Selasa 12 Februari 2019, 17:03 WIB

Jalan Buruk, Warga Tandu Jenazah Sejauh 5 Km

Yohanes Manasye | Nusantara
Jalan Buruk, Warga Tandu Jenazah Sejauh 5 Km
 

MARKUS Mbaur, 40, menghembuskan nafas terakhirnya di Puskesmas Lengko Elar, Senin (11/2) pagi. Ia menderita sakit keras. Nyawanya tak terselamatkan meskipun sempat dirawat paramedis selama dua malam.

Penderitaan Markus tak hanya menahan sakitnya. Cerita tentang keterbelakangan dan keterisolasian serta akses terhadap fasilitas umum lainnya menambah derita pria asal kampung Weong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT itu.

Baca juga: 268 Orang Dengan Gangguan Jiwa di Jawa Barat Masih Dipasung

Jarak Desa Rana Gapang menuju Puskesmas Lengko Elar sejauh lima kilometer. Kondisi jalan sangat memprihatinkan. Sebagian masih berupa lapisan bebatuan yang dibangun mulai tahun 2016 sampai 2018. Sisanya berupa jalan tanah.

Kendaraan roda empat hanya bisa melintas pada musim kemarau. Ketika musim hujan tiba, warga harus berjalan kaki. Inilah yang diderita Markus dan warga lainnya.

Saat diberangkatkan menuju Puskesmas pada Sabtu (9/2), Markus ditandu oleh warga. Ketika kembali dalam kondisi tak bernyawa lagi, tandu yang sama pula yang digunakan warga untuk mengangkut Markus kembali ke rumah duka sebelum dimakamkan.

"(Saat mengantarkan pasien) dari Weong ke Puskesmas Elar pakai tandu. Jaraknya sekitar lima kilometer. Saat (pulang) antar jenazah dari Puskesmas menuju Weong juga pakai tandu" tutur Ino, salah seorang warga yang ikut mengantarkan jenazah Markus saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (12/2).

Air mata kedukaan dan keringat lelah karena jauh dan sulitnya perjalanan bercampur jadi satu. Untung saja, saat mereka menandu jenazah, langit sedang cerah. Sehingga jenazah dan warga yang memikul tandu tak kehujanan.

Warga lainnya, Flori Reweng, mengatakan saat memulangkan jenazah dari Puskesmas Lengko Elar menuju rumah duka di kampung Weong, tak ada satu pun kendaraan yang bisa membantu.  "(Bahkan) kendaraan milik Puskesmas pun tidak ada," kata Flori.

Kepala Puskesmas Lengko Elar, Agustinus Jarut, membenarkan hal itu. Ia mengatakan tak ada kendaraan yang bisa mengantar jenazah lantaran akses jalan yang sulit. "Akses ke Weong (Desa Rana Gapang) musim hujan sulit," katanya.

Ia juga membenarkan jika saat itu kendaraan milik Puskesmas tak ada di tempat. Mobil dinas Puskesmas, kata Agus, sedang berada di Ruteng. Kendaraan tersebut digunakan oleh sopirnya yang sedang memproses surat izin mengemudi (SIM) di Polres Manggarai.  "Oto (mobil) betul ada di Ruteng. Sopir urus perpanjangan SIM," katanya.

Pengalaman warga menggotong atau menandu pasien dan jenazah berkilo-kilo meter bukan baru pertama kali terjadi di wilayah itu. Elar merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur yang masih terisolir.

Baca juga: Ini Dampak Positif LRT Palembang untuk Ekonomi Daerah

Tak banyak desa yang sudah dijangkau jalan beraspal. Hanya beberapa desa yang dilalui jalan utama penghubung ibukota kecamatan menuju ibukota kabupaten yang sudah menikmati jalan aspal. Selain itu, beberapa desa yang terhubung ke jalur utama tersebut mulai menikmati jalan aspal dari Dana Desa dalam satu dua tahun terakhir.

Setidaknya, terdapat 8 desa dari total 14 desa dan satu kelurahan di wilayah itu yang belum mengakses jalan layak. Jalan menuju 8 desa itu umumnya berstatus jalan kabupaten sehingga tak bisa menggunakan Dana Desa. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More