Kamis 21 Februari 2019, 08:00 WIB

Manfaatkan Plastik tanpa Hasilkan Sampah

Haufan Hasyim Salengke | Humaniora
Manfaatkan Plastik tanpa Hasilkan Sampah

DOK CAP

 

APAKAH benda yang steril, kuat, dan ada di mana-mana? Jawab­annya, produk berbahan plastik. Barang tersebut digunakan dalam segala hal, mulai wadah makanan hingga sol sepatu. Tampaknya kita tidak akan dapat ‘hidup’ tanpa polimer populer ini.

Menurut Masyarakat Industri Plastik (Society of the Plastics Industry/SPI), terdapat sejumlah manfaat plastik yang tidak dapat ditandingi bahan lain. Plastik ringan, mudah dibentuk, kuat, dan tidak mahal. Kemampuan plastik melindungi produk dari kontaminasi membuatnya berguna dalam lingkungan medis yang steril, seperti rumah sakit.

Plastik dibuat dari hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak dan gas alam. Ia tercipta ketika molekul kecil alias monomer terikat bersama menjadi rantai yang disebut polimer. Monomer yang berbeda ketika terikat bersama menghasilkan berbagai jenis plastik, ada yang lunak dan lentur serta ada yang keras dan tahan lama.

 

 

Betul, plastik kini dikhawa­tirkan banyak orang akibat limbahnya yang terus bertambah. Namun, SPI menjelaskan, hanya 9% limbah plastik memenuhi tempat pembuangan sampah. Mereka juga meyakinkan plastik dapat menjadi alternatif ramah lingkungan dan murah untuk produk lain.

Dari sisi hulu, melansir British Plastics Federation (BPI), industri plastik hanya mengonsumsi 4% dari produksi minyak dunia sebagai bahan baku. Produksi sebagian besar barang plastik tidak intensif energi jika dibandingkan dengan logam, gelas, dan kertas.
“Produk plastik memainkan peran utama dalam menghemat energi dan keamanan daya. Plastik merupakan bagian dari solusi dalam mengantisipasi perubahan iklim,” ujar BPI di laman resminya, bpf.co.uk.

Lebih jauh dalam hal penggunaan produknya, sekitar 22% dari pesawat bertingkat Airbus A380 dibangun dengan plastik yang diperkuat serat karbon ringan. Ini mampu menghemat bahan bakar dan menurunkan biaya operasi sebesar 15%.

BPI juga menyebut 105 kg plastik, daripada bahan tradisi­onal seberat 1.000 kg, di dalam mobil memungkinkan penghematan bahan bakar 750 liter untuk jangka 90 ribu mil. Ini mengurangi konsumsi minyak sebesar 12 juta ton.

Tanpa plastik, berat kemasan dapat meningkat sebanyak 400%, biaya produksi dan ener­gi bisa berlipat ganda, dan pemborosan bahan melesat hingga 150%. “Kantong plastik berbobot enam kali lebih sedikit dari bahan alternatif,” tegas BPI.

Penggunaan produk plastik alih-alih alternatif mengarah pada penghematan hingga 40% pada biaya distribusi bahan bakar dan mengurangi polusi transportasi. Energi terbarukan pun bergantung pada plastik, seperti pada produk pipa, panel surya, turbin angin, dan rotor.


Lebih ramah lingkungan

Studi baru berjudul Life Cycle Impacts of Plastic Packaging Compared to Substitutes in the United States and Canada: Theoretical Substitution Analysis menguatkan pula data BPI itu.
Hasil studi ini menemukan bahwa mengganti plastik dengan bahan alternatif dalam aplikasi kemasan akan menyebabkan peningkatan penggunaan energi, konsumsi air dan limbah padat, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca, pengasaman, eutrofikasi, dan penipisan ozon.

“Laporan ini dibangun berdasarkan data yang sudah mapan mengenai manfaat plastik dan gas rumah kaca jika dibandingkan dengan alternatif (plastik),” tutur Wakil Presiden Divisi Plastik American Chemistry Council (ACC), Steve Russell. “Ini memperluas pemahaman kita tentang manfaat lingkungan yang penting di luar energi dan menyoroti indikator lingkungan utama seperti penggunaan air dan timbulan limbah.”

