Harapan Kecil Mendapatkan Pendidikan

Penulis: Putri Yuniarti Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 07:00 WIB Weekend
Harapan Kecil Mendapatkan Pendidikan

DOK LITTLE HOPE INDONESIA

Taiching: Melalui komunitas Little Hope Indonesia mereka ingin menularkan pentingnya pendidikan akademis dan nonakademis. Memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

SETIAP anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Sayangnya sejumlah kawasan masih mengalami keterbatasan mengakses pendidikan. Salah satunya di Desa Jembrak. Meski terletak 15 menit dari Kota Salatiga, kondisi SD di sana tidak beruntung.

Satu-satunya SD di desa itu menampung 70-80 siswa dengan 7 guru dengan fasilitas terbatas. Tak pelak kepala sekolah harus merangkap tugas sebagai guru. Keterbatasan itu menyebabkan masih banyak siswa yang belum bisa baca tulis saat kelas tiga SD.

Setelah melakukan survei sebelumnya, berdiskusi, mengajukan perizinan dari pihak sekolah, kepala desa, dan lainya, akhirnya komunitas Little Hope Indonesia (LHI) hadir di SD tersebut. Seminggu tiga kali mereka selama 2 jam setelah sekolah, anak-anak berkesempatan menambah ilmu mereka. Senin dan Rabu mereka mendapatkan pelajaran akademik. Sedangkan setiap Jumat lebih ke nonakademis, seperti bernyanyi, menari, dan mengembangkan talenta mereka.

Saat pertama kali datang ke SD itu, hanya 2-4 murid yang bergabung dengan LHI. Seiring waktu, antusias anak-anak yang bergabung pun bertambah. Hingga saat ini dalam satu kelas mencapai 15-20 anak dengan 5-8 volunteer yang mendampingi. Orangtua mereka yang kebanyakan petani ladang pun mendukung kegiatan LHI dan tidak melarang anak mereka. Komunitas yang fokus mengajar murid SD ini tidak menutup diri untuk anak Desa Jembrak, tapi juga desa sekitarnya.

"Kami hanya ingin membantu anak-anak untuk belajar, karena orangtua mereka yang pendidikannya cukup rendah dan keterbatasan ekonomi membuat anak-anak ini tidak bisa belajar efektif," tutur Danu Pandu Saputra, sukarelawan LHI kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon Senin (11/2).

Secara terpisah, sukarelawan yang lain Diva Zerlinda mengaku senang bisa mengajar anak-anak di Desa Jembrak. Aura anak-anak yang belajar itu sangat terpancar dan ia ingin menularkan itu ke anak-anak lain. "Anak-anak di Desa Jembrak ini sangat menyenangkan, dan memberikan energi yang positif," imbuh Diva.

Setelah tiga tahun berjalan, mereka sudah melihat perubahan dari anak-anak Desa Jembrak. Bila awalnya mereka enggan belajar dan tidak bersikap sopan, kini sudah tidak. Nilai pelajaran mereka mengalami peningkatan, tingkah laku lebih sopan, dan memiliki keterampilan ekstra.

Little Hope Indonesia

Tapi apa sebenarnya Little Hope Indonesia? Little Hope Indonesia yang disingkat LHI ini merupakan komunitas sukarela yang fokus pada pendidikan anak. Komunitas yang didirikan Geovani Kartika ini prihatin akan belum ratanya pendidikan di Indonesia. Meski tidak berasal dari ilmu keguruan, ia dan kawan-kawannya yakin mereka bisa membuat perubahan.

Ide LHI sendiri sebetulnya terpetik saat Giovani yang ikut menjadi volunteer untuk mengajar di Vietnam sambil menanti waktu wisuda. Ia menjadi bagian tim pengajar bahasa Inggris di Desa Painan. Saat mengajar ana-anak SD di sana, respons para orangtua sangat menyentuh. Mereka sangat berterima kasih atas pembelajaran dari program itu.

Pengalamannya mengajar itu membuat perempuan kelahiran Medan, 29 Juli 1993 ini sadar di lingkungannya masih banyak anak yang membutuhkan pendidikan yang layak, seperti di Vietnam. Keprihatinan ini yang membuat Giovani ingin segera membuat tempat belajar bagi anak-anak, namun masih dalam lingkup yang kecil. Pendidikan sendiri juga bukan hanya pelajaran di sekolah, namun juga pendidikan karakter, sikap, dan skill.

"Saya tahu ini itu tidak mudah dan juga tidak mungkin berdiri sendiri. Pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, ketika kita punya kemauan kita pasti bisa," jelas Magister dengan predikat lulusan terbaik di FEB UKSW tersebut. Bersama teman-temannya, di antaranya Anisa, Danuk, Al Yada, dan Iser, Zerlin, LHI berdiri pada 11 November 2016.

