Selasa 12 Februari 2019, 18:55 WIB

Jalur Nasional lebih Untungkan Sopir Angkutan Barang

Akhmad Safuan | Nusantara
Jalur Nasional lebih Untungkan Sopir Angkutan Barang

ANTARA FOTO/Wira Suryantala

 

PARA pengemudi angkutan barang masih memilih jalan nasional daripada Jalan Tol Trans Jawa karena lebih menguntungkan, meskipun dalam segi waktu lebih panjang beberapa jam untuk sampai tujuan.

Pemantauan Media Indonesia, Selasa (12/2), kendaraan angkutan barang lebih memilih jalan nasional di sepanjang pantai utara (pantura) Jawa. Kendaraan seperti truk dan pikap atau mobil boks terlihat memenuhi jalan nasional. Beberapa terlihat parkir di sejumlah titik kantong parkir di sepanjang pantura untuk beristirahat di sela perjalanan.

Beberapa titik di ruas jalur pantura Pekalongan-Semarang masih menjadi titik rawan macet akibat kendaraan angkutan barang memenuhi jalan nasional tersebut, seperti di Wiradesa dan Jalan Slamet (Pekalongan), Alun-Alun-Pasar Batang, Cepiring-Kendal Kota, Mangkang-Krapyak, dan Kaligawe-Genuk (Semarang).

Demikian ke pantura timur Jawa Tengah arus lalu lintas kerap tersendat, sebagian diwarnai angkutan barang, khususnya di ruas Pasar Sayung (Demak), memasuko jembatan Tanggulangin (Kudus) dan keluar dari Lingkar Kudus.

"Saya memilih lewat jalur nasional karena lebih menguntungkan, meskipun lebih lama perjalanan 4-6 jam," kata Asmuni, 45, sopir truk barang dari Kudus tujuan Tegal yang ditemui di Lingkar Demak.

Hal senada juga diungkapkan Tamrin, 48, sopir truk asal Malang, Jawa Timur yang ditemui saat beristirahat di Weleri, Kendal. Menurut Thamrin ketimbang mengeluarkan uang untuk bayar tol Malang-Jakarta sekitar Rp1 juta lebih baik uang tersebut untuk tambahan bekal di jalan. "Saya bisa lebih banyak bawa pulang uang daripada untuk bayar tol," imbuhnya.

Keuntungan lain melintas jalan nasional, ujar Tamrin, adalah sopir dapat berhenti atau istirahat sesuka hati, tidak terpancang oleh kondisi. Demikian pula saat mengalami kerusakan seperti ban bocor.

Di jalan nasional, mereka  dapat berhenti kapan saja untuk perbaikan. Sebaliknya. jika di tol pasti terkena derek dan sulit sekali mencari bantuan.

Ketika titanya tentang tarif tol, baik Tamrin maupun Asmuni mengaku mahalnya tarif tol juga menjadi salah satu pertimbangan keengganan sopir angkutan barang melintas tol. Apalagi, para pengusaha angkutan dan pemilik barang hanya memberikan tambahan biaya tol tepat sesuai tarif yang dibebankan.

"Mungkin jika tarif lebih ringan dan fasilitas khusus untuk pemberhentian truk ditambah sangat membantu para sopir dan mereka tertarik untuk melintas tol," ujar Tamrin. (A-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More