Kamis 21 Februari 2019, 20:11 WIB

Ancaman Kapal Perang Inggris Menyulut Kemarahan Tiongkok

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Ancaman Kapal Perang Inggris Menyulut Kemarahan Tiongkok

. (Photo by Daniel LEAL-OLIVAS / AFP)

 

MENTERI Keuangan Inggris, Philip Hammond, mengatakan pembicaraan Inggris mengenai pengerahan kapal perang di Pasifik, mempersulit hubungan bilateral dengan Tiongkok.

Padahal jelang perceraian Inggris dari Uni Eropa (Brexit), negara kerajaan itu berupaya memperkuat hubungan diplomatik dan perdagangan dengan negara-negara di seluruh dunia. Mengingat, akan terjadi perubahan besar dalam kebijakan luar negeri dan perdagangan selama 40 tahun terakhir.

Baca juga: Pasukan Suriah Bernegosiasi untuk Membebaskan Tahanan IS

Awal bulan ini, Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson, menyebut pihaknya akan menggunakan kekuatan militer demi mendukung kepentingan domestik pasca implementasi Brexit. Termasuk, rencana pengerahan kapal induk baru di wilayah Pasifik, sebagai upaya London menunjukkan pengaruhnya terhadap Tiongkok.

Media Inggris melaporkan Tiongkok telah membatalkan pembicaraan perdagangan dengan pemerintah Inggris, lantaran terganggu dengan pidato Williamson. Ketika dikonfirmasi radio BBC, apakah ancaman Williamson merusak hubungan Inggris-Tiongkok, Hammond menekankan bahwa ini merupakan hubungan yang kompleks.

"Memang tidak bisa sederhana, mengingat Tiongkok khawatir terhadap penyebaran angkatan laut kerajaan di Laut Cina Selatan," tukas Hammond. Namun, Kementerian Pertahanan Inggris enggan menanggapi pernyataan Hammond.

Kinerja perdagangan Inggris terhadap Tiongkok mencapai rekor tertinggi pada 2017 lalu. Tiongkok merupakan pasar ekspor keenam terbesar bagi Inggris, dengan nilai sebesar 22,3 miliar pounds. Adapun nilai impor Inggris dari Tiongkok tercatat 45,2 miliar pounds.

Dalam pidatonya, Williamson mengumumkan misi pertama kapal induk HMS Queen Elizabeth yang mencakup penugasan di wilayah Mediterania, Timur Tengah dan Pasifik. Pada Agustus lalu, sebuah kapal perang Inggris berlayar dekat Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan, yang diklaim Tiongkok. Langkah tersebut memicu kemarahan Beijing.

Hammong mengungkapkan kekecewaannya terhadap Tiongkok yang terlalu reaktif. "Ini sungguh prematur. Kapal induk tidak memiliki kesiapan operasional utuh dalam beberapa tahun lagi. Tidak ada keputusan yang dibuat atau bahkan dibahas mengenai penempatan awal," cetus Hammond yang menekankan hubungan dengan Tiongkok harus dikelola dengan hati-hati.(Channelnewsasia/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More