Sapi Mati Mendadak di Lamongan Bukan karena Antraks

Penulis: M Yakub Pada: Kamis, 14 Feb 2019, 18:00 WIB Nusantara
Sapi Mati Mendadak di Lamongan Bukan karena Antraks

MI/M Yakub

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Lamongan, Jawa Timur (Jatim), menyatakan dua ekor sapi yang mati mendadak di  Dusun Gedangan, Desa Gempol, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, dipastkan bukan karena penyakit antraks. 

Kematian hewan ternak itu terindikasi karena mengalami keracunan pertisida. Penyebab kematian ini dipastikan dari kajian Tim Dinas Peternakan setempat. 

"Betul, dari kajian awal bukan disebabkan karena parasit darah atau antraks dan penyakit menular lainnya," terang Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan kepada Media Indonesia, Kamis (15/2) siang.

Menuruit dia, kepastian itu didapatkan setelah Tim gabungan Pemkab, dari Dinas Peternakan serta Balai Besar Peyidikan Veterinary (BBPV) mengkaji penyebab matinya hewan ternak secara mendadak tersebut.

 

Baca juga: Beras Rusak tidak Bisa untuk Pakan Ternak
    

Kuat dugaan, kematian dua ekor sapi milik Suwardi, 60, peternak Dusun Gedangan, itu diperkirakan karena keracunan setelah memakan rumput yang mengandung pertisida. Perkiraan ini dikeluarkan meski hasil uji laboratorium BBPV yang ada di di Wates, Yogjakarta belum dirilis.

"Iya memang belum keluar tapi, kuaat dugaan karena keracunan dan bukan karena terjangkit virus berbahaya," pungkasnya.
    
Sebelumnya, pada Kamis (31/1) pagi, dua ekor sapi mmilik warga di Kecamatan Sukodadi, mati mendadak. Tim gabungan Pemkab dan Balai Besar Peyidikan Veterinary (BBPV) yang menerima laporan adanya ternak mati mendadak.

Selanjutnya Tim turun ke lokasi dan mengambil sampel untuk diperiksakan pada Laboratorium (BBPV) di Wates, Yogjakarta. Pada kesempatan itu, petugas juga memberikan penyuluhan pada para peternak agar tidak menimbulkan kepanikkan. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More