Delapan Menit Pemilih Penyandang Tuna Netra di Bilik Suara

Penulis: Insi Nantika Jelita Pada: Kamis, 14 Feb 2019, 13:25 WIB Politik dan Hukum
Delapan Menit Pemilih Penyandang Tuna Netra di Bilik Suara

MI/Insi Nantika Jelita

SIMULASI Pemungutan dan Penghitungan Suara bagi Pemilih Disabilitas pada Pemilu 2019 dilaksanakan Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Disabilitas (PPUA Disabilitas) dengan mendapat dukungan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.

Simulasi itu dihadiri 200 orang dari berbagai macam penyandang disabilitas yang terbagi atas disabilitas intelektual, disabilitas fisik, disabilitas sensorik, dan disabilitas mental

Salah satu yang mengikuti simulasi pemungutan dan perhitungan suara ialah Sri Maningsih, 32. Ia merupakan penyandang disabilitas sensorik, yaitu tuna netra. Saat simulasi, Sri minta ditemani pendamping dari panitia di TPS.

Dari pantauan Media Indonesia, waktu yang digunakan Sri untuk mencoblos di bilik suara ialah delapan menit.

Saat di bilik suara, pendamping dari Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) memberitahukan bahwa hanya dua template saja yang diberikan panitia untuk pemilih penyandang tuna netra, yakni template untuk Pilpres dan DPD RI.

Baca juga: KPU Gelar Simulasi Pemungutan Suara untuk Penyandang Disabilitas

Terlihat pendamping sangat membantu Sri dalam menggunakan hak pilihnya. Namun, di satu sisi, kertas suara yang dipegang Sri cukup sulit dibuka karena jarak antara bilik suara dengan kertas suara untuk DPR RI terlihat mepet.

Ada empat kertas suara yang dicoblos Sri karena berada di DKI Jakarta, yaitu kertas suara Pilpres, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPD RI. Di DKI Jakarta tidak ada DPRD Kabupaten/kota.

Usai melakukan simulasi pencoblosan, Sri mengatakan kepada Media Indonesia bahwa ia merasa kesulitan karena template yang diberikan hanya dua saja.

"Agak sulit tadi karena enggak ada template untuk DPR RI dan DPRD. Tapi, tadi, saya sangat dibantu oleh pendamping. Bapak itu dengan sabar menuntut saya dan kasih tahu saya letak-letaknya seperti yang buat (kertas suara) DPR RI," ungkap Sri di Gedung Aneka Bakti Kementerian Sosial, Salemba Raya, Jakarta, Kamis (14/2).

Kemudian, dari pantauan Media Indonesia juga, untuk pemilih penyandang tuna rungu membutuhkan pendamping saat mencoblos. Waktu yang digunakan lebih singkat dibanding penyandang tuna netra. Pun juga dengan pemilih penyandang disabilitas fisik yang menggunakan kursi roda dan tongkat.

Pemilih penyandang disabilitas intelektual juga harus ditemani pendamping.

Rizky, 18, memiliki gangguan intelektual ditemani gurunya saat mengambil kertas suara namun pergi sendiri ke bilik suara karena merasa bisa menggunakan hak pilihnya tersebut. Waktu yang digunakan mereka semua saat berada di bilik suara saja sekitar empat menit.

Saat ditanyakan ke salah satu petugas KPPS saat simulasi terjadi, ia mengatakan bahwa hanya ada satu pendamping yang disiapkan panitia di TPS.

"Ya hanya satu orang saja. Kami mengimbau agar pemilih penyandang tuna rungu bisa membawa keluarganya karena keterbatasan panitia kami di TPS. Tapi panitia berupaya maksimal melayani mereka dengan baik." ucap salah satu petugas KPSS saat simulasi diadakan. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More