Kamis 14 Februari 2019, 07:20 WIB

Rujukan Kekinian para Pemburu Kuliner

Rizky Noor Alam | Indonesia 2018
Rujukan Kekinian para Pemburu Kuliner

MI/ BARY FATHAHILAH

Kendati telah memiliki pengikut dalam jumlah masif, keduanya mengaku tidak ngoyo dalam membuat konten.

Dewasa ini, bagi banyak orang, aktivitas makan tidak lagi sekadar mengisi perut. Tidak sedikit yang memaknai kegiatan tersebut sebagai suatu pengalaman istimewa. Kepuasan lidah, juga batiniah, yang lantas diejawantahkan dalam bentuk kesaksian berupa teks maupun foto. Mediumnya kebanyakan di ranah daring, dalam bentuk blog, situs pribadi, ataupun media sosial.

Bila diselisik ke belakang, kegemaran berbagi cerita tentang acara makan-makan itu barangkali mulai berkembang pada awal 2000-an ketika kolom 'kulineran' mendiang Bondan Winarno sukses menuai popularitas, dan bahkan melahirkan satu komunitas besar tersendiri.

Kolomnya kemudian beralih wahana ke program televisi seiring dengan kian maraknya pemanfaatan internet oleh masyarakat awam untuk berbagi cerita kulineran. Mereka yang cakap dan konsisten mendokumentasikan pengalaman kulinernya tak jarang menjadi rujukan para warganet dalam berburu santapan. Salah satunya ialah Anak Jajan.

Pada Jumat lalu (8/2), Media Indonesia berkesempatan berbincang dengan duo food blogger tersebut di Hotel Mercure Jakarta Sabang, Jakarta Pusat. Duo?

Ya, Anak Jajan ialah nama yang diusung pasangan suami-istri Julia Veronica dan Marius Tjenderasa. Jika Anda menyimak akun Instagram @anakjajan, pastinya Anda mafhum bahwa akun tersebut ialah akun food and travel blogger yang kerap membagikan berbagai pengalaman mereka dalam dunia kuliner dan travel.

"Anak Jajan itu dimulai sejak 2011, ketika pacaran," ungkap Julia membuka percakapan.

Anak Jajan lahir dari kesukaan keduanya pada makanan. Mencicipi hidangan atau tempat-tempat kuliner menjadi salah satu 'rutinitas' pasangan yang mulai berkencan sejak 2004 tersebut. Pengalaman icip-icip itu lantas mereka tuangkan dalam suatu situs blog.

"Mulainya spontan banget. Waktu itu tahun 2011, yang namanya blog di Indonesia belum common, banyak orang belum tahu bloger itu apa," jelas sang suami, Marius.

Blog tersebut menjadi jurnal kuliner yang padat. Maklum, keduanya rajin berburu tempat makan, sampai-sampai terkadang suka lupa restoran mana yang sudah mereka sambangi atau hidangan yang mereka cicipi.

Di samping sebagai rekam jejak, blog tersebut juga mereka maksudkan sebagai sumber informasi bagi orang lain. "Banyak juga keluarga yang tanya, kalau ke tempat ini makan apa saja, rekomendasinya apa. Dari situ kita buat diary dalam bentuk blog, siapa tahu ada yang butuh referensi di suatu restoran," imbuh Marius.

Mereka kemudian merambah Instagram mulai akhir 2013, kendati diakui Marius, akun Instagram Anak Jajan baru mulai intensif pada 2014 bersamaan dengan semakin ramainya pengguna media sosial itu di Indonesia.

"Instagram baru belakangan karena waktu 2011 Instagram belum 'hidup', belum ada yang pakai juga. Lebih banyak di Twitter, Facebook. Jadi, awalnya kita buat blog diikuti dengan Twiter dan Facebook. Instagram baru buat 2013 akhir," terang Julia.

Saat ini, jumlah unggahan Anak Jajan di Instagram telah mencapai lebih dari 9.400. Jumlah pengikutnya sudah berkisar 321 ribu. Namun, kendati telah memiliki pengikut dalam jumlah masif, keduanya mengaku tidak ngoyo dalam membuat konten. Umpama, mereka mengaku tidak memiliki target tertentu untuk jumlah restoran yang harus dikunjungi per hari. Semua berjalan mengalir.

"Kami tetap punya pekerjaan lain, tapi jatuhnya freelance karena lebih fleksibel. Anak Jajan sendiri lebih ke hobi. Tidak ada kejar setoran sehari harus ke berapa tempat, jalani mengalir saja," ungkap Julia.

Kendati sekadar hobi, keduanya tidak menampik adanya pundi tambahan yang mereka peroleh lewat Anak Jajan. Akun tersebut, seperti tertera di situsnya, memang membuka peluang kerja sama dengan pihak lain, seperti untuk advertorial, buzzer, dan sebagainya. Namun, Julia dan Marius enggan memberikan bocoran fee yang mereka kutip untuk kerja sama tersebut.

Lebih lanjut, mereka mengaku tidak ada kriteria yang rumit untuk hidangan atau tempat makan yang akan mereka tulis atau endors. Yang pasti, rasanya cocok dengan selera mereka. Jenis makanannya pun tidak pilih-pilih, bisa makanan kaki lima, gerobakan, restoran, ataupun hotel.

Merambah travel

Kini, Anak Jajan yang pernah meraih penghargaan Influence Asia 2017 dan RCTI Sosmed Awards 2016 tersebut tidak hanya berisikan aneka unggahan tentang makanan, tetapi juga tentang perjalanan. Julia dan Marius mengaku, selain makan, keduanya juga hobi jalan-jalan. Berdasarkan pengalaman jalan-jalannya tersebut, mereka kerap membagikan berbagai tips dan trik seputar perjalanan.

"Banyak tips yang cukup membantu, misalnya ada yang membutuhkan tips-tips travel sendirian, atau hal-hal basic yang dibutuhkan di suatu negara. Tapi ini sebenarnya related dengan kuliner kita karena ada wisata kulinernya. Jadi yang juga menjadi pertimbangan kita ke suatu tempat ialah kulinernya juga," ujar Julia.

Pasangan yang menikah pada 2014 itu menyepakati Jepang sebagai negara favorit mereka lantaran banyak pengalaman berkesan, mulai dari ketinggalan pesawat, tidur di bandara, ketinggalan koper di tengah musim dingin, dan tentunya, beragam kuliner lezat di 'Negeri Sakura' tersebut.

Meskipun dikenal sebagai food and travel blogger, Julia dan Marius berharap para follower-nya dapat bijak dalam meikmati konten yang mereka sajikan melalui Anak Jajan.

"Harus tahu batasan, kalau mampunya segitu, ya sudah jangan memaksakan ikut tren. Jangan demi media sosial pinjam uang sana-sini buat pamer. Kita rekomendasi bukan makanan mahal-mahal saja, kadang juga kaki lima," pungkas Marius. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More