Gerakan Muhammadiyah Pascatanwir Bengkulu

Penulis: David Krisna Alka Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah, Peneliti Senior Maarif Institute dan Bergiat di Geotimes Pada: Selasa, 26 Feb 2019, 04:20 WIB Opini
Gerakan Muhammadiyah Pascatanwir Bengkulu

ISLAM berkemajuan jelas melekat dengan sejarah dan perkembangan Muhammadiyah dari dulu hingga kini. Sudah banyak catatan soal Islam berkemajuan yang berkaitan dengan pemahaman awal lahirnya Muhammadiyah yang digagas KH Ahmad Dahlan (1868-1923).

Dalam makalah kuliah umum di Monash University, 16 Februari 2018, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menguraikan tentang pandangan Islam berkemajuan. Inti makalah itu, Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk membangun peradaban yang utama dan menjadi rahmat bagi semesta. Inilah yang disebut ‘Islam berkemajuan’ (Din al-Hadharah) khas Muhammadiyah itu.


Risalah Bengkulu

Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-51 di Bengkulu belum lama ini menghasilkan rekomendasi risalah Bengkulu. Rekomendasi itu diharapkan dapat menguatkan kemajuan Muhammadiyah, yang sudah tentu menyatu dengan gagasan Islam berkemajuan dan beragama yang mencerahkan. Namun pertanyaannya, seperti apa Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan itu?

Masih menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (2018), Islam atau beragama yang berkemajuan itu menjunjung tinggi kemuliaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan tanpa diksriminasi.

Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikeke­rasan, antipenindasan, antiketerbelakangan. Selain itu, anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan.

Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan, dan kebudayaan umat manusia di muka bumi, terutama kebudayaan Indonesia. Kata kunci yang penulis garis bawahi dalam penjelasan Haedar Nashir ini ialah kebudayaan Indonesia.

Jadi, tak cukup sekadar Islam berkemajuan dan beragama yang mencerahkan, tetapi Muhammadiyah juga perlu bergerak lebih cepat dan kuat dalam ranah kebudayaan dengan memanfaatkan segala potensi amal usaha dan gerakan pendidikan yang dimilikinya.


Berkebudayaan

Peran strategis Muhammadiyah sebagai kekuatan masyarakat sipil sangat penting untuk memberi solusi dan jawaban atas berbagai masalah keumatan dan kebangsaan berkaitan dengan kebudayaan, seperti karakter bangsa, kultur kepemimpinan, Bhinneka Tunggal Ika, dan kearifan lokal.

Karenanya, untuk meraih cita-cita Islam berkemajuan, kebudayaan hendaknya menjadi tulang punggung gerakan persyarikatan, yang juga harus diatur dalam kebijakan utama elite Muhammadiyah di pusat maupun daerah. Akan tetapi, bukan dimaknai kebudayaan untuk kepentingan elite-elite Muhammadiyah saja, melainkan juga kebudayaan untuk umat Muhammadiyah dan rakyat Indonesia.

Perlu direnungkan kembali catatan Abdul Munir Mulkhan (2009) yang mengatakan kritik Kuntowijoyo (Muslim tanpa Masjid) bahwa Muhammadiyah ialah gerakan budaya tanpa kebudayaan penting menjadi acuan. Daya kreatif Islam berkemajuan terperangkap birokrasi organisasi, gurita pendidikan, dan rumah sakit sehingga terasing dari kehidupan kebudayaan rakyat. Ya, apalagi kini, kehidupan kebudayaan rakyat kian berkemajuan.

Harapan dan solidaritas perlu terus dipupuk. Gerakan kebudayaan Muhammadiyah hendaknya mampu memelihara keragaman yang merupakan kekayaan bangsa. Sesungguhnya, Muhammadiyah memiliki peluang sangat besar untuk menjadikan negeri ini sebagai pusat dari sebuah peradaban baru yang berkemajuan, di samping perlunya Muhammadiyah mengeksplorasi dan mendayagunakan kekuatan kultural dalam tubuh Muhammadiyah.

Muhammadiyah selalu ada dalam kebudayaan Indonesia. Harapannya selain sebagai pelaku, tapi juga tampil sebagai pilar utama pengawal budaya bangsa, menguatkan kearif­an lokal, toleransi, dan menyebarkan pesan-pesan agung kebudayaan lokal.

Selain itu tentunya, budaya kemajuan juga mesti menjadi nomor satu. Karenanya, generasi muda Muhammadiyah perlu menumbuhkan etos budaya kreatif. Hal itu karena budaya digital tengah mengukuhkan keberadaannya di tengah kemajuan peradaban manusia abad ini. Wallahualam.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More