Menuju Semenanjung Korea Damai dan Terbuka

Penulis: Endi Haryono Dosen Program Studi Hubungan Internasional, President University. Pada: Rabu, 27 Feb 2019, 01:30 WIB Opini
Menuju Semenanjung Korea Damai dan Terbuka

SAUL LOEB / AFP

WAJAH baru Semenanjung Korea yang damai segera hadir dengan pertemuan kedua antara Presiden Korut Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump, di Hanoi, Vietnam, 27-28 Februari 2019.
    
Tiga negara yang berkepentingan langsung atas Semenanjung Korea, termasuk Korsel, hanya punya opsi penyelesaian damai yang sesungguhnya telah dirintis lama: Semenanjung Korea tanpa senjata nuklir, damai, demokratis, dan pasar terbuka.
    
Karena dinamika global dan perubahan domestik di Korut, negara-negara ini tidak punya opsi mundur. Pilihan yang sama juga ada pada China dan Jepang. Menunda lebih lama lagi kesepakatan damai akan menjadi beban ekonomi bagi semua pihak.
   
Krisis Semenanjung Korea berawal pada perang saudara Korsel versus Korut tahun 1950-1955 yang secara teknis belum berakhir. Ditambah lagi, kepemilikan senjata nulir oleh Korut dianggap sebagai ancaman keamanan bagi AS, Jepang, dan sekutunya.
    
Sejumlah upaya perdamaian untuk mengakhiri krisis telah dilakukan di masa lalu, tetapi belum berhasil. Berbeda dengan inisiatif-inisiatif perdamaian sebelumnya, inisiatif terakhir ini mendapatkan dukungan sangat kuat dari Seoul, yang terjebak dalam dilema tawar-menawar keamanan antara Trump dan Kim Jong-un.  

Panmunjon declaration
Terobosan untuk penyelesaian krisis Semenanjung Korea memang hadir dari pertemuan pertama antara Trump dan Jong-un di Singapura pada Juni 2018. Kendati demikian, dasar menuju perdamaian Semenanjung Korea sesungguhnya telah diletakkan secara kuat oleh pemimpin dua Korea generasi sekarang.
     
Dasar itu tertuang dalam sebuah dokumen yang disebut Panmunjon Declaration. RI harus mengambil peran dan inisiatif perdamaian Korea berangkat dari dokumen ini.
    
Deklarasi yang ditandatangani pemimpin kedua negara Korea pada 27 April 2018 di Panmunjon ini memuat sejumlah kesepakatan penting dan mendasar. Pertama, Korsel dan Korut akan memulihkan kembali hubungan darah rakyat kedua negara. Dan menuju kesejahteraan bersama serta reunifikasi yang dituntun kehendak bangsa Korea sendiri dengan memfasilitasi hubungan antarKorea yang komprehensif. Dan belum pernah dibuat sebelumnya. Meningkatkan dan menumbuhkan hubungan antarkedua Korea.
     
Kedua, Korsel dan Korut akan membuat upaya bersama untuk meredakan ketegangan militer yang akut dan mengakhiri bahaya perang di Semenanjung Korea.
     
Ketiga, Korsel dan Korut sepakat untuk bekerja sama secara aktif mewujudkan perdamaian permanen dan kuat di Semenanjung Korea. Mengakhiri keadaan gencatan senjata yang tidak biasa dan membangun sebuah tata perdamaian yang kuat di Semenanjung Korea sebagai sebuah misi sejarah yang tidak dapat ditunda lagi.

Perubahan di Korut
Dunia terus berubah dan sistem politik internasional terus mengalami transformasi. Baik karena perubahan konstelasi politik dan terutama karena revolusi penggunaan internet, yang antara lain ditandai perluasan penggunaan sosial media.
    
Kendati demikian, faktor terpenting menuju terbentuknya kondisi menuju perdamaian di Semenanjung Korea adalah karena perubahan domestik di Korut sendiri.
     
