Drama Medsos di Grastina

Penulis: (M-2) Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 01:15 WIB Weekend
Drama Medsos di Grastina

Dok MI

MESKI sudah cukup banyak warga terjerat hukum akibat liar menggunakan media sosial (medsos), hingga saat ini perilaku banal warga masih berhamburan di dunia media daring. Sampai kapan? Sejujurnya, kita sangat membutuhkan kematangan atau kearifan dalam menggunakan medsos, perangkat modern yang mestinya digunakan mendukung peri kehidupan sesuai dengan perkembangan zaman yang lebih baik. Namun, akibat ‘keterbelakangan mental’ dalam menggunakan tool canggih itu, yang terjadi justru rusaknya peradaban. Ujaran kebencian, caci maki, fitnah, kebohongan, cela, cerca tidak ada habis-habisnya.

Dalam dunia wayang juga ada kisah semacam. Akibat kesembronoan serta kelancangan menggunakan ‘medsos’, mereka mendapat hukuman sangat berat dari penguasa jagat. Itulah yang terjadi pada keluarga Resi Gotama-Dewi Indradi di Pertapaan Grastina.
 
Cupumanik astagina
Alkisah, Resi Gotama dikenal sebagai ahli petapa. Setiap hari ia banyak menghabiskan waktu di Sanggar pamujan untuk bersemedi mendekatkan diri ke Sanghyang Widhi. Laku prihatin ini semakin gentur ia jalani setelah memiliki tiga anak, yaitu Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.

Kondisi yang demikian itu membuat istrinya, Indradi, sering dilanda kesepian akut. Sepertinya sudah tidak ada waktu lagi untuk sekadar bisa bercengkerama dengan sang suami. Pun anak-anaknya sudah beranjak gede sehingga mereka lebih suka bermain di luar rumah.

Suasana hati yang demikian itu kerap membuat pikiran Indradi nglangut (melayang). Hingga pada suatu hari, pikirannya teringat akan ‘mainan’ yang pernah ia terima dari Bathara Surya sebagai kado pernikahannya. Akhirnya, ia sering berasyik-ria dengan mainan itu yang selama ini ia simpan dengan rapat-rapat.       

Mainan pemberian dewa yang tinggal di Kahyangan Ekacakra itu ialah cupumanik astagina. Tidak ada yang tahu kenapa Bathara Surya sampai murah hati menghadiahkan ‘barang elite’ Mayapada tersebut ke Indradi. Akan tetapi, bila dilihat dari track record-nya, Bathara Surya memang dikenal sebagai ‘playboy’.

Cupumanik itu semacam alat yang bisa digunakan untuk memanggil siapa saja yang dikehendaki. Pun juga bisa untuk melihat jagat raya seisinya. Sesuai dengan kodratnya, cupumanik merupakan pusaka yang semestinya hanya diperuntukkan untuk golongan dewa atau sederajat. Tidak boleh digunakan sembarang titah.  

Selain mainan, dalam bungkus kado juga ada surat Bathara Surya. Inti pesan dalam surat itu ialah bila Indradi kesepian dan merindukan sesuatu, pusaka itulah medium untuk memanggilnya. Meski bernada ‘menggombal’, pesan itu itu membuat Indradi berbunga-bunga.
Tidak tercatat intensitas dan lamanya perselingkuhan Indradi dengan Bathara Surya. Yang pasti, akibat gelora hubungan gelapnya meluap, Indradi lupa kewajiban mendidik anak-anaknya yang juga masih membutuhkan kasih sayang. Setiap hari Indradi banyak berada di dalam kamar untuk ‘berhaha-hihi’ bersama simpanannya lewat cupumanik.

Pada suatu ketika, mungkin karena sudah kecanduan, Indradi tidak sadar belum mengunci kamarnya ketika sedang menggunakan cupumanik. Tiba-tiba putrinya, Anjani, menyelonong dan mendapati ibunya berbinar memainkan jari-jarinya pada cupumanik. Seketika, Anjani tertarik dan memintanya.

Menjadi wanara
Betapa kagetnya Indradi. Apalagi, pesan Bathara Surya kepadanya, jangan sampai ada yang mengetahui pemberiannya itu. Pusaka itu harus dijaga kerahasiaannya dari siapa pun, termasuk keluarga sendiri.

Indradi tentu saja tidak bisa lagi menyembunyikan cupumanik. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberi pengertian kepada Anjani bahwa itu pusaka suci yang tidak boleh digunakan orang lain selain dirinya.

Anjani tidak memedulikan ucapan sang bunda. Ia terus merengek meminta mainan tersebut. Bahkan, ia mengancam akan mengadukan kepada bapaknya jika tidak memberikan. Takut perselingkuhannya ketahuan sang suami, Indradi dengan terpaksa memberikan cupumanik kepada Anjani.

Indradi mewanti-wanti Anjani agar tidak memberitahukan kepada siapa pun, tentang keberadaan cupumanik itu, termasuk kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi, serta bapaknya. Anjani berjanji menyimpan rahasia itu.

Seiring berjalannya waktu, konspirasi antara ibu dan putrinya itu terkuak, yakni ketika Anjani tepergok kedua adiknya saat dolanan cupumanik di kamarnya. Dua lelaki muda itu lalu berlomba merebutnya. Akan tetapi, Anjani mempertahankan sekuat tenaga.

Suasana rumah menjadi gaduh. Resi Gotama terganggu semadinya. Ia kemudian keluar dari sanggar pamujan dan bergegas menemui anak-anaknya yang bergulat memperebutkan barang tersebut. Gotama lalu merampasnya dan saat itu pula ia paham akan barang itu dan tahu siapa pemiliknya.

Ia panggil Indradi. Gotama, yang berpura-pura tidak tahu, bertanya siapa yang memberikan cupumanik. Berulang kali pertanyaan yang sama disampaikan, tetapi tidak ada jawaban. Sesaat kemudian, seraya menahan napas, Gotama dengan suara agak bergetar mengatakan, ‘diam seperti batu’. Saat itu pula Indradi menjadi arca.

Cupumanik yang berada dalam gengamannya lalu ia lempar jauh-jauh hingga jatuh ke tengah hutan dan berubah menjadi Telaga Sumala. Gotama menasihati anak-anaknya untuk melupakan barang laknat tersebut. Namun, Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi tidak menggubris. Seperti telah kecanduan, mereka dengan penuh nafsu berburu cupumanik.

Guwarsa dan Guwarsi yang lebih dulu sampai di telaga langsung menceburkan diri dan mengubek, tapi tidak menemukannya. Anjani yang tiba belakangan membasuh mukanya karena kelelahan. Tanpa disadari, wajah Anjani berubah menjadi kera. Lalu, Guwarsa dan Guwarsi yang muncul dari telaga, berubah ujud menjadi wanara.

Menebus dosa
Mereka bertiga sambil menangis pulang menemui sang bapak. Gotama menjelaskan bahwa apa yang terjadi merupakan karma (hukuman). Ia menasihati bahwa pusaka wingit tersebut tidak boleh untuk main-main.

Untuk menebus dosa, ketiga anaknya diperintahkan memohon ampun kepada Sanghyang Widhi serta menjalani laku prihatin. Anjani bertapa nyantaka (berperilaku seperti katak) di Telaga Nirmala. Guwarsa bertapa ngidang (layaknya kijang), dan Guwarsi ngalong (ala kalong) di Hutan Sunyapringga.

Moral cerita kisah ini ialah Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi belum cukup ‘ilmu’ menggunakan cupumanik. Dengan kata lain, sungguh berbahaya bila belum dewasa bermain-main cupumanik.

Dalam konteks kekinian, wajah medsos kita ialah potret perilaku Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi. Akibat ketidakarifan para penggunanya, medsos telah menjerumuskan kita ke dalam era uncivilization, ketidakberadaban. Sungguh menggiriskan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More