CERPEN: Senja itu Membunuh Kalian

Penulis: UMI SALAMAH Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 00:50 WIB Weekend
CERPEN: Senja itu Membunuh Kalian

MI/Seno

KAU pernah bilang, apa pun di dunia ini tidak mampu untuk membunuhmu. Bahkan, kematian itu sendiri tidak sanggup membunuhmu sebab apa? Karena kesepian menjadi pelindungmu. Tuhan tidak sanggup menurunkan kematian untuk lelaki kesepian sepertimu. Itulah sebabnya, kau tetap hidup dengan napas bara kesepian. Dingin dan kegelapan.

“Tuhan itu aneh. Dia mencabut nyawa orang baik secepat kereta api listrik. Dia malah membiarkan nyawa orang biasa-biasa saja untuk hidup lama. Tidakkah itu menjengkelkan?” gerutumu.

Ya, begitulah dirimu. Kau ini lelaki yang kesepian. Segala kesepian melekat padamu. Dari pagi hingga ke pagi lagi. Rutinitasmu mudah dihafalkan. Jika kau tidak bekerja, kau pasti tidur. Jika kau tidak tidur, kau pasti bekerja. Hanya itu. Pekerjaanmu sebagai penjaga jalan lintasan kereta api semakin menguburmu ke dalam dasar kesepian.

Kau sangat bangga ketika mengatakan kematian pun tidak sanggup membunuhmu, tetapi baru saja, kau bilang ada yang mampu membunuhmu. Ini kedengaran lucu. “Senja itu mampu membunuhku. Warna jingga keemasan yang berkilau itu mampu meledakkanku menjadi abu. Sebelumnya mataku akan lebih dulu buta karena silaunya. Senja yang singkat itu, mampu meremukkanku dalam sekejap. Secepat mata mengedip,” tuturmu.

Lagi-lagi ini kedengaran lucu jika kau yang mengucapkannya. Kau ini lelaki dewasa, tetapi bicaramu begitu melankolis seperti anak remaja tanggung yang baru melepas masa kanak-kanaknya. Kau meledak-ledak seperti baru mengalami masa pubertas.

Bagi lelaki dewasa sepertimu, agaknya senja tidak lagi melambangkan romansa. Senja hanya menyisakan luka menganga yang lebar dan dalam. Menyayat bagian terdalam tubuhmu tanpa belas kasih sekalipun kau meminta ampun. Senja telah meluluhlantakkan harapanmu. Ya, harapanmu akan cinta.

“Ketika dia meninggal, senja telah membunuhku. Aku tidak lagi merasakan apa-apa sejak senja pertama hilang setelah kepergiannya. Sekarang hanya ada tubuh, tanpa jiwa,” ucapmu.

Kau menyedihkan. Tidak hanya jiwamu yang kosong. Perasaanmu juga membeku. Mati dan tidak merasakan apa-apa. Sekarang kau lebih cocok disebut sebagai lelaki dewasa melankolis yang kesepian. Wajah kakumu bertolak belakang dengan ucapan puitismu. Wajah yang walaupun tersenyum atau lebih tepatnya merentangkan urat bibirmu, tetap tidak kelihatan sebagai senyuman. Itu hanya sebuah tarikan bibir, tanpa remah-remah ketulusan.

Dulu kau jauh dari kata melankolis. Sungguh ini bukanlah kebohongan. Lantas suatu senja, dia---perempuan dengan dekik curam di kedua pipinya--datang. Bukan, dia tidak menemuimu. Dia hanya datang kala senja dan pergi setelah senja hilang. Parahnya lagi, dia hanya duduk diam di bangku panjang di belakang pos penjaga jalan lintasan kereta api, tempatmu bekerja. Tatapannya hanya fokus pada satu hal. Pada senja yang mengudara.

Kau tak tahu kapan pastinya dia datang. Hari Senin kah? Hari Minggu kah? Kau tidak dapat memastikannya. Kau hanya tahu, dia datang ketika senja. Menurutmu, dia perempuan yang cantik. Dekik di kedua pipinya menggemaskan. Ketika dia tersenyum, manisnya mengalahkan madu murni yang baru dipanen dari sarang lebah. Sinarnya lebih menyilaukan daripada senja. Perempuan macam dia, mungkin hanya ada di cerita fiksi.

Kau dengan dia adalah dua kutub magnet yang berbeda. Barangkali itu yang membuat kalian tertarik satu sama lain. Tidak, menurutmu, hanya kau yang tertarik padanya. Perempuan semenawan dia, tak mungkin menyukai lelaki kesepian yang kaku.

Sejak kehadirannya di belakangmu, kau diam-diam mencuri pandang padanya. Tingkahmu begitu menggelikan. Setiap kau ingin melihat wajah senjanya, kau bergerak aneh. Kadang kau berdiri tegak seolah mengawasi jalannya lalu lintas di depanmu, tetapi setiap 10 detik, kau akan menengok ke belakang. Kadang juga kau pura-pura bersin, padahal kau mengawasinya, dan sederet tingkah unik yang kau lakukan.

Entah kau mendapat ide dari mana, kau menaruh cermin berukuran sedang di sampingmu sewaktu bekerja. Cermin ini diletakkan di posisi yang tepat agar bisa melihat pantulan dirinya. Sungguh ide yang gemilang. Kau tak perlu lagi bertingkah aneh. Sambil bekerja, kau setiap saat bisa melihat wajah dan dekik curam manisnya.

