Apa yang Menjadikan Kamu Adalah Kamu

Penulis: ARDI TERISTI HARDI Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 02:55 WIB Weekend
Apa yang Menjadikan Kamu Adalah Kamu

MI/ARDI TERISTI HARDI

TIGA buah poster berukuran tanggung, sekitar 40 cm x 40 cm, tampak terpajang di dinding. Tiap-tiap kotak berisi satu kata, dari kanan ke kiri berbunyi; apa, bagaimana, dan siapa. Poster itu bukan poster biasa. Tiap-tiap poster menjadi jendela bagi pengunjung menikmati video instalasi melalui teknologi augmented reality (AR).

Jangan heran jika melihat ­pengunjung terdiam sejenak di depan poster itu sambil mengarahkan layar telepon genggam mereka ke poster. Mereka tak hendak mengambil foto atau memvideokan poster tersebut, tetapi lewat telepon genggam itulah video instalasi bisa dinikmati.

Pengunjung pertama-tama meng­unduh sebuah aplikasi augmented reality lewat Play Store. Setelah itu, telepon genggam tinggal diarahkan ke poster-poster yang ada. Tunggu beberapa detik dan video pun bisa dinikmati.

Siang itu, Media Indonesia pun mencoba menonton satu per satu video instalasi yang tersimpan dalam poster-poster di galeri ­Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK). Sebuah cara baru menikmati sebuah pameran video instalasi.

Ketika layar telepon genggam saya arahkan ke poster tulisan ‘apa’, misalnya, tak lama kemudian muncul video di layar telepon genggam saya. Ada dua buah kamera yang mengambil gambar dari sisi depan dan samping. Lalu, tiba-tiba seorang laki-laki muncul, duduk, dan mengucapkan ‘sosial’.

Laki-laki duduk sebentar lalu pergi. Kemudian, muncul seorang perempuan, duduk sebentar, dan bilang ‘semangat’, lalu pergi. ­Kemudian, muncul perempuan lain, duduk sebentar, dan bilang ‘seni’, lalu pergi.

Adegan dalam video berdurasi sekitar tiga menit itu tersebut ber­ulang dengan menampilkan 11 orang. Mereka mengucapkan kata-kata yang berbeda-beda.

Video tersebut merupakan bagian dari pameran video instalasi yang digelar di PSBK oleh Caglar Kimyoncu berkolaborasi dengan tim PSBK. Seniman asal London, Inggris, itu menamai pamerannya dengan judul What Makes You Who You Are, yang berlangsung dari 7 Februari hingga 2 Maret 2019.

What Makes You Who You Are merupakan bagian dari program residensi seni rupa Caglar di Indonesia dari British Council UK/ID. Ada belasan karya instalasi video yang dipamerkan.

Identitas yang kompleks
Ketika menonton satu per satu ­video, kita bisa merasakan betapa kompleksnya identitas. Video itu terasa ingin memaparkan persoalan dan dinamika hidup yang dialami tiap individu, mulai cerita hubungan tanpa status, cinta beda agama, cinta dengan saudara ­sepupu ­sepersusuan, hingga hubungan sesama jenis.

“Ini berawal pada 2017 tentang identitas, elemen-elemen yang membentuk siapa diri kita,” kata Caglar ketika ditemui Media Indonesia, Kamis (14/2) siang, di PSBK, Bantul. Pandangannya saat itu mengajukan tema What makes you who you are ialah untuk fokus pada ­perdamaian, konflik, militerisasi, identitas seksual, dan gender.

Namun, dalam perjalanannya ketika mempersiapkan materi residensi di PSBK dan berbincang dengan tim PSBK, ia terprovokasi untuk melihat topik versi lain tentang identitas, tetapi tetap tidak meninggalkan tema What makes you who you are.

Penilaian tentang sebuah identitas tergantung pada perspektif orang tersebut dan versi lain dari orang tersebut yang dipengaruhi ling­kungannya. Dengan kata lain, siapa diri kita dapat berubah tergantung di mana kita berada dan dengan siapa kita berada.

Ia menyebut, untuk mempersiapkan pameran tersebut, dia membutuhkan waktu sekitar empat minggu, mulai aplikasi untuk AR, semua video, hingga semua keterangan dalam pameran.

Video dibuat dengan menggunakan kamera dan semuanya improvisasi, tidak ada naskah. Caglar lebih tertarik untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman-pengalaman yang pernah dialami individu masing-masing.

“Saya tidak mengatakan bagaimana kamera akan mengambil gambar dan apa yang akan dilakukan (dilakukan dengan improvisasi),” kata Caglar. Menurut dia, cara seperti itu pengalaman berbeda yang dialami dengan improvisasi.

Caglar mengaku, memilih menggunakan AR karena teknologi tersebut potensial untuk dimanfaatkan pula oleh seniman. Dengan AR, pengunjung bisa mengalami pengalaman seni yang berlapis dan mudah diakses.

“Ini sesuai dengan tujuan saya untuk menciptakan pengalaman interaktif dengan audiensi sebagai peserta aktif, semuanya dapat diakses masyarakat dengan berbagai cara komunikasi,” kata dia. Pengunjung juga dapat mengakses video-video saat pulang lewat katalog yang diberikan.

Menjelah pameran Caglar, kita bisa menemukan visi Caglar yang ingin menjangkau semua audiensi, termasuk penyandang disabilitas. Pameran dilengkapi dengan video bahasa isyarat, suara, dan teks. Karya-karyanya juga sengaja dipajang sekitar 1 meter di atas lantai agar bisa sejajar dengan mata audiensi yang menggunakan kursi roda.

Jeannie Park selaku Direktur Eksekutif Yayasan Bagong Kussudiardja mengungkapkan, ­sangat menarik mengamati proses Caglar sebagai seniman multimedia, pendekatan­nya, dan eksperimennya dengan teknologi digital. Caranya menyeimbangkan teknologi yang relevan ­untuk mendukung kreativitas ­seniman, karya seniman, dan audiensi.

Ia pun mengaku terinspirasi komitmen Caglar dalam meng­eksplorasi dan mengadaptasi berbagai bentuk seni untuk menciptakan pengalaman yang inklusif bagi audiensi yang beragam.

“Melalui pertukaran dan praktik budaya semacam ini memungkin­kan kita untuk memperkaya kehidupan dan merangkul perbedaan,” pungkas dia. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More