Kamis 14 Maret 2019, 07:40 WIB

Xander's Kitchen: Berdampak lewat Memasak

Hilda Julaika | Indonesia 2018
 Xander

DOK PRIBADI

Resep killer soft bread yang populer dengan kelezatan dan serat yang halus ini berhasil mengantarkan Junita terkenal di Instagram Indonesia.

JIKA Anda penggemar kuliner, pasti tidak akan asing dengan Xander's Kitchen. Akun Instagram itu kerap membagikan potret-potret masakan ala rumahan beserta resepnya secara lengkap pada keterangan foto. Tidak ayal, akun itu terhitung berpengaruh, bahkan menjadi titik awal terciptanya buku resep mega-seller berjudul Home Cooking ala Xander's Kitchen. Media Indonesia berkesempatan mewawancarai sosok berdampak di balik akun itu, Junita, beberapa saat lalu.

Pada 2014, seorang ibu rumah yang gemar memasak, Junita, membuka akun media sosial Instagram. Akun itu ia gunakan untuk mengabadikan foto-foto masakan yang telah dibuatnya tanpa resep. Barulah pada 2015, tengah ada resep roti fenomenal bernama killer soft bread. Junita berinisiatif untuk mengolah ulang dan mengunggah potret roti tersebut di Instagram. Resep roti yang populer dengan kelezatan dan serat yang halus itu berhasil mengantarkan Junita terkenal di Instagram Indonesia.

"Lantas killer soft bread itu booming, sejak saat itu Xander's Kitchen itu jadi muncul terus karena yang reback itu ribuan selama 3 bulan itu, bahkan dilakukan setiap hari. Jadi, roti ini memang prosesnya mudah, hanya fermentasi satu kali. Karena resep itu, nama Xander's Kitchen ini terus melambung," cerita ibu dengan tiga anak ini.

Setelah semakin rutin dalam mengunggah masakan, Junita berpikir membagikan foto masakan dinilainya masih kurang bermanfaat. Alhasil, dirinya memutuskan untuk membagikan foto makanan buatannya disertai dengan resep secara rinci. Tujuannya memberikan informasi kepada para pengikutnya. Kesadaran itu ia peroleh, ketika dulu sempat belajar memasak secara autodidak. Namun, dirinya kesulitan dalam memperoleh resep masakan. Untuk itu, ia ingin ikut membantu followers-nya yang memang ingin belajar memasak.

Dirinya pun cukup kaget karena resep miliknya membuat para pengikutnya di Instagram semakin antusias. Hal ini disebabkan resep-resep yang dibagikan ialah resep masakan sehari-hari dan mudah untuk ditiru di rumah. Sejak saat itu, pengikutnya semakin bertambah banyak hingga ratusan ribu pengikut.

"Pemilihan nama Xander's Kitchen itu dari nama tengah ketiga anak saya, Xander. Jadi, biar lebih mudah saja," tukasnya.

Melihat perjalanan mengesankan dirinya saat ini, Junita bercerita dirinya awalnya tidak menggeluti bidang kuliner. Dirinya merasa jenuh dan bosan saat harus menyajikan menu masakan yang monoton untuk keluarganya. Ia pun memutuskan untuk belajar secara mandiri dan mengikuti resep dari sang ibunda.

Ia pun menggunakan waktunya sebagai ibu rumah tangga (IRT) untuk menggeluti hobi barunya itu. Kegagalan demi kegagalan saat itu sudah biasa baginya. Hingga saat ini, ia bisa mengkreasikan berbagai jenis masakan, khususnya masakan rumahan.

"Saya dulu kuliah di perhotelan, di sana juga belajar soal memasak di mata kuliah kitchen. Tapi tidak jago, jadi saya rajin cari resep di internet dan mencobanya. Ya, gagal juga sudah banyak. Saya pikir beli masakan di luar juga banyak penyedap rasanya, maka saya masak di rumah tanpa itu. Namanya usaha itu tidak ada yang sia-sia. Akhirnya masakan yang saya unggah pun makin beragam," ungkapnya.

Lulusan Akademi Perhotelan Trisakti itu tidak pernah memiliki tujuan untuk menjadi influencer lewat memasak. Dirinya melihat para pengikutnya itu memang membutuhkan resep kreasi dari masakannya. Tak tanggung-tanggung, akun @xanderskitchen diikuti berbagai kalangan seperti selebritas hingga ibu rumah tangga. Junita menggambarkan persentase mayoritas pengikutnya ialah perempuan dengan usia produktif mencapai 80%.

Junita hampir setiap hari konsisten menggunggah resep masakan. Namun, dirinya juga kerap membagikan unggahan lain yang sifatnya sosial dengan membahas topik tertentu. Uanggahan itu biasanya memiliki relasi dengan kehidupan sehari-hari juga kerap mendapatkan banjir komentar dari para pengikutnya. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More