Bagi-Bagi Lahan

Penulis: Ono Sarwono Pada: Sabtu, 09 Mar 2019, 22:50 WIB Opini
Bagi-Bagi Lahan

BARANGKALI tidak pernah terlintas dalam benak Prabu Bharata, pendiri Negara Astina, bahwa tanah milik negara dibagi-bagi untuk kalangan elite tertentu. Astina terjangkiti praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) seperti itu ketika rezim Kurawa berkuasa.

Pemerintahan Prabu Duryudana mengabaikan konstitusi negara yang menggariskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Elite negara membancaki kekayaan negara demi memakmurkan diri.

Akibatnya, sengketa lahan semakin banyak. Pada gilirannya, rakyat yang menjadi korban. Yang menggiriskan, rakyat yang sebenarnya hanya menuntut hak-haknya, tetapi malah dijadikan musuh elite penguasa lahan. 


Merampas kekuasaan

Syahdan, bangsa Astina berbelasungkawa atas meninggalnya sang raja Prabu Pandudewanata. Ketika itu pembangunan Astina sedang menuju tahap tinggal landas, menjadi negara yang adil dan makmur. Rakyat menyongsong dengan gembira ria akan datangnya zaman keemasan itu.

Namun, mangkatnya Pandu seolah menghentikan nadi arteri harapan dan kegembiraan rakyat. Tidak diduga Pandu, yang sejak dilantik digadang-gadang menghadirkan kemakmuran rakyat, harus meninggal dunia di usia muda. Kelima putranya dari dua istri (Kunti dan Madrim) pun masih anak-anak. Pandu gugur saat berselisih dengan Raja Pringgondani Prabu Tremboko. Permusuhan antarraja itu terjadi akibat fitnah keji yang disemburkan Trigantalpati, yang kelak kondang dengan nama Sengkuni.  
 
Bakubunuh yang menewaskan keduanya itu sungguh dramatis. Mereka telah menjalin persahabatan yang panjang dan harmonis. Bahkan, Tremboko, yang berwujud raksasa, mengaku bahwa Pandu ialah gurunya. Itu terkait dengan kerapnya Tremboko ngangsu kawruh(menimba ilmu) dari Pandu.

Pandu dan Tremboko tidak menyadari bahwa mereka diadu-domba oleh Trigantalpati. Tujuannya ialah merebut kekuasaan Astina. Ini misi rahasia yang dijalankan Trigantalpati setelah mendapat mandat dari Gendari, kakaknya. Gendari, istri Drestarastra (kakak Pandu), menginginkan anaknya (Kurawa) harus menjadi raja Astina.

Sebelum meninggal, pada suatu ketika Pandu pernah berwasiat kepada Drestarastra. Pesannya, bila dirinya mati dan kelima anak-anaknya (Pandawa) masih kecil, Drestarastra untuk sementara yang mesti memegang kendali pemerintahan. Bila Pandawa sudah menginjak dewasa, kekuasaan Astina diberikan kepada mereka.   

Momentum itulah yang kemudian dimainkan Trigantalpati. Garis politiknya, Pandawa yang merupakan ahli waris takhta Astina harus disingkirkan dari muka bumi. Namun, target yang harus segera dieksekusi adalah kekuasaan Astina berada dalam genggaman Kurawa.

Siang malam Trigantalpati merancang strategi pembunuhan Pandawa. Satu kali gagal, cara lain dicoba. Begitu terus yang ia lakukan. Ia bukan hanya penyusun dan pengatur strategi, tetapi juga komandan lapangan.  

Atas kegigihan dengan cara-cara keji Trigantalpati, Kurawa akhirnya berhasil menguasai Astina. Sulung Kurawa, Kurupati, dinobatkan sebagai raja bergelar Prabu Duryudana, sedangkan Trigantalati dihadiahi jabatan sebagai patih bernama Sengkuni. Pandawa terusir dari Astina.       
  

