Sabtu 09 Maret 2019, 06:40 WIB

Banjir di Tol bukan lantaran Salah Desain

Nur Aivanni | Nusantara
Banjir di Tol bukan lantaran Salah Desain

ANTARA FOTO/Siswowidodo

 

PEMERINTAH me­nyimpul­kan bahwa banjir yang melanda setidaknya 15 kabupaten di Jawa Timur, termasuk ruas Tol Ngawi-Kertosono, disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Terendamnya Tol Tran-Jawa di Madiun itu pun bukan karena salah desain.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hari Suprayogi mengatakan tol kebanjiran lantaran Sungai Jeroan tak mampu lagi menampung air hujan.

‘’Kapasitas tampung Sungai­ Jeroan hanya 800 meter kubik per detik, sedangkan curah hujan yang tinggi membuat debit air 1.060 meter kubik per detik,’’ ujarnya.

Dia tegaskan bahwa tol itu sudah memperhitungkan elevasi­nya jika terjadi banjir tahunan. “Kalau banjir tahunan terjadi, itu levelnya di bawah tol.’’

Ruas tol yang terkena banjir pun elevasinya paling rendah. Hari mengatakan, untuk mencegah peristiwa serupa terulang, pihaknya akan memperbaiki secara permanen parapet yang dipasang di sisi kiri-kanan jembatan. Karena terjangan air, parapet jebol sehingga air meluap ke tol.

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Sugiyartanto menyatakan banjir yang melanda ruas Tol Kertosono-Ngawi Km 603 hingga Km 604 bukan karena desainnya tak sempurna.

Menurutnya, pembangunan semua tol sudah terlebih dulu melalui feasibility study dan lolos uji analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal dan uji kelaikan lainnya.

 “Jadi, ini bukan karena tol. Semua persyaratan sudah dilalui secara lengkap. Ini bukan soal desain dari tol itu. Tol hanya terdampak (luapan Sungai Jeroan karena curah hujan yang tinggi) dan sekarang sudah kembali normal,” ucap Sugiyartanto.

Mulai surut
Secara umum, banjir yang melanda Jatim mulai surut termasuk di Kabupaten Madiun. Namun, di beberapa daerah banjir masih tergolong parah. Di Kabupaten Ngawi, misalnya, menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, ketinggian air stabil di posisi 1 hingga 1,5 meter. “Genangan air meluas ke arah kota,” ucapnya di Jakarta.

Di Kabupaten Lamongan, banjir juga masih menggenangi 9 desa di 3 kecamatan, yakni Babat, Laren, dan Maduran setelah tanggul dalam Bengawan Solo jebol. Debit air yang begitu besar dari kawasan hulu membuat status siaga III atau siaga merah.

Menurut Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Lamongan Agud Hendrawan, debit air pada permukaan Bengawan Solo di kabupaten naik signifikan. Tanggul sungai pun jebol di Kecamatan Maduran sepanjang 70 meter sehingga banjir menerjang permukiman. ‘’Yang jebol itu tanggul dalam, bukan tanggul utama Bengawan Solo,’’ terangnya.

Begitu pula di Kabupaten Tuban, banjir luapan Bengawan Solo menggenangi 5 kecamatan, yakni Soko, Parengan, Rangel, Plumpang, dan Widang dengan ketinggian hingga 1 meter. Banjir juga merendam sedikitnya 1.300 hektare lahan pertanian. Di wilayah Tuban, permukaan bengawan berstatus siaga II atau siaga kuning.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Joko Ludiyono menyatakan ketinggian air semakin meningkat seiring dengan naik­nya permukaan Bengawan Solo. ‘’Terlebih pada beberapa kawasan di hulu sungai juga dalam status siaga merah banjir. Berdasarkan pengamatan sore ini, genangan naik kembali, tetapi belum ada warga yang mengungsi.’’
Untuk mencegah agar banjir tak lagi melanda secara masif, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan perlunya tiga sodetan baru di Bengawan Solo untuk menambah dua sodetan yang sudah ada. Namun, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Charisal A Manu mengaku pihaknya belum bisa memberi­kan jawaban soal usulan itu. (Tim/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More