Selasa 12 Februari 2019, 00:30 WIB

Mengurangi Beban Limbah di Cidadap

Cikwan Suwandi/N-2 | Nusantara
Mengurangi Beban Limbah di Cidadap

MI/Cikwan

 

PATOK-PATOK tegap berdiri di bantaran Sungai Cidadap sejak 2015, yang merupakan anak Sungai Citarum. Tepatnya di Jalan Wibiksana Blok L Bumi Perumnas Telukjambe, Desa Sukaluyu, Karawang, Jawa Barat.

Patok kayu itu sebagai tanda jika lahan bantaran itu dikuasai  warga yang memiliki harta berlebih untuk membangun usaha indekos. Padahal, lahan bantaran sungai harus steril dari bangunan. Bantaran sungai yang tidak steril dari pembangunan membuat  Sungai Cidadap tercemar, terutama limbah rumah tangga. Apalagi di Perumnas Telukjambe dihuni 10 ribu kepala keluarga. Busa sabun di sungai menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga yang melalui Sungai Cidadap.
Kondisi sungai yang memprihatinkan itu membuat Hendro Wibowo, 36, warga setempat, mengajak sejumlah teman bertekad untuk mengubah pola hidup warga terhadap sungai.

Diawali dengan menanam pohon di lahan bantaran dan menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan bantaran Sungai Cidadap kepada warga. Hingga akhirnya terbentuk Komunitas Swadaya Masyarakat (KSM) Sahabat Lingkungan.

Dalam perjalannnya KSM Sahabat Lingkungan mulai berkonsentrasi melakukan pembinaan lingkungan kepada warga. Bantaran sungai yang tadinya kumuh disulap menjadi tempat edukasi dan konservasi. Di situ juga tersedia tempat pembibitan pohon, pupuk organik, bank sampah hingga edukasi ekonomi kreatif. “Kami berusaha untuk membuat Ekoriparian Citarum,” ungkap Hendro, Sabtu (9/2).

Pada 2018, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan mempertemukan Hendro dengan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kemudian mulai dibuatnya teknologi IPAL Wetland-Biocord. IPAL untuk mengelola limbah cair dari rumah tangga. IPAL ini telah diresmikan Menteri LHK, Siti Nurbaya, pada Sabtu (9/2).

IPAL Wetland-Biocord dibangun di atas lahan seluas 6 meter x 5 meter. Wetland ini menggunakan teknologi biocord dan serat sintentis yang di dalamnya terdapat bakteri khusus. “Prosesnya secara biