Produktivitas Teh Nasional belum Optimal

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Kamis, 14 Feb 2019, 13:15 WIB Ekonomi
Produktivitas Teh Nasional belum Optimal

MI/SUMARYANTO

INDUSTRI teh Indonesia masih dihadapkan pada persoalan klasik yakni produktivitas yang tidak maksimal.

Dewan Teh Indonesia menyebutkan rata-rata produktivitas tanaman teh hanya 1,1 ton per hektare (ha) per tahun. Padahal, secara optimal, tanaman teh bisa mencapai 2,5 ton per ha per tahun.

Rendahnya produktivitas tidak terlepas dari usia tanaman yang sudah sangat tua.

Dari total 117 ribu lahan, 46% merupakan perkebunan teh rakyat yang hanya mampu menghasilkan 0,8 ton per ha per tahun.

"Tanaman mereka sudah berusia tua dan perlu diremajakan," ujar Direkutur Eksekutif Suharyo Husen kepada Media Indonesia, Kamis (14/2).

Sedianya, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan berupa program Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN) namun bantuan itu dinilai belum maksimal.

Baca juga: Kebijakan di Sektor Pangan Dirasakan Langsung Oleh Petani

Sejak pertama kali dicanangkan pada 2014, angka bantuan GPATN yang ditujukan untuk replanting dan pengelolaan terus mengalami penurunan.

Pada 2014, alokasi yang dianggarkan untuk program tersebut sebesar Rp48 miliar. Kemudian turun menjadi Rp42 miliar pada 2015.

Terus menyusut hingga Rp21 miliar pada 2016 dan mencapai angka terendah yakni Rp2,2 miliar di 2017.

"Kemarin, 2018, baru naik lagi sedikit jadi 2018 dan tahun ini diperkirakan hanya Rp7 miliar. Pada intinya, trennya turun terus," lanjutnya.

Hal tersebut sangat disayangkan lantaran teh merupakan salah satu komoditas ekspor potenskal yang memiliki pasar yang kuat.

Dari total produksi 140 ribu ton per tahun, sebanyak 60% ditujukan untuk pasar global.

Hanya 40% yang dipasok untuk pasar lokal karena memang kebutuhan di dalam negeri sangat minim. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More