Kegigihan mereka ternyata berbuah manis. Saat ini relawan aktif di LHI sebanyak 70 orang, dengan anggota tetap 150 orang. Kini tidak sebatas di Desa Jembrak, tapi sudah ada di SD Semarang dan Salatiga.

Bantuan

Perjalanan LHI tidak selalu mulus. Apalagi sebagian besar relawan bukan guru, jadi tidak mudah awalnya berbicara di hadapan anak SD. Namun, metode pembelajaran yang interaktif bisa memacu mereka untuk berbuat lebih lagi.

Selain itu, mereka pun sempat terkendala dengan dana. Saat awal didirikan, komunitas ini harus menggunakan dana pribadi mereka untuk membeli semua perlengkapan dan operasional. Mulai dari membeli alat tulis, buku dan peralatan ketrampilan lainnya.

Kini, setelah tiga tahun berjalan, mereka berhasil membuktikan kinerja mereka dan orang percaya akan LHI. Kepercayaan itu yang mendatangkan banyak donatur untuk membantu kegiatan mereka, tidak semata uang, tapi juga perlengkapan sekolah.

Namun bukan berarti mereka menggantungkan harapan pendanaan dari donatur. Mereka juga aktif menjual merchandise untuk mengisi kas. Mengingat jumlah anak yang bergabung bertambah, sehingga pengeluaran kian besar.

Selain itu, struktur organisasi mereka pun lebih baik. Mereka telah membagi pendirinya ke beberapa divisi, seperti promosi, keuangan, dan administrasi. Semua anggota yang ikut ialah orang-orang yang bekerja dengan tulus untuk memberikan pengajaran yang baik bagi anak-anak di LHI.

Belum lagi cibiran dari sejumlah pihak akan komunitas ini. Banyak yang memprediksi komunitas sukarela ini tidak bisa bertahan lama. Namun, LHI berhasil mematahkan pandangan itu dan merambah daerah lain, termasuk bekerja sama dengan Yayasan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus yaitu Yayasan Gadah Ati. (M-3)

OPINI MUDA

Anastasia Anisa

Mahasiswa Akuntansi ICMAP FEB (Pengurus LHI di Salatiga)

Banyak hal yang telah saya dapatkan di komunitas ini, layaknya seperti keluarga, lebih dari sekadar sebuah komunitas. Bagi saya di sini kami saling bekerja sama untuk menjalankan tugas-tugas yang ada, dapat lebih menambah relasi pertemanan antarjejaring relawan dan juga dapat mengajar anak-anak, mengikuti proses belajar mereka, mengikuti perkembangan, dan mengenal berbagai karakter dan penanganan dari setiap anak.

Danu Pandu Saputra

Marketing

Sebagai volunteer yang ikut dari awal kegiatan Little Hope Indonesia, sekarang sudah mengalami banyak perkembangan, mulai strukturnya, kepengurusannya, dan pengelolaan keuangan. Seiring waktu dan kepercayaan masyarakat sekitar, komunitas ini dapat berjalan sampai sekarang.

Volunteer yang ingin terlibat juga bertambah setiap ada pembukaan pengajar baru. Walaupun tidak semua pengajar berasal dari profesi keguruan, tetapi antusias dan kegigihan mereka mengajar sangat besar. Ini membuat saya bangga bisa mengikuti kegiatan ini hingga sekarang. Kegiatan yang mampu memberikan saya banyak pengalaman untuk berinteraksi dan mengajar langsung anak-anak SD.

Rio Hanggar Dipta

Ilustrator lepas

Komunitas ini keren karena mereka mengambil langkah lebih maju daripada pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Walaupun baru beberapa tempat, tetapi mereka sudah memulai langkahnya. Jiwa melayani juga ada, mereka tidak hanya memikirkan tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi melakukannya juga pada hubungan horizontal manusia.

Lebih sabar dalam melakukan tugas mulia ini, berkembang atau tidaknya itu tidaklah penting. Yang terpenting ialah telah melakukan yang baik dan yang terbaik. Dahulu saya sempat ingin bergabung, tetapi keadaan yang belum memungkinkan karena setidaknya saya juga ingin hidup saya berguna bagi orang lain, walaupun sedikit, tetapi yang penting ada.

HOW TO,

Ingin bergabung dengan komunitas Little Hope Indonesia sebagai volunteer/pembantu mengajar? Yuk, simak cara dari Anastasia Anisa.

1. Ikut mendaftar saat ada pemberitahuan open recruitmen volunteer.

2. Mengirim motion letter ke e-mail LHI.

3. Memilih waktu mengajar.

4. Proses interview.

5. Tunggu pengumuman hasil seleksi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More