Putu, Politik dan Teror

Penulis: Asep Salahudin Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Pada: Jumat, 22 Feb 2019, 03:45 WIB Opini
Putu, Politik dan Teror

MI/Tiyok

MEMBACA hiruk pikuk politik kita hari ini, akan menjadi sangat menarik dengan menggunakan optik sastra Putu Wijaya, sosok seniman serbabisa yang selama tiga hari berturut-turut (1-3 Maret 2019) kiprah kesenian dan pemikirannya akan diperbincangkan di Bandung.  
Institut Nalar Jatinangor bekerja sama dengan Second House bertempat di Gedung PPK/YPK menggelar pameran, seminar, dan workshop pertunjukan dengan tema utama, Putu Wijaya bertolak dari yang Ada.
    
Dengan bahasa yang mengalir, kita merasakan bahwa apa yang ditulisnya ialah rekaman sejarah pengalaman hidup kita sehari-hari. Menulis dari apa yang terjadi di sekitar. Potret kita sebagai pejabat, penjual tanah, laki-laki yang putus cinta, politikus serakah, agamawan yang sering berpura-pura. Lalu, pelayan rumah tangga yang mimpi-mimpinya tak pernah tiba, sopir yang mewakafkan tubuhnya di jalanan, dan orang yang berbalut jubah kebajikan, tapi di belakangnya main palak, atau kita yang dihinggapi cinta, tapi lupa cinta itu sudah dilucuti dan disimpan entah di mana. Gambaran kita sebagai seseorang yang merasa bermakna manakala sudah hilang dari sebuah pangkuan. ‘Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan, begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang’.
    
Atau Putu yang sedang menggali naluri terdalam setiap manusia yang sering disinggahi sunyi dan belum tentu orang lain merasakan perasaan sunyi yang serupa. Kita sering merasa harus memaksa ‘lian’ agar sehaluan, tapi ternyata mereka berjalan ke tempat berbeda karena mungkin tujuannya tidak sama. Seperti pada ‘stasiun’.
    
“Pernahkah kau merasa sunyi, ya sunyi seperti yang aku rasakan, padahal kamu mempunyai anak-anak, suami, pekerjaan, penghasilan, rumah, keluarga, teman-teman, rencana, dan kedudukan yang terhormat? Sunyi semacam itu, yang kukira dimiliki siapa saja, datang padaku 10 tahun terakhir ini. Tatkala aku berbaring dalam kamar sendiri, dalam terang lampu yang samar, dingin kasur, dan masa depan yang suram. Sunyi ini, ingin kubagikan pada saat ini, tapi kau entah di mana.”

Teror dan revolusi mental
Ketika membaca senarai karya Putu Wijaya, pembaca seperti sedang diteror. Putu Wijaya tidak mengarahkan teror itu pada tubuh, tapi justru pada sesuatu yang menjadi pusat kesadaran manusia: mental. Ini mungkin yang secara prosais dirumuskan Presiden Jokowi dalam platform Revolusi Mental.
    
Bagi saya makna terdalam Revolusi Mental susungguhnya ialah kerja untuk kembali pada hakikat kita sebagai manusia. Pada khitah didirikannya negara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dengan kata kuncinya ‘kesejahteraan umum’, “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kese-jahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial…”.
   
Revolusi Mental sebagai amal sungguh-sungguh menata infrastruktur kognitif-rohaniah dan fisik-bangunan, mendisiplinkan pikiran, dan menertibkan birokrasi. Bagi Bung Karno, rute revolusi mental itu adalah tiga kesaktian: politik berdaulat, ekonomi berdikari, dan kebudayaan yang berkepribadian. Bung Karno menyampaikan itu dengan suara menggelegar dan mungkin diniatkan sebagai teror mental bagi rakyat yang dicintainya.
    
Bung Hatta menempatkan roh revolusi mental itu pada jalan keadilan menyeluruh yang jangkar utamanya ‘daulat rakyat’ seperti dinyatakan pada ‘Sesudah 25 Tahun’ (1972), “Apakah yang dimaksud Indonesia yang adil? Indonesia yang adil maksudnya memberikan perasaan kepada seluruh rakyat bahwa ia dalam segala segi penghidupannya diperlakukan secara adil dengan tiada dibeda-bedakan sebagai warga negara. Itu akan berlaku apabila pemerintahan negara dari atas sampai ke bawah berdasarkan kedaulatan rakyat.”
   
