Minggu 10 Maret 2019, 06:40 WIB

Banjir Luapan Bengawan Solo Meluas

M Ahmad Yakub | Nusantara
Banjir Luapan Bengawan Solo Meluas

MI/M Yakub

 

KENDATI banjir di sebagian daerah di Jawa Timur mulai surut, luapan Bengawan Solo justru semakin meluas di beberapa wilayah.

Di Bojonegoro, kini ada 16 kecamatan yang terendam banjir dan sejumlah desa terisolasi karena akses jalan terendam banjir hingga 70 cm.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Eko Susanto, mengatakan 16 kecamatan yang tergenang berada di sepanjang bantaran Bengawan Solo. Sebanyak 1.382 keluarga terdampak banjir dan lebih dari 2.000 hektare persawahan terendam.

Selain di Bojonegoro, luapan Bengawan Solo juga menyebabkan banjir di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Banjir menyebabkan jalan penghubung antarkabupaten berubah bak sungai.

Banjir juga merendam sedikitnya 100 hektare areal persawah­an di kawasan setempat. Untungnya, sebagian tanaman padi sudah selesai di panen. “Dampak banjir ialah jalan antarkabupaten sampai Kecamatan Sarirejo terendam,” kata Plt Kepala Pelaksana Harian Kantor BPBD Lamongan, Zaini.

Sementara itu, pencarian korban longsor di Kampung Culu, Desa Tonong Belang, Kecamatan Mbliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur masih dilanjutkan. TIM SAR gabungan dibantu masyarakat dan Satpol PP ikut membantu proses pencarian empat orang yang diduga masih tertimbun.

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Dula, hadir menyaksikan proses pencarian didampingi Kapolres AKB Julisa Kusumo Wardono. Pencarian dilakukan dengan cara manual dan hingga kini masih nihil.

Selain pencarian, bantuan untuk para korban bencana longsor terus berdatangan. Tim Reaksi Cepat PT PLN Unit Induk Wilayah NTT menyerahkan bantuan pangan dan obat-obatan untuk 500 warga di pengungsian.

Bencana banjir dan longsor di banyak wilayah di Indonesia dipicu oleh hujan dengan intesitas tinggi yang dipengaruhi madden julian oscillation (MJO). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun terus mengingatkan masyarakat mewaspadai bencana hidrometeorologi yang masih bisa terjadi.

MJO ialah variabilitas antar-musim di wilayah tropis yang bergerak dari barat ke timur. Hal ini terjadi karena interaksi antaratmosfer dan ­lautan. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, mengatakan MJO yang tumbuh dan berkembang di Samudra Hindia sejak beberapa hari lalu menyebabkan peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat.

“Beberapa daerah yang diprediksi akan mengalami curah hujan tinggi ialah DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua,” kata Mulyono, kemarin. (YK/PO/JL/JS/AD/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More