilitas BPJS.

Karenanya, harus ada peta jalan (road map) untuk menekan pertumbuhan penderita gagal ginjal. Yang sudah terkena, tentu harus ditangani dengan pengobatan dan perawatan. Namun, harus ada langkah besar untuk mencegah agar yang masih sehat jangan sampai terkena. Langkah preventif inilah yang harusnya ditata dengan perencanaan kebijakan dan strategi yang  tepat. 

Strategi pencegahan ialah strategi untuk mengurangi faktor penyebabnya. Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2004 menunjukkan, konsumsi minuman bersoda dan berenergi lebih dari tiga kali per bulan, meningkatkan risiko terkena gagal ginjal hingga 25 kali. 

Penelitian lain di Yogyakarta pada 2008 menunjukkan, orang yang mengonsumsi minuman suplemen berenergi, risiko terkena gagal ginjalnya meningkat 6,6 kali lebih tinggi. 

Survei Komunitas Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) 2005 terhadap 9.412 responden menunjukkan bahwa 12,5 % warga sudah mengalami penurunan fungsi ginjal. 

Menurut laporan BPJS Kesehatan di atas, tiga penyebab utama gagal ginjal ialah hipertensi (44%), diabetes (22%), dan obesitas (15,4%). Jadi, penderita hipertensi dan diabetes, jika tidak tertangani dengan baik, bisa berlanjut ke gagal ginjal. 

Kita ketahui, hipertensi dan diabetes sangat terkait dengan pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Sederhananya, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat bisa memicu terkena hipertensi dan diabetes. Selanjutnya, jika hipertensi atau diabetesnya tidak bisa ditangani dengan baik, sangat potensial menuju ke gagal ginjal. 

Yang disebut ‘bisa ditangani dengan baik’, bukan harus berarti sembuh total. Contoh, pengidap diabetes bisa tetap hidup sehat jika disiplin membatasi asupan gula, dan rutin beraktivitas fisik yang cukup. Nah, mengontrol asupan gula, garam, dan obesitas sangat membantu untuk mencegah ke tahapan gagal ginjal.  

Kebijakan preventif dan promotif 
Kebijakan preventif dan promotif, diharapkan bisa menekan pertumbuhan penderita gagal ginjal. Misalnya, perluasan kampanye secara masif tentang pengenalan dan deteksi dini gejala awal yang potensial memicu gagal ginjal. Masyarakat diajak untuk mendeteksi tubuhnya sendiri sejak dini, apakah ada gejala awal yang bisa mengarah ke gagal ginjal.

Jika terdeteksi sejak awal, langkah perawatan dan pencegahannya tentu lebih mudah ketimbang jika sudah akut. Secara periodik minum rendaman air seledri, misalnya, dipercaya bisa membantu kesehatan fungsi ginjal. Pedoman praktis untuk mengenali, deteksi dini, dan pencegahan gejala gagal ginjal, perlu diproduksi dalam berbagai bentuk dan disebar seluas mungkin ke publik.

Lebih dari itu, diperlukan upaya bersama antarpihak. Kalangan swasta terus mendorong riset di Perguruan Tinggi untuk menemukan dan memperbaharui teknologi yang bisa makin meringankan penderita gagal ginjal. Semoga pada laporan BPJS tahun depan, tercantum kalimat bahwa laju pertumbuhan pasien baru gagal ginjal, menurun angkanya. 
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More