Selasa 12 Februari 2019, 16:39 WIB

Turbulensi Bagasi Berbayar Akibat Kurang Sosialisasi

Cahya Mulyana | Ekonomi
Turbulensi Bagasi Berbayar Akibat Kurang Sosialisasi

ANTARA

 

POLEMIK bagasi berbayar disebabkan maskapai yang menerapkan kebijakan ini kurang melakukan sosialisasi. Padahal dari sisi regulasi penerapan tarif terhadap bagasi diperbolehkan.

"Tidak dipungkiri jika saat ini ada maskapai langsung mengenakan tarif yang cukup memberatkan ditambah lagi kurang sosialisasi, akhirnya terjadilah kegaduhan," terang Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio dalam keterangan resmi, Selasa (12/2)

Menurut dia maskapai seyogyanya memastikan pengguna jasa angkutan udara mengetahui pemberlakukan bagasi berbayar. Kemudian dalam penetapan tarifnya harus mengedepankan rasa keadilan dengan standar harga yang proporsional.

"Saya mempunyai keyakinan jika konsumen dikenakan tarif yang proporsional dan diberikan sosialisasi yang masif maka penumpang akan bisa menerima kok," tegasnya.

Agus menyarankan Kementerian Perhubungan (Kemehub) tidak terlalu jauh mengurus persoalan bagasi berbayar yang secara hukum diperbolehkan. Terlebih ketentuan serupa juga dianut oleh industri penerbangan internasional.

"Pemerintah fokus saja terkait masalah keselamatan penerbangan Itu yang utama," terangnya.

Pengamat angkutan udara, Alvin Lie menambahkan bahwa keputusan Lion Air, Wings Air dan Citilink sebagai maskapai Low Cost Carrier (LCC) untuk memungut biaya bagasi tidak bertentangan dengan ketentuan apapun.

"International Air Transport Association (IATA) nomor 302 tahun 2011 menjelaskan kewanangan pengenaan biaya tersebut juga boleh dengan penentuan tarif berdasarkan biaya per kilogram, biaya berdasarkan sektor, biaya sama rata dan sebagainya," pungkasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More