Kamis 14 Februari 2019, 06:40 WIB

Australia Buka kembali Tahanan Pencari Suaka

(Aljazeera/Tes/I-2) | Internasional
Australia Buka kembali Tahanan Pencari Suaka

(Photo by Saeed KHAN / AFP)

 

PERDANA Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, memutuskan akan membuka kembali pusat penahanan lepas pantai yang kontroversial di Pulau Christmas. Langkah itu bakal meningkatkan kebijakan garis keras dari pemerintah konservatif terhadap para imigan dan pencari suaka, sekaligus menjadi respons langsung atas kekalahan bersejarah di parlemen.

Kemarin, Morrison menyetujui pembukaan kembali fasilitas terpencil yang telah ditutup beberapa bulan lalu tersebut. Dia mengklaim undang-undang yang telah disahkan dapat meningkatkan jumlah pencari suaka ke Australia melalui jalur laut.

Regulasi itu, terangnya, memungkinkan imigran dan pencari suaka ditahan di kamp-kamp lepas pantai yang berlokasi di Pulau Nauru dan Pulau Manus Papua Nugini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Australia.

Di sana mereka akan mendapat pengawasan medis dengan diagnosis dokter. Morrison menuding kubu oposisi, yaitu Partai Buruh Australia, berupaya melemahkan dan mengompromikan wilayah perbatasan Australia.

Untuk itu, dia mengklaim telah mengadopsi 100% rekomendasi layanan keamanan terkait dengan upaya pencegahan kedatangan imigran dan para pencari suaka melalui jalur laut.

"Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan kapal-kapal imigran dan pencari suaka tidak kembali. Saya mengerahkan segala kekuatan pemerintah dan menghalangi datangnya kapal-kapal baru ke Australia," tutur Morrison dalam akun Twitter-nya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Refugee Legal, David Manne, menyatakan pusat penahanan tidak manusiawi dan semestinya tidak dibuka kembali.

"Fasilitas penahanan di Pulau Christmas yang pernah beroperasi hampir dua dekade, menuai banyak kritikan karena kondisinya seperti penjara," kata Manne.

"Suatu keprihatinan yang sangat serius ketika pemerintah menyarankan pusat penahanan itu dibuka kembali. Hal itu akan memperparah kondisi orang-orang yang menyelamatkan diri dari bahaya. Pun, lokasinya tidak cocok untuk menahan orang-orang yang akan dipulangkan kembali dari Pulau Nauru dan Pulau Manus. Apalagi, mereka yang sakit parah dan membutuhkan intervensi medis segera," imbuhnya.

Australia pertama kali membuka fasilitas penahanan di lepas pantai bagi pencari suaka, setelah insiden Tampa pada 2001. Saat itu, pemerintah menolak sebuah kapal Norwegia yang menyelamatkan ratusan warga Afghanistan saat memasuki perairan Australia.

Baca Juga

AFP/Martin BUREAU

Tunawisma yang Meninggal di Prancis Tetap Dikubur Secara Layak

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 21:25 WIB
Badan persaudaraan amal dari Saint Eloi di Bethune tetap melakukan pemakaman secara layak pada tunawisma di tengah wabah covid-19 yang...
Antaranews

149 WNI di Fiji Bebas Covid-19

👤Antara 🕔Selasa 31 Maret 2020, 20:26 WIB
Di Fiji terdapat lima warganya terkena...
AFP/NARINDER NANU

Rawat Pasien Covid-19, Dokter di India Pakai Jas Hujan dan Helm

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 19:02 WIB
Kurangnya alat pelindung diri (APD) di India memaksa beberapa dokter di sana untuk menggunakan jas hujan dan helm sepeda motor saat merawat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya