Debat Capres Kedua: Prabowo Melangit, Jokowi Membumi

Penulis: MICOM Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 22:31 WIB Politik dan Hukum
Debat Capres Kedua: Prabowo Melangit, Jokowi Membumi

Ist

JURU Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, menilai Jokowi kembali memenangkan dengan telak debat kedua, Minggu (17/2) malam ini.

"Pak Jokowi sangat menguasai masalah dengan menyampaikan capaian keberhasilan, sementara Prabowo hanya bicara normatif dan banyak mengakui keberhasilannya Pak Jokowi dalam banyak hal. Prabowo terkesan tidak menguasai masalah, miskin konsep, terutama hal-hal yang terkait dengan program yang lebih fokus, selalu mengulang-ngulang dan tidak nyambung," ujar Ace lewat keterangan resminya.

Baca juga: Wapres Kembali Gelar Nobar Debat Capres di Kediamannya

Dalam pemaparan visi dan misi, Ace melihat adanya perbedaan yang tajam. Ace berpendapat, Prabowo melangit, Jokowi membumi.

"Prabowo bicara soal kemandirian namun tidak menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan untuk mendukung ke arah terwujudnya kemandirian tersebut. Bicara soal swasembada pangan, tetapi tidak mengurai tentang bagaimana cara mencapainya. Belum lagi bicara soal swasembada air, apa maksudnya dengan istilah itu?," tandasnya.

Sementara Jokowi, sambung Ace, memaparkan visi dengan menjelaskan capaian dan langkah yang lebih konkret dan realistis. "Bicara soal infrastruktur dasar yang dirasakan rakyat di pedesaan berupa jalan, irigasi dan infrastruktur dasar lainnya, bukan hanya jalan tol, bendungan, dan lainnya," paparnya.

Jokowi, sambung Ace, juga bicara soal prestasi pangan dengan menyampaikan keberhasilannya dengan contoh produksi jagung. Soal lingkungan, tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir ini. Termasuk juga soal sampah. Energi fosil yang sudah dimulai.

"Menjawab soal Indeks Kompetisi Global (GCI) Pak Jokowi kembali menunjukan kelasnya dengan penguasaan terhadap substansi infrastruktur. Pak Jokowi telah melakukan program yang lebih maju dengan melakukan digitalisasi industri 4.0," tandasnya.

Lebih lanjut kata Ace, serangan Prabowo soal infrastruktur dinilainya tidak berpihak kepada rakyat dan tanpa perencanaan yang matang. Sementara, menurutnya Jokowi dengan lugas dan tenang menjawabnya.

"Kembali Pak Prabowo menyerang dengan infrastruktur yang mahal seperti LRT dan MRT tanpa menyebutkan angka dan datanya yang memadai. Padahal bIaya pembangunan LRT Jabodetabek per kilometer Rp673 miliar, sementara di Malaysia LRT Kelana Jaya Malaysia biaya per km nya Rp817 miliar/km. Prabowo bilang Malaysia dua kali lebih efektif daripada Indonesia. Lagi-lagi sebar hoaks," ungkapnya.

Reformasi agraria, menurutnya justru semakin mengunggulkan kemenangan Jokowi.  Berbagai program seperti program Perhutanan Sosial, konsesi tanah untuk masyaraat adat dan ulayat adalah program yang konkret, selain program sertipikasi tanah.

"Soal tata kelola sawit, Pak Prabowo menyatakan program yang normatif dengan menyebut perkebunan inti rakyat dan plasma. Program itu sudah sejak zaman baheula dilaksanakan. Pak Jokowi menyatakan bahwa produksi sawit semakin tinggi dan sudah dipergunakan untuk B20 untuk memenuhi biodiesel," imbuhnya.

Baca juga: Millenial dan Aktivis Trisakti 98 Antusias Nobar Debat Capres

Perdebatan soal lingkungan hidup, Ace menilai, Prabowo lebih banyak mengakui keberhasilan Jokowi dalam hal penegakan hukum lingkungan dan program yang lebih konkret misalnya soal Citarum Harum di Jawa Barat. Sementara Prabowo tak ada yang ditawarkan kecuali mengafirmasi program Pak Jokowi.

"Sekali lagi, Pak Jokowi unggul telak dan sangat menguasai tema ini. Programnya lebih konkret dan teruji. Sementara Pak Prabowo selalu mengulang-mengulang narasi normatif soal pasal 33, tanah, air dan udara dikuasi negara. Memang Pak Prabowo konsisten dengan paradoksnya," pungkasnya. (RO/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More