Kamis 14 Februari 2019, 15:35 WIB

Erick Thohir Ajak Muslim Milenial Bangun Ekonomi Umat

Akmal Fauzi | Ekonomi
Erick Thohir Ajak Muslim Milenial Bangun Ekonomi Umat

MI/Susanto

 

KETUA Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Erick Thohir, mengajak muslim milenial untuk ikut membangun ekonomi umat. 

Menurutnya, pertumbuhan dan kemajuan ekonomi yang stabil dalam lima tahun terakhir tak hanya menempatkan Indonesia sebagai negara kelas menengah baru, tapi juga menjadikan Indonesia sebagai negara yang ramah untuk mengembangkan usaha dan investasi.

“Dengan jumlah penduduk 265 juta, dan 87% mayoritas beragama islam, maka kemudahan untuk menekuni bisnis juga menjadi pilihan masyarakat muslim di tanah air,” kata Erick dalam keterangan tertulis, Kamis (14/2).

Erick menyampaikan hal itu di depan peserta Rabu Hijrah pada Rabu (13/2) di Jakarta yang dihadiri 500 peserta. Erick menambahkan, dalam mengembangkan potensi bisnis, pemerintahan Jokowi mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Dengan demikian, lanjut Erick, peringkat kemudahan usaha (EODB/Ease of Doing Business) di Indonesia naik dalam waktu empat tahun. Pada 2014 lalu, EODB Indonesia berada di posisi 120 dari 190 negara. Pada tahun 2018 naik ke posisi 73. Tidak hanya itu, saat ini, izin dan biaya untuk memulai usaha juga lebih cepat dan murah.

"Atas dasar itulah, saya mengajak rekan-rekan sesama muslim untuk melihat peluang dan potensi usaha di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim untuk mengembangkan industri halal. Jika selama ini, kita sudah nomor satu di dunia untuk konsumsi barang halal, dalam lima tahun ke depan, kita harus jadi produsen produk halal dan hal itu harus dilakukan oleh para generasi muda muslim," ujar Erick

Rabu Hijrah merupakan kegiatan rutin yang digelar masyarakat muslim untuk saling berbagi informasi, berdiskusi, dan memberi sumbangan pemikiran demi Indonesia maju.

 

Baca juga: Anggaran Besar, KPU tidak Produksi Template DPR dan DPRD

 

Menurut data State of the Global Islamic Economy Report 2018/19, Indonesia menduduki 10 besar indeks Global Islamic Economy Indicator (GIEI) dengan skor 45, sama dengan Brunei. Negara dengan skor GIEI tertinggi berturut-turut di atas Indonesia, yaitu Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Jordan, Qatar, Pakistan, dan Kuwait.

Menurut Erick, Indonesia memiliki potensi konsumsi makanan halal nomor satu dengan total pengeluaran US$170 juta (sekitar Rp2,3 triliun) per tahun. Akan tetapi Indonesia justru tidak masuk 10 besar produsen makanan halal. 

Produsen makanan halal justru didominasi oleh UEA, Malaysia, Brazil, Oman, Jordan, Australia, Brunei, Pakistan, Sudan, dan Qatar di urutan 10 besar

"Kita itu nomor satu dari sisi konsumen. Kenapa tidak dibalik? Kita ini memiliki 265 juta penduduk. Marketnya jelas, kenapa mesti marketnya kita diambil asing. Pokoknya, banyak usaha halal atau syariah lain yang bisa dikembangkan kalangan muda muslim milenial untuk membangun ekonomi umat islam. Apalagi pemerintah saat ini memberikan dukungan dan infrastruktur yang kongkret," ujar Erick.

Sementara itu pembicara lainnya di acara Rabu Hijrah yang mengambil tema Kebangkitan Ekonomi Umat, Jimly Asshiddiqie mengatakan agar umat menjaga semangat Rabu Hijrah untuk kepentingan jangka panjang bukan sekedar untuk pilpres.

"Mari kita jaga semangat Rabu Hijrah untuk jangka panjang demi membangun bangsa Indonesia,” ujarnya.

Pada bagian lain, Pondok Pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Tangerang ustaz Yusuf Mansur mengajak para pendukung Calon Presiden menggunakan bahasa yang positif.

“Saya mengingatkan untuk semua pihak tanpa kecuali memakai bahasa yang baik, bahasa yang positif ke siapa pun , temen-teman di 02 agar bicara yang baik ke 01, begitu juga saya bicara di 01 untuk bicara yang baik ke 02,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ada satu orang ibu dengan ibu yang lain saling merendahkan. Hal seperti ini tentu tidak baik karena semua Ibu harus diangkat derajatnya. Founder PayTren ini juga menyatakan para Capres dan Cawapres adalah orang yang terbaik Indonesia, tidak sepantasnya untuk saling direndahkan. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More