Penguatan Partisipasi Politik

Penulis: Khoiruddin Bashori Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta Pada: Senin, 25 Feb 2019, 07:30 WIB Opini
Penguatan Partisipasi Politik

Dok. Pribadi

GAGASAN bahwa warga negara mesti aktif terlibat dalam proses politik ialah jantung demokrasi.

Pertanyaannya, mengapa orang memilih ikut serta dalam dinamika politik kebangsaan, sedangkan yang lain apatis?

Terdapat asumsi, partisipasi politik berkaitan erat dengan kemampuan warga bangsa untuk terlibat. Ini berarti orang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi kemungkinan besar akan menjadi lebih aktif dalam proses politik. Karena mereka memiliki waktu, uang, dan/atau keterampilan kewarganegaraan yang diperlukan untuk itu.

Penelitian menunjukkan, orang yang merasa terancam ternyata lebih mungkin terlibat dalam proses politik, dapat melalui menyumbangkan sejumlah uang kepada kelompok kepentingan yang bekerja untuk menghindari ancaman. Karena mereka melihat adanya peluang untuk mengubah kebijakan ke arah yang mereka inginkan.

Di era informasi seperti sekarang ini terdapat kekuatan pendorong yang menopang bentuk-bentuk partisipasi politik baru, yang dalam banyak kasus sangat berbeda dengan bentuk-bentuknya di masa lalu.

Teknologi digital menawarkan peluang terlibat dalam berbagai kegiatan yang berorientasi kemasyarakatan, seperti sekadar mengekspresikan rasa suka (dengan simbol like), bergabung komunitas politik secara online, atau bergabung forum diskusi di dunia maya, pesertanya dapat berkontribusi dalam keterlibatan demokratisnya lebih dalam. Bagi individu, kegiatan demikian dapat menjadi jalur menuju partisipasi yang lebih nyata dalam realitas politik yang sesungguhnya sebagai warga negara yang baik.

Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Sebenarnya motivasi untuk melakukan aktivitas apa pun secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua: intrinsik, yaitu mencari kesenangan, dan ekstrinsik, untuk kepentingan orang lain. Dalam setiap kasus komunikasi persuasif dapat dilakukan berbagai tindakan yang mengarahkan pada dampak yang dikehendaki.

Dalam konteks politik, organisasi politik berusaha meyakinkan warga agar mendukung organisasinya, bergabung kampanye dan menyediakan sumber daya keuangan. Dengan kata lain, faktor yang mendorong orang berpartisipasi dapat berasal dari dalam dan luar.

Upaya memobilisasi pendukung kini dapat dilakukan dengan sangat strategis dan dipercepat secara signifikan dengan mengadopsi media sosial secara masif. Di era digital, organisasi politik tidak hanya berupaya memobilisasi pendukung secara langsung, tetapi juga memanfaatkan para aktivis dunia maya.

Media sosial memungkinkan setiap pengguna untuk memainkan peran sebagai aktivis. Setiap tindakan demikian, dengan sengaja atau tidak, dapat memiliki dampak mobilisasi dukungan pada orang-orang di dalam jaringan online yang mereka miliki. Semakin besar ukuran jaringan, semakin besar peluangnya untuk melakukan mobilisasi.

Theocharis (2015) menggunakan istilah jaringan partisipasi digital untuk menggambarkan “tindakan mengaktifkan jaringan pribadi seseorang melalui media digital dengan tujuan memobilisasi orang lain untuk tujuan sosial atau politik yang merupakan mode partisipasi dengan berbagai manifestasi”.

Motivasi, seperti yang dijelaskan teori determinasi diri, merupakan interaksi antara sikap pribadi terhadap tindakan tertentu dan persuasi eksternal. Motivasi intrinsik bergantung pada sikap pribadi yang memberikan evaluasi hedonis. Misalnya, apakah suatu tindakan itu menarik, menyenangkan atau memberikan kepuasan.

Motivasi ekstrinsik menyarankan orang mencari persetujuan dan penghargaan dari orang lain, dan dalam eksperimen terbukti, semakin besar hadiah semakin tinggi kemungkinan tindakan sebagaimana yang diharapkan.

