Level Seru Belajar Sejarah

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 09:00 WIB Weekend
Level Seru Belajar Sejarah

DOK. REENACTOR BANGOR

Demi melakukan reka ulang semirip mungkin, mereka sampai menyusuri gunung dan sungai sambil berpakaian tentara dan menyandang senapan.

LELAH tergambar jelas pada wajah mereka, sedangkan puncak masih jauh. Dengan senapan tersampir di bahu, mereka kemudian memilih beristirahat sejenak dengan duduk di atas batu.

Meski begitu, tetap pula mereka tetap meresapi adegan yang sedang dilakoni. Ya, di kaki Gunung Salak, Kabupaten Bogor, mereka bukan sedang berburu.

Mengenakan pakaian militer tahun 50-an, mereka sedang melakukan reka ulang perang gerilya pasukan Viet Cong, yang merupakan tentara barisan pembebasan untuk Vietnam selatan. Strategi perang mereka terbukti mampu mempermalukan tentara Amerika Serikat.

"Kita menginap, kita naik ke atas gunung. Kita merasakan sensasi bagaimana dulu menjadi pejuang Viet Cong," terang salah satu pendiri Reenactor Bangor, Dion Kaspa, kepada Media Indonesia, Rabu (13/2) saat menuturkan kegiatan reka ulang sejarah yang mereka lakukan. Reenactor memang sebutan bagi mereka yang hobi melakukan reenactment (pemeragaan) peristiwa sejarah.

"Kita menginap dari hari Jumat pagi sampai Minggu sore. Sabtu-Minggu itu hujan terus-terusan. Kita benar-benar kayak tentara Vietnam, tentara Australia beneran di hutan hujan-hujanan. Kalau di foto itu bagus banget, mimiknya dapat, impresinya kena banget. Padahal, kita sedang kelaparan beneran itu," kenang pendiri lainnya Reenactor Bangor, Errol Tornado (46).

Dion menyebut, selain kegiatan bertajuk VC Camp II, mereka juga melakukan reka ulang lain pada 21 April tahun lalu. Kegiatan yang kali itu dinamakan Kokoda Track, dibuat untuk reka ulang pencegatan tentara Jepang oleh tentara Australia di Papua.

Sama seperti reenactment gerilya Viet Cong, kali itu pun mereka memanggul senapan dan menyusuri sungai sambil seolah-olah mengintai musuh.

Reenactor Bangor didirikan pada 2015 oleh Sufiyanto, Errol Tornado, dan Dion Kaspar. Komunitas itu sengaja dibuat tidak begitu kaku dengan segala kelengkapan ala komunitas mapan. Mereka bahkan sering menyebutnya Komunitas Pos Ronda. Hubungan yang cair dan luwes dipertahankan karena rentang usia anggota yang sangat luas, yakni dari anak tingkat SD hingga pensiunan.

Begitu pula soal ketertarikan, komunitas tersebut tidak mempunyai garis batas yang kaku. Komunitas itu juga mewadahi pencinta bangunan tua, sejarah juang, kisah perjuangan, museum, dan Perang Dunia II, meliputi Amerika, Jerman, dan Inggris. Yang terpenting, anggota sama-sama suka sejarah perjuangan bangsa.

"Jadi, kita ini intinya basic-nya pencinta sejarah juang bangsa. Karena banyaknya perbedaan ini, kita gak mau bakukan dulu, maksudnya dengan struktur, visi-misi. Yang penting kita berkumpul dan berkegiatan," tegas Dion.

Belajar sejarah

Ketika mereka melakukan kegiatan di Museum Satria Mandala, Jakarta, pada Januari 2019, setiap dari anggota Reenactor Bangor memilih kegiatan yang disuka, boleh dengan impresi lalu mengambil foto, diskusi sejarah, sampai mengulik koleksi museum.

Banyak hal yang bisa didapat dari komunitas Reanactor, salah satunya ialah untuk menambah ilmu dan pengetahuan tentang sejarah.

"Manfaatnya tambah ilmu karena yang tadinya kita gak tahu jadi tahu. Istilahnya yang gak ada di buku pelajaran, kita jadi tahu. Nambah teman, nambah ilmu juga," terang salah satu anggota Reenactor Bangor, Vanial Aulia kurniawan (18).

Para anggota Reenactor Bangor sebelumnya juga mengikuti komunitas lain yang juga berbasis sejarah. Karena suasana yang cair dan sering mengadakan kumpul bareng sesama anggota, banyak member yang merasa betah dengan Reenactor Bangor. Sebanyak 20-30 anggota hampir sebulan sekali mereka dipersatukan nasi liwet. Biasanya lalu diakhiri dengan foto-foto studio.

"Justru kegiatan ini bisa lebih fleksibel. Jadinya kita gak membuat satu garis merah untuk membatasi," tambah Dion.

Kostum dan perlengkapan terdapat beberapa klasifikasi barang dan cara untuk mendapatkannya. Pertama, barang asli atau disebut relic. Barang itu memang digunakan saat kejadian dulu. Jenis ini dibutuhkan kejelian dan usaha lebih untuk mendapatkanya sebab tidak diproduksi ulang. Berikutnya ada pula yang memakai barang repro buatan luar negeri. Terakhir, ada pula yang repro dalam negeri atau buatan sendiri. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More