Menjarah negara

Di era Duryudana inilah Astina benar-benar menjadi santapan. Semua anggota keluarga Kurawa yang berjumlah seratus orang mendapat hak-hak khusus. Begitu juga kroni-kroni mereka. Inilah cara mereka menikmati kekuasaan. Rakyat menjadi urusan belakang.

Di antara kebijakan Duryudana yang ‘monumental’ adalah pembagian lahan besar-besaran kepada keluarganya. Adik-adiknya rata-rata mendapat jatah hingga ratusan ribu hektare. Misalnya, Dursasana, adik yang paling disayang, mendapat lahan di wilayah Banjarjunut yang subur.

Kemudian Durmagati, yang cirinya berbicara sengau, berhak atas lahan di wilayah Sobrahblambangan. Keluarga Kurawa lainnya, di antaranya Citraksi kebagian lahan di Carangmanis, Citraksa di Caranggaglah, Kartamarma di Tirtatinalang, dan Tirtanata di wilayah Sindu.  

Lahan dengan luas puluhan ribu hektare juga dibagikan kepada adik-adik Duryudana lainnya, seperti Durmuka, Dursaya, Dursala, Durjaya, Dursilawati, Durmasama, Durgempo, Durmana, Dursara, Durbahu, Durkundha, Durmada, dan lainnya.

Adapun di antara kroni Kurawa yang mendapatkan lahan adalah Karna Basusena. Panglima perang Astina itu memiliki lahan di wilayah Awangga. Sementara itu, Bambang Kumbayana alias Durna, yang menjabat sebagai paranpara, diberi hak wilayah Sokalima. 

Pada umumnya, Kurawa memanfaatkan lahan mereka dengan suka-suka. Misalnya, mereka membabati hutan tanpa menanamnya lagi. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan menggiriskan di hampir seluruh Astina.    
Protes rakyat di sekitar lahan mereka tidak dihiraukan. Malah, bila ada warga yang nekat dan berani melawan, akan menjadi korban kriminalisasi. Rakyat dibuat takut dan tidak berkutik.

Pada bagian lain, Kurawa gemar berfoya-foya. Tanpa bekerja, setiap hari mereka hanya berpesta pora. Kemaksiatan pun terjadi di mana-mana, siang-malam. Mereka juga gemar pamer kekayaan dan kemewahaan di tengah-tengah rakyat yang kian menderita.   

Sesepuh Astina, Dewabrata alias Bhisma, ahli waris sejati takhta Astina, berulang kali mengoreksi kebijakan oligarkif tersebut. Ia ingatkan bahwa tanah dan air serta kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk kemakmuran rakyat. Namun, Duryudana menganggap nasihat itu seperti nyamuk pengganggu, angin lalu.  

Tidak tahan menjamurnya praktik KKN, Bhisma yang sesungguhnya berhak tinggal di istana dengan segala fasilitasnya, akhirnya memilih tinggal di wilayah terpencil, Dusun Talkanda. Di sana ia hidup apa adanya dengan ditemani sejumlah cantrik yang hanya mengandalkan hasil panen dari aneka tanaman di kebun.   


Prabu Kalimataya

Seiring dengan berjalannya waktu, rezim Kurawa akhirnya runtuh, bahkan lenyap, persisnya setelah perang Bharatayuda berakhir. Pandawa dengan gagah perkasa merebut kembali kekuasaan atas Astina. Kemudian muncullah pemerintahan baru di bawah kepemimpinan sulung Pandawa, Puntadewa, yang bergelar Prabu Kalimataya. Negara pun berganti nama Yawastina.

Salah satu program prioritas yang diluncurkan Kalimataya adalah negara mengontrol atau mengambil kembali semua lahan yang semula diberikan kepada para elite Kurawa. Lahan dengan segala kekayaan yang ada di dalamnya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat.

Setelah semua kebobrokan Astina akibat rezim Kurawa diperbaiki, Prabu Kalimataya memutuskan diri lengser keprabon, turun takhta. Estafet kepemimpinan diberikan kepada Parikesit, cucu Arjuna. (M-2) 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More