Kayu masih Mendominasi Furnitur pada 2019

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Jumat, 15 Mar 2019, 09:35 WIB Ekonomi
Kayu masih Mendominasi Furnitur pada 2019

ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Tahun ini modern minimalis yang mengombinasikan semen, batu, dan kayu diminati konsumen karena kesan ruangan menjadi lebih ringan dan tidak monoton.

Membuat desain furnitur yang berbeda, berkarakteristik, tetapi tetap tampil mewah menjadi ide bagi CV Re-Born furnitur asal Jepara yang setia menggunakan daur ulang kayu jati tua berkualitas tinggi sebagai bahan dasarnya.

Menurut staf dan penggagas konsep dekorasi kombinasi mebel dan tegel atau tile Happy Kritian Ardianto, konsumen Eropa meminati konsep estetika pada furnitur. Itu membuat mereka lebih senang dengan perabot rumah yang terlihat antik dan natural.

Di antara dominasi pameran furnitur yang terbuat dari kayu, besi, dan rotan dengan warna-warna pastel, tampak stan itu cukup mencuri perhatian. Mereka menampilkan papan-papan kayu dengan hiasan di tengahnya penuh dengan susunan ubin warna-warni. Ternyata papan tersebut merupakan alas penutup untuk menjadi meja makan.

Tetap mengangkat bahan dasar kayu, stan itu memberikan warna-warni pudar ala 1980-an dari rangkaian tegel dengan ciri khasnya yang klasik dan unik. Tegel membawa kesan rumah di masa lalu bagi sebagian orang di Indonesia.

"Sebenarnya, ini konsep baru mengombinasikan kayu dengan keramik dan tegel. Pengembangannya dilakukan sejak tahun lalu, tapi baru berani kami luncurkan tahun ini karena mencoba market yang baru," ujar Happy ditemui di booth CV Re-Born pada pameran di Indonesia International Furniture Expo (Ifex) 2019 di Jakarta International Expo Kemayoran, kemarin.

Pasar Eropa, lanjutnya, menyenangi produk-produk yang terbuat dari bahan alam. "Sepertinya selama pameran, produk ini menjadi trendsetter karena kami kebanjiran buyer dari Eropa, AS, Spanyol, yang tertarik pada produk terbaru ini," paparnya.

Baca juga: Produk Tembakau Alternatif Perlu Dapat Perhatian

Penggunaan daur ulang kayu jati banyak ditampilkan pada booth-booth pameran di Ifex 2019 karena dia mampu beradaptasi pada suhu ruang luar (outdoor). Sementara itu, untuk tegel/ubin, mereka mereproduksi untuk disesuaikan dengan bahan kayu, dari komposisi berat hingga ketahanan dengan cuaca panas dan beku 0 derajat sekalipun."Kami terbuka untuk furnitur apa pun, baik cabinet sederhana, yang bisa dipijak seperti tangga, dresser, maupun meja makan," paparnya.

Untuk kisaran harga, toko itu memasang mulai US$7 (Rp99.610) untuk dekorasi mangkuk-mangkuk dari kayu ringan, US$980 (Rp13,9 juta) untuk cabinet dan dresser yang besar. Untuk sebuah meja makan tegel, dipasang harga US$388 (Rp5,5 juta).

Sayangnya, karena lisensi perusahaan ialah untuk ekspor, mereka tidak melayani pembelian terutama satuan untuk lokal. Alasannya, beban pajak yang harus ditanggung pembeli akan sangat besar.

Modern minimalis

Tren penggunaan kayu dan desain modern minimalis, menurut Dedy Arianto, Quality Coordinator dari Kaysa Collection by furniture-trading Gmbh, Jerman, memang menjadi minat para pembeli luar negeri.

Mengangkat konsep pemanfaatan dari sumber daya alam sekitar, pabrik mereka yang berada di Yogyakarta mengandalkan material batu kali dari Gunung Merapi, kayu limbah dari hutan, dan akar pohon kayu jati.

"Kombinasi dari permintaan konsumer dan konsep-konsep yang sudah berjalan, tiap tahun berubah temanya. Tahun ini konsep kami lebih ke modern minimalis sehingga kesan ruangan menjadi lebih ringan dan tidak monoton, mengombinasikan semen batu dan kayu," ujar dia, saat ditemui di booth-nya.

Barang-barang kayu ringan, dikombinasi dengan besi ataupun semen, menjadi favorit permintaan ekspor ke Eropa untuk pasar desain apartemen minimalis, sedangkan bahan berat akar kayu utuh masih besar permintaannya untuk pasar AS.

Sasaran produk mereka 90% dikerahkan untuk ekspor. Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Bila furnitur merupakan kombinasi kayu dan besi ringan, akan lebih murah, yaitu mulai Rp500 ribuan.

Namun, bila materialnya full kayu dengan tingkat kesulitan pembuatannya dihargai mulai Rp4,5 juta hingga lebih dari Rp25 juta untuk furnitur yang terbuat dari akar pohon jati utuh tanpa sambungan kayu. "Bahan mentah akar pohon jati itu sekitar Rp10 jutaan per item," jelas Dedy.

Salah satu pembeli yang ditemui dalam pameran, Vera Tjahjono dari PT Samudera Mahkota Beach, mengaku berkeliling pameran untuk mengumpulkan perabot outdoor untuk hotel di Bali milik perusahaan tempat dia bekerja. "Saya cari-cari sumber furnitur dari pameran ini untuk ruangan indoor dan outdoor tempat hotel saya bekerja," ujar perempuan yang datang dari Surabaya itu.

Soenoto, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), mengatakan lima negara teratas yang paling banyak kunjungannya selama pameran antara lain berasal dari AS, Australia, Tiongkok, dan sisanya negara-negara Eropa dengan total kunjungan mencapai 12 ribu pengunjung. "Kami senang dengan transaksi yang terjadi, diestimasikan transaksi on the spot sebesar US$300 juta (Rp12,7 triliun), sedangkan yang berupa perjanjian atau kotrak beli sebesar US$800 juta (Rp3,4 triliun). Tapi kami perkirakan total jumlahnya lebih dari itu," jelas Soenoto. (S-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More