 

Produksi, penggunaan, dan pembuangan kemasan plastik ketimbang produk alternatif di enam wilayah di Amerika yang diteliti ternyata menghemat energi yang cukup untuk bahan bakar 18 juta kendaraan penumpang, menghemat air yang cukup untuk mengisi 461 ribu kolam renang Olimpiade, dan mengurangi limbah setara dengan bobot 290 ribu pesawat Boeing 747.

Saat ini beberapa produk berbahan dasar plastik seja­tinya sudah memiliki alternatif material lain, seperti metal straw, woven bag, dan glass-bottled drink. Meskipun demikian, konsekuen­si yang akan dihadapi dengan penggunaan material alternatif tersebut dalam produksi massal memiliki dampak yang juga mengkhawatirkan.

‘Harga’ yang harus dibayarkan dengan penggunaan materi alternatif plastik itu, semisal empat kali lebih besar untuk pemeliharaan lingkungan, lima kali lebih besar untuk perbaik­an kesehatan dan ekosistem, tiga kali lebih besar untuk menanggulangi perubahan iklim, dan hampir dua kali lebih besar untuk perbaikan kerusakan laut.

“Temuan itu menantang kesalahan persepsi umum di sekitar plastik dan menggarisbawahi bahwa plastik tergolong bahan efisien serbaguna yang membantu menyelesaikan beberapa tantangan lingkungan terbesar kita. Namun, kami tidak dapat mewujudkan manfaat penuhnya jika kami tidak berupaya mencapai solusi akhir kehidupan yang lebih baik,” ucap Russell.

Karena itu, ACC dan produsen resin Amerika Utara menetapkan tujuan bahwa 100% kemasan plastik akan digunakan kembali, didaur ulang, atau dipulihkan pada 2040. Memenuhi tujuan ini dan menghi­langkan limbah plastik di laut­an, mereka juga akan semakin meningkatkan kualitas lingkung­an dari kemasan plastik.
“Kita semua menginginkan dunia tanpa polusi plastik, tetapi kita tidak ingin dunia tanpa plastik,” tandasnya.


Tulang punggung industri

Mengacu pada studi itu, plastik sebagai materi dasar dari alat-alat keseharian manusia masih belum dapat tergantikan. Di sisi lain, seiring dengan pertumbuhan penduduk, industri petrokimia sebagai penghasil bahan baku plastik akan terus berkembang karena kebutuhan masyarakat yang tinggi.

Siaran pers Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Maret 2015 menyatakan industri petrokimia menjadi tolak ukur bagi negara dan tulang punggung bagi sebagian besar sektor industri di dunia. Menurut penyedia informasi global IHS Markit, permintaan polietilena sebagai termoplastik melonjak dua kali lipat dari 50 juta metrik ton pada 1999 menjadi 100 juta metrik ton pada tahun lalu.

Industri pengemasan plastik juga penting dalam rantai pasok untuk sektor strategis lain, seperti industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, dan elektronik. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), Kemenperin mencatat jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Sektor ini menyerap total 37.327 orang dan memiliki total produksi sebesar 4,68 juta ton.


Solusi sampah plastik

Eropa memiliki sistem ekonomi ramah lingkungan bernama circular economy. Sistem ini merupakan solusi tepat yang dapat digunakan untuk memecahkan akar masalah manajemen sampah plastik dari hulu ke hilir. Konsep ini berfokus pada penggunaan barang dengan maksimal dan mengubah barang yang telah dipakai menjadi barang lain.

Upaya itu ingin mempertahankan nilai produk agar dapat digunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah (zero waste). Caranya melalui daur ulang (recycling), penggunaan kembali (reuse), atau produksi ulang (remanufacture).

Circular economy tidak hanya mengenai nilai tambah bagi penyelamatan lingkungan, tapi juga memiliki penciptaan nilai tambah sosial dan ekonomi baru, seperti pemberdayaan masyarakat. Usaha daur ulang sampah plastik merupakan salah satu bentuk circular eco­nomy dari pemanfaatan plastik yang bertanggung jawab.

Usaha itu memiliki efek yang besar dalam menggerakkan perekonomian di masyarakat soalnya rantai produksi tersebut melibatkan banyak pihak, mulai pemulung, pelapak, hingga industri besar daur ulang sampah plastik.