Meskipun beberapa penelitian menunjukkan, motivasi yang dipandang lebih dominan ialah intrinsik. Berupa mencari kesenangan, realisasi diri dan kesejahteraan pribadi. Namun, dalam studi–studi lebih lanjut diyakini, motivasi intrinsik dan ekstrinsik secara bersama-sama mengatur perilaku meskipun kekuatan dari setiap rangkaian motivasi itu dapat bervariasi.

Ini berarti individu cenderung melakukan tindakan ketika mereka memiliki motivasi intrinsik dan atau ekstrinsik yang kuat. Sejauh mana orang menjadi termotivasi melalui strategi mobilisasi organisasi politik atau rekan dalam jaringan melalui media sosial masih menjadi perdebatan.

Tesis mobilisasi berpendapat akses ke teknologi digital memiliki kapasitas mendorong peserta baru ke dalam kehidupan politik. Khususnya di kalangan warga yang lebih muda (Hirzalla dkk: 2010). Tesis ini menyarankan motivasi ekstrinsik cenderung mendominasi.

Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan teknologi digital memperkuat pola perilaku warga yang ada dan melengkapinya; memperkuat komitmen untuk membentuk aktivisme (Dutta-Bergman: 2006). Ketika seseorang memutuskan memberikan suara dalam pemilihan, mungkin didorong sejumlah motif, misalnya alasan pribadi, kedekatan, dsb.

Sarana, motif, dan peluang
Dalam memikirkan mengapa orang berpartisipasi dalam politik, Verba, Schlozman, dan Brady (1995) menyoroti pentingnya sarana, motif, dan peluang. Beberapa orang lebih mungkin berpartisipasi karena memiliki cukup waktu luang untuk dipergunakan dalam aktivitas politik. Uang untuk disumbangkan pada kelompok, atau keterampilan sosial yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan politik.

Sebagian lain terlibat dalam politik karena mereka memang ingin, mereka tertarik pada politik atau khawatir dengan kebijakan pemerintah. Keputusan untuk berpartisipasi dalam politik juga dapat dipahami sebagai masalah motivasi.

Argumen motivasi sering kali diangkat ketika mempertimbangkan keterlibatan warga dalam politik. Ketertarikan warga terhadap persoalan politik dapat ditarik akarnya dari sosialisasi politik yang terjadi di rumah, di sekolah, atau pergaulannya dengan teman. Interaksi positif anak dengan lingkungan keluarga, sekolah dan temannya dapat memunculkan dorongan positif pada diri anak untuk berpartisipasi dalam aneka aktivitas politik.

Beberapa orang berpartisipasi karena melihat ada peluang mendapatkan sesuatu. Kadang keputusan untuk bertindak politis didasarkan beberapa sinyal dari konteks politik yang lebih besar. Apakah itu kontak kampanye dari aktivis partai, perubahan kebijakan publik, atau isyarat politik dari jejaring sosial seseorang.

Bukankah politik sejatinya adalah “siapa memperoleh apa, kapan, dan bagaimana”? Kini salah satu jalur pendorong partisipasi politik yang kuat ialah jejaring sosial. Di era digital, warga dapat memiliki peluang lebih besar untuk dapat berpartisipasi dalam proses-proses politik melalui jejaring sosial.

Dalam demokrasi deliberatif, partisipasi politik dipandang lebih bermakna jika dibandingkan dengan sikap apatis warga negara. Idealnya, nilai dasar demokrasi harus sudah disemaikan sejak awal. Semua pemangku kepentingan sepenuhnya terlibat mendesiminasikan nilai-nilai demokrasi.

Oleh karena itu, salah satu cara memastikan dampaknya akan baik adalah melibatkan tokoh-tokoh kunci di masyarakat. Hasil dan keluaran dari interaksi positif antarkomponen demokrasi ini kemudian disebarluaskan melalui semua jaringan yang relevan, memancing perdebatan publik yang lebih luas, dan pada akhirnya memunculkan keputusan-keputusan politik yang lebih baik.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More