Menyusul krisis pangan setahun sebelumnya, sejak awal tahun 2018 Korut telah membuat perubahan-perubahan politik condong pada ekonomi terbuka, akomodasi partisipasi politik terbatas, perdamaian korea, dan kerja sama internasional dengan AS dan sekutunya.
     
Adopsi atas ekonomi terbuka yang terbatas, saat rakyat diberikan kebebasan untuk membangun usaha-usaha swasta dalam skala kecil dan menengah, telah membantu meningkatkan produksi pertanian dan industri, serta meringankan beban ekonomi negara.
     
Keterbukaan ekonomi ini berimplikasi pada keterbukaan komunikasi dan politik yang mengubah wajah Korut menjadi berbeda dibandingkan satu atau dua dekade sebelumnya.
    
Keterbukaan ini juga meningkatkan bantuan dan transaksi ekonomi lintas-batas antara Korut, Korsel, dan Jepang. Juga, tentu saja dengan sekutu tradisionalnya, China. Hubungan-hubungan ekonomi ini, dan juga bantuan kemanusiaan, dengan tiga negara itu sangat membantu Korut melewati kesulitan ekonomi yang dihadapi.      
     
Berbeda dengan di masa lalu, hubungan atau jalinan ekonomi itu tidak lagi sepenuhnya dalam kontrol negara, tetapi melibatkan juga rakyat dan kelompok-kelompok sosial warga di Korut.
     
Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, pemerintah Korsel yang sekarang juga lebih serius dalam merespons perubahan yang berlangsung di Korut. Pemimpin Korea generasi sekarang lebih menanggapi keluwesan dan hasrat Korut pada rekonsiliasi dan perdamaian.
     
Sikap-sikap ini tidak pernah ditunjukkan sebelumnya. Karena itu, perubahan sikap dua negara Korea ini--seperti tecermin pada Deklarasi Panmunjon--menjadi basis terpenting dari awal menuju perdamaian yang sesungguhnya. Perubahan sikap kedua Korea ini yang bakal menentukan lebih lanjut buah dari pertemuan kedua antara Trump dan Jong-un yang akan fokus pencabutan sanksi ekonomi AS terhadap Korut.

Modal penting
Pada perhelatan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta 18 Agustus 2018, ada dua peristiwa yang memberi bobot kontribusi Indonesia untuk perdamaian Korea. Pertama, jabat tangan dua pemimpin pemerintahan (eksekutif) Korsel dan Korut yang bukan hanya disaksikan Presiden Jokowi, tetapi juga jutaan pemirsa televisi di Asia.     
     
Kedua, defile bersama kontingen atlet Korsel dan Korut dalam satu barisan di bawah satu bendera Korea, yang membanggakan bukan hanya kontingen, melainkan juga rakyat dua negara.
    
Indonesia memang memiliki basis untuk turut mendorong perdamaian Korea. Indonesia memiliki kedekatan dengan dua Korea, baik di tingkat non-state maupun antarpemerintahan.
      
Dengan Korsel, Indonesia memiliki hubungan diplomatik, dengan kerja sama politik dan ekonomi yang terus berkembang dan menguat. Banyak warga Korsel bekerja di RI, dan sebaliknya, banyak warga Indonesia bekerja di Korsel. RI dan Korsel memiliki jejaring hubungan akademik yang kuat. Hubungan akademik dan sosial-kultural secara umum, penting dalam menguatkan hubungan dua negara dalam hubungan internasional dewasa ini.
     
Dengan Korut, RI memiliki sejarah hubungan yang panjang dan jejaring hubungan yang kuat juga. Memang, hubungan RI-Korut tidak dalam hubungan ekonomi dengan volume sebesar sekuat Indonesia-Korsel.
      
Pemimpin dan rakyat Korut melihat Indonesia sebagai sahabat. Citra ini menjadi modal sangat penting bagi Indonesia untuk menguatkan hubungan lebih lanjut. Ini modal penting untuk mendapatkan kepercayaan mengambil peran, setidaknya mendorong, perdamaian Semenanjung Korea.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More