Putu Wijaya tengah mencoba mengaktifkan ingatan kolektif bahwa kerja dan revolusi yang belum selesai dan acap kali terabaikan itu ialah menata mental.
     
Dalam hal ini Putu tidak mempercakapkannya lewat narasi besar dan tema-tema global, tapi justru dianggit dari serpihan pengalaman pahit masyarakat, diambil dari apa yang terjadi di sekitar. Dari obrolan di warung kopi, percakapan di pasar, perbincangan di stasiun, makian di terminal, adu mulut di rumah tangga, transaksi gelap di meja kantor pemerintah, saling mengumpat di persidangan, atau desahan di kamar hotel ketika seorang laki-laki hidung belang sedang menuntaskan hasrat primitif bersama teman mainnya.
     
Kata Putu Wijaya, “Saya ingin mengganggu orang. Bukan hanya membuat orang senang tapi menyiksa orang dengan bermacam-macam pikiran. Saya ingin membuat penonton berpikir. Sampai rumah mereka berpikir bahwa inilah hidup, inilah yang dialami negeri ini.”

Teror dan debat
Walaupun kebanyakan karyanya ditulis pada sebuah masa ketika media sosial belum mengambil alih hidup kita, justru di sinilah letak relevansinya. Analogi bisa menjembataninya. Putu Wijaya seakan tahu bawa hiruk pikuk kehidupan itu sekarang semakin kompleks dengan adanya media sosial.
    
Dahulu perkelahian itu dimuntahkan di dunia nyata sekarang di dunia nyata sekaligus maya. Konflik fisik dan kekerasan simbolis menyatu. Antara fakta dan fiksi serupa: penuh konflik, rumit. Bahkan, seringkali satu tokoh menyembunyikan banyak topeng dengan kesimpulan akhir yang tak terduga.
    
Sedikit saja kita berkunjung ke media sosial, entah itu Facebook, Twitter, atau Whatsapp group, kita akan langsung disergap teror politik lengkap dengan kosakatanya yang dianggit dari dunia satwa.
     
Hari ini politik dibelah dalam relasi bipolar kampret dan cebong. Di mata kampret, petahana tak ada baiknya sama sekali. Begitu juga sebaliknya. Humor mencerahkan hilang digerus sekutu latennya: hoaks. Tentu dalam hoaks sama sekali tak menyisakan jejak kebenaran kecuai sekadar nafsu menyebar kebohongan, pelintiran kebencian, dan upaya tidak henti menularkan ketakutan dan menanamkan pesimisme.
    
Kalau Putu Wijaya bikin senarai karya untuk menteror pembaca agar kembali pada keinsafan menjadi manusia autentik, sekarang justru antarnetizen saling meneror dengan ungkapan nyinyir. Mesin algoritme sosial dengan polanya yang baku kian mengentalkan perkubuan itu.
    
Di titik ini, menjadi menarik untuk mengembalikan teror itu pada kasih sayang, pada relasi kewargaan yang disulam cinta. Orang lain tak semestinya dibaca secara kuantitatif, tapi mereka ialah manusia nyata yang unik, memiliki mimpi, cita-cita, harapan sebagaimana kita semua. Kebencian apa pun bentuknya selalu melahirkan petaka.
    
Akibat kebencian, Nazi dalam Perang Dunia II membantai 6 juta orang. Rezim Khmer Merah 1975-1979 yang dipimpin Pol Pot menghabisi lebih 2 juta orang. Genosida juga terjadi di Rwanda pada 1994 mengakibatkan 800 ribu orang suku Tutsi mati dibantai Hutu.     
    
Peristwa G30S/PKI (1965), Tanjung Priok (1984), dan Kerusuhan Mei (1998) menjadi catatan hitam endemi sejarah bangsa yang menunjukkan bagaimana mesin politik yang kehilangan cinta membantai sesama anak bangsa.
    
Maka, saya sepakat, teror yang dilakukan harus diberangkatkan dari tungku cinta. Seperti yang ditulis Putu Wijaya dalam Klop, ”Artiku tidak bergantung dari kehadiranku, tetapi pada cintaku dan cinta yang diberikan kepadaku yang tak akan pernah tak hadir. Karenanya, sekali aku menyalakan rumah ini, nyala itu akan tetap tak akan pernah padam.”

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More