Berdasarkan keterangan dalam siaran pers KLHK per Desember 2018, pertumbuhan bank sampah mengalami peningkatan dari 1.172 unit pada 2015 menjadi 7.408 unit pada 2018 serta tersebar di 294 kabupaten/kota di Indonesia. Nilai omzetnya pun terhitung besar. Contohnya, omzet bank sampah induk di Jakarta Barat mencapai Rp4,5 miliar per tahun.

Keberadaan bank sampah terbukti memberikan dampak positif, baik ke lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Bentuknya berupa kontribusi terhadap pengurangan sampah nasional sekaligus peluang pekerjaan serta memberikan penghasilan tambahan.

Laporan EllenMacArthur Foundation menunjukkan bahwa secara peluang ekonomi konsep circular economy dapat menghasilkan hingga US$706 miliar, yang mana proporsi yang paling signifikan disebabkan oleh kemasan. Melalui circular economy, 53% kemasan plastik di Eropa bisa di daur ulang dengan ekonomis dan efektif secara dampaknya kepada lingkungan.


Andil perusahaan

Salah satu perusahaan petrokimia turut mendukung target pemerintah dalam mengurangi limbah plastik di laut sebesar 70% sampai 2025, yaitu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP). Didampingi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera), CAP menerapkan aspal plastik di lingkungan pabrik mereka di Cilegon, Banten.

Jalan aspal plastik itu merupakan bagian dari program berkelanjutan perusahaan dan salah satu solusi untuk penanganan sampah plastik di Indonesia. Aspal plastik yang digelar dalam area seluas 6.372 meter persegi terbuat dari bahan aspal biasa dengan campuran 5%-6%  atau setara dengan 2 juta lembar kantong plastik (HDPE/High Density Polyethilene) bekas sampah plastik atau seberat tiga ton. Sesuai dengan hasil penelitian Kementerian PU-Pera, campuran limbah plastik ini dapat menambah daya tahan deformasi aspal.

“Kami berkomitmen penuh terhadap keberlanjutan dan ingin turut berkontribusi dalam mengurai permasalahan sampah plastik di lndonesia. Pemanfaatan sampah plastik dalam campuran aspal ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi di Indonesia,” terang Edi Riva’i, General Manager Technical Services and Product Development CAP. Pihaknya juga akan terus mendukung Kementerian PU-Pera maupun kementerian lain yang terkait dalam meneliti efektivitas dan kegunaan aspal plastik ini.

Dalam pengerjaan implementasi aspal plastik, Kementerian PU-Pera telah melakukan uji coba produk tersebut di beberapa kota, yakni Bekasi, Bali, Makassar, Solo, Surabaya, dan Tangerang. Sampah plastik yang digunakan dalam pencampuran aspal ini berjenis high density poly-ethylene (HDPE) dan berbentuk kantong plastik keresek.

Sampah plastik merupakan komponen tambahan bersifat komplementer dalam pencampuran aspal. Dengan komposisi yang ideal, penambahan sampah plastik dapat meningkatkan nilai stabilitas campuran aspal plastik sebesar 40% sehingga tahan terhadap deformasi plastik dan tidak mudah retak.

Selain CAP, Dow Packaging dan Specialty Plastics (P&SP), unit bisnis The Dow Chemical Company, bersama dengan The Indonesian Aromatic & Asosiasi Industri Plastik Olefin (Inaplas), Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), PT Polytama Propindo (Manufaktur PP Indonesia), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan pemerintah Indonesia juga berupaya mengembangkan proyek pembangunan jalan plastik ramah lingkungan. Ini dikerjakan agar pemerintah Indonesia mencapai target mengurangi limbah plastik di laut sebesar 70% pada 2025.

Uji coba jalan plastik pertama selesai di Kota Depok, Jawa Barat, pada kuartal III 2017. Sebanyak 3,5 metrik ton bahan limbah plastik dicampur ke dalam aspal untuk membuktikan konsep sepanjang 1,8 kilometer yang mencakup total luas 9,781 meter persegi.

Hasil proyek selama dua bulan itu berupa jalan limbah plastik yang lebih tahan lama dan lebih kuat dari jalan biasa. Sementara masih menjalani peng­ujian lebih lanjut di Pusjatan (Pusat Nasional Pembangunan Jalan dan Jembatan), proyek ini diidentifikasi Kementerian Koordinator Bidang Kelautan Indonesia sebagai salah satu kepentingan nasional. (S4-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More