Selasa 12 Februari 2019, 17:12 WIB

9 dari 10 orang Indonesia Belum Menyiapkan Pensiun dengan Matang

Fetry Wuryasti | Ekonomi
9 dari 10 orang Indonesia Belum Menyiapkan Pensiun dengan Matang

MI/ADAM DWI

 

BANK HSBC Indonesia menerbitkan survei HSBC Future of Retirement 2018 yang menyasar 1,000 responden di Indonesia. Hasil penelitian mereka menunjukkan minimnya kesiapan pensiun di kalangan usia kerja.

Melalui riset bertajuk Future of Retirement, Bridging the Gap, sebesar 68% dari total responden mengharapkan masa pensiun yang nyaman dan tenang. Meski bekerja dan memiliki penghasilan tetap per bulannya, sebanyak 9 dari 10 responsen menyatakan kekhawatiran mereka untuk menutup beragam biaya di masa pensiunnya.

Baca juga: Sektor Pariwisata Sumbar Terpukul Mahalnya Tiket Pesawat

"Hanya 30% dari total responden yang ‘menabung’ untuk masa pensiun mereka," kata Steven Suryana, Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia, di Jakarta, Selasa (12/2)

Kesenjangan ini mengakibatkan mayoritas responden survei memiliki kekhawatiran akan mandiri secara finansial saat masa pensiunnya nanti, yakni sebanyak 86% khawatir akan dapat hidup dengan nyaman, 83% khawatir akan meningkatnya kebutuhan biaya kesehatan, dan 77% khawatir akan kehabisan dana pensiun.

“Masa pensiun merupakan saat seseorang idealnya menikmati masa istirahat bersama keluarga setelah bertahun-tahun bekerja. Namun hal ini harus direncanakan dengan matang sedari dini. Sayangnya, kesadaran ini biasanya timbul saat kita sudah mendekati masa pensiun,” tandasnya.

Masa pensiun di Indonesia seringkali diasosiasikan dengan waktu untuk bermain dan merawat cucu. Namun survei ini menunjukkan bahwa 2/3 responden usia kerja menyatakan akan lanjut bekerja setalah pensiun, seperti memulai berwirausaha (54%).

Sedangkan sisanya memilih untuk mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan (29%), kembali mencari pekerjaan (25%), serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah (19%).

“Yang juga mengkhawatirkan adalah lebih dari 3/4 responden usia kerja mengharapkan anaknya akan membantu mereka di masa pensiun, sedangkan kenyataannya saat ini hanya kurang dari 1/3 responden usia pensiun menerima bantuan dari anaknya,” lanjut Steven.

Sementara itu, beberapa sumber dana lain yang diharapkan menopang masa pensiun seperti tunjangan dari tempat kerja, atau tabungan akan semakin berkurang seiring dengan bertambah tua usia.

Steven juga menjelaskan pentingnya untuk kita memvisualisasikan masa pensiun kelak sedari sekarang. Dengan memiliki visi masa pensiun yang jelas, bersama mitra keuangan yang tepat, persiapan pensiun dapat dilakukan dengan efektif, menggunakan beragam instrumen yang sesuai dengan profil risiko yang kita miliki.

“Kesadaran akan kebutuhan realistis di hari tua dapat memulai percakapan yang penting untuk perencanaan pensiun. Yang pasti, semakin dini kita mempersiapkan diri, semakin bisa kita mewujudkan mimpi menjadi crazy rich retiree di Indonesia,” pungkas Steven.

Future of Retirement merupakan studi yang dilaksanakan oleh HSBC global terhadap 17,405 orang di 16 negara. Di Indonesia, survei ini direspon oleh 1.050 responden yang terdiri dari mereka yang usia produktif dan pensiun.

Steven lebih lanjut mengatakan memang tidak ada hitungan pasti sejak kapan perencanaan pensiun harus mulai dipersiapkan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan nasabah, rencana pensiun dan profil risiko nasabah.

Baca juga: Trans-Jawa Sepi Imbas Perilaku Pengusaha dan Pengemudi Truk

"Harus dimulai secepatnya. Karena masa bekerja hanya 30-40 tahun. Praktis masa mengumpulkan uang pensiun, masa yang singkat. Usia produktif tidak lama," paparnya.

Saat mulai investasi, mulailah dengan investasi yang lebih agresif ktika muda, dengan jangka waktu 15 tahun. Lalu pada 15 tahun berikutnya berlanjut ke instrumen investasi yang lebih konservatif.

"Semakin terlambat, kompensasinya jumlah investasi semakin besar. Investasikan sekitar 10% dari pendapatan sudah cukup tepat, setiap tahun dinaikan 5%," jelas Steven. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More