Ketika kau kebagian shift kerja pagi hari, kau tidak langsung pulang. Dulu kau akan mengeluh lelah dan berkata akan tidur setelah sampai di rumah, tetapi kini kau malah duduk di bangku itu selama berjam-jam. Menunggu senja datang. Terutama dia. Kau sangat gugup hanya melihat dirinya dari kejauhan. Dia menuju ke tempat ini dengan berjalan kaki. Kegugupanmu terang adanya di wajahmu. Wajah kakumu sungguh menggelikan.

Kau tidak tahu caranya untuk membuka pembicaraan dengan perempuan dewasa. Lantas kau hanya diam ketika dia duduk di sampingmu. Kau diam dan dia juga. Dia seakan tidak merasa terganggu. Matamu bergerak ke sana ke mari. Kau pasti ingin mengajaknya mengobrol, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu sampai senja hilang. Dia pun pergi. Kau menyesali sikap pengecutmu.

“Lihatlah, besok aku akan berani. Aku pasti bisa,” janjimu.
Kau sangat yakin ketika dia tidak ada. Esok senja, kau tetap diam dan hanya mencuri pandang. Di mana janjimu itu? Hingga suatu senja--entah senja yang ke berapa kalinya--dia lebih dulu membuka pembicaraan.
“Sudah berapa lama kau bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api?”

Kau terbuai dengan suara merdu dan lembutnya. “Ah iya? Saya sudah enam tahun bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api.”
Mata sipitnya melebar. “Lama juga. Apa selama enam tahun, kau pernah merasa bosan bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api?”

“Tidak. Tidak pernah. Mana mungkin saya merasa bosan jika menjadi penjaga jalan lintasan kereta api adalah impian sejak kecil. Menjaga lintasan demi keselamatan banyak orang,” jawab kau berapi-api. Ciiih, yang benar saja. Kau malah bosan setiap detiknya.
“Kau sangat keren,” pujinya.
“Terima kasih,” jawabmu malu-malu.

“Karena aku telah memujimu, kau harus menjadi kekasihku,” titahnya.
Kau kaget. Sampai kau terjengkang ke belakang. Itu bukan permintaan, melainkan perintah. Ini kali pertama kau mendengar perempuan ingin menjadi kekasihmu. Kau berdiri malu-malu dan menerimanya.

Kalian resmi menjadi sepasang kekasih dengan disaksikan senja dan kereta api yang melintas. Sejak kau pacaran, wajah kakumu pelan-pelan memudar. Kau bisa tersenyum dengan tulus. Bahagia. Kata yang jarang kau alami, dulu. Sekarang hanya ada kebahagiaan dan masa depan cerah di wajahmu.

Kau dan dia pasangan kekasih yang aneh. Pacaran di belakang kantormu. Tempat yang jauh dari kata romantis sebab debu-debu dan polusi dari jalan raya menjadi santapan empuk setiap hari. Ketika senja, malah lebih parah. Kala itu asap kotor dari kendaraan, lebih banyak karena bertepatan dengan waktu pulang kerja, tetapi kalian tidak menghiraukannya. Kalian tetap asyik menikmati senja sembari menjilat es krim.

“Aku bahagia bersamamu,” ucapnya.
“Aku jauh lebih bahagia,” balasmu. “Kenapa kamu mencintai lelaki kaku dengan pekerjaan terlewat biasa ini? Menjadi kekasih seorang masinis jauh lebih menyenangkan. Kau bisa bepergian mengejar senja, sedangkan aku? Aku hanya penjaga jalan lintasan kereta api dekat Stasiun Senja.”

“Aku tidak bisa menolak pesonamu. Lelaki yang menjaga senja setiap hari tidak bisa kutolak. Itu adalah cintaku,” ungkapnya.

Seketika kau melamarnya. Kau bilang, tidak ingin lama-lama melajang. Perempuan yang mencintaimu setulus hati tidak boleh dibiarkan tanpa ikatan yang jelas. Itu katamu. Lamaran itu tidak mungkin ditolak karena kau melamarnya di bawah guyuran senja.

“Ini lamaran yang paling kuidamkan,” ucapnya terharu.

Lantas keesokan harinya, kau menemui orangtuanya. Meminta izin untuk menikahi putrinya. Lamaran berjalan lancar. Tanggal pernikahan pun ditentukan hari itu juga. Satu bulan. Itu waktu untuk menyiapkan pernikahan.

Seharusnya ini kisah cinta yang berakhir bahagia. Akan tetapi, Tuhan itu aneh. Tuhan itu menjengkelkan. Bagaimana bisa sepasang kekasih yang saling mencintai harus dipisahkan? Ini skenario yang kejam. Inilah takdir di dunia ini. Dia meninggal ditelan oleh senja dan tercabik-cabik oleh kereta api.

Lantas kau berakhir dengan kesepian yang semakin menyiksa. Kau tetap harus melanjutkan hidup. Bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api. Berjumpa dengan senja dan kereta api yang telah merenggutnya. Begitulah akhir dari cerita pendek ini dan senja yang tidak melulu soal romantisme. (M-2)

BACA JUGA: Nuri

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More