Guratan Naratif Melissa Sunjaya

Penulis: (Des/M-4) Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 03:20 WIB Weekend
Guratan Naratif Melissa Sunjaya

MI / DESPIAN NURHIDAYAT

JEJERAN lukisan berbentuk bunga-bunga dan surreal itu berwarna terang mengundang selera untuk dipandang. Lukisan-lukisan tersebut memiliki sebuah kesamaan jika diperhatikan secara saksama. Lingkungan, inilah yang bisa dipahami kebanyakan pengunjung yang hadir dalam pergelaran pameran Serigraphy karya Melissa Sunjaya.

Lukisan-lukisan tersebut berjumlah 19 buah dan serigraphy merupakan kunci dari lukisan yang dibuat Melissa ini. Serigraphy atau sablon berawal dari sebuah pengamatan Melissa pada saat ia berjalan-jalan ke kawasan Pasar Senen Jakarta. Melissa melihat banyak gerai ­sablon yang karyanya dihargai sangat murah, bahkan lebih rendah dari cetakan digital. Dengan melihat ini, Melissa mengembangkan salah satu metode seni yang kurang diminati di Jakarta, yang dikenal sebagai ‘­sablon’ atau serigraphy.

“Bagi saya, serigraphy ini terbalik persepsinya di negara kita. Serigraphy dengan materi-materi menggunakan sumber daya lokal justru banyak diremehkan, padahal di negara lain sangat dihargai,” ungkap Melissa saat konferensi pers di Artotel, Jumat (8/2).

Dalam pameran ini, Melissa dengan cermat menyuguhkan berbagai pola yang identik dengan bebungaan penuh warna. Selain itu, Melissa juga memperlihatkan lima buah lukisan naratif. Dengan latar seorang visual esais, ilustrasi-ilustrasi yang dibuatnya memiliki kisah menarik di setiap koleksinya tersebut diaplikasikan lewat teknik sablon pada setiap karyanya yang dipamerkan itu.

Seperti karya yang berjudul Wondering Amma Yellow Sunflowers. Melissa membuat sebuah lukisan dengan sentuhan warna kuning bercampur putih dan hitam. Dalam lukisan tersebut, terlihat seekor gajah yang tengah berjalan melewati semak-semak berbunga. Di atas gajah itu terdapat seorang perempuan tengah duduk bersimpuh, tetapi ia seakan berada di dalam kandang dan di sebelah kandang tersebut terdapat seekor burung seakan sedang berbincang dengan perempuan itu.

Lukisan tersebut seakan memiliki cerita di setiap detailnya, seperti adanya bunga, latar layaknya batik, perempuan dalam sangkar, dan binatang. Lukisan ini seperti hidup di dalamnya. Melissa juga mengakui bahwa dalam setiap lukisannya ia memiliki cerita yang sangat istimewa. Ia juga menambahkan bahwa sebagian lukisannya bersifat naratif dan sebagian lainnya banyak bermain dengan bentuk bunga dalam susunan komposisi ambigram.

Peduli lingkungan
Melissa juga terlihat berusaha menyampaikan topik-topik yang selalu membuatnya merasa tertarik, seperti ajakan agar peduli terhadap lingkungan, mengenai gejolak batin manusia, dan masih banyak lainnya. Hal ini memang berangkat dari visi-misi Melissa untuk berkarya dan bereksperimen serta mendukung keramahan lingkungan. Dalam berkarya, Melissa dikenal memilih pewarnaan karya cerah yang bertabrakan dengan kontras.

“Ketika saya bekerja dengan warna, saya menjaga campuran bagan warna dalam teknik sablon dan saya senang. Sebagian besar distributor sablon menyarankan tinta plastisol berbasis PVC karena warna-warnanya sangat cerah. Dalam teknik sablon saya sangat concern dengan pencemaran lingkungan. Saya tidak memilih dengan PVC karena uap dan sisanya sangat beracun dan berbahaya untuk lingkungan,” ungkap lulusan Desain Komunikasi Visual Art Center College of Design, Pasadena, California, Amerika Serikat.

Melissa mengatakan juga bahwa karyanya lebih dari sekadar selembar tekstil. Ia berusaha menghancurkan stigma mengenai sablon yang identik dengan bengkel kotor, tenaga kerja yang berpenghasilan rendah, dan juga produk murahan. Melissa menunjukkan bahwa ia mampu mengubah stigma tersebut dengan brand tulisan yang menyediakan berbagai macam karya yang telah ia buat dan bahkan laris di pasaran nasional maupun internasional.

Dia berharap agar sablon ataupun karya seni lainnya dapat disambut dan mendapatkan apresiasi yang baik oleh masyarakat karena menurut hematnya, seni tak memiliki batasan. “Sablon hanya salah satunya karena saya tidak membatasi medium lain untuk dieksplorasi. Sekarang juga saya sedang membuat seni akrilik yang banyak bermain dengan warna,” ungkap Melissa.

Bagi para penikmat seni, pameran seni Solo Serigraphy karya Melissa Sunjaya yang dilakukan dengan adanya kerja sama dengan tulisan, Anda dapat menikmati pameran ini dimulai dari 8 Februari hingga 25 Maret 2019 yang terletak di Artspace, lantai Mezzannie Artotel Thamrin, Jakarta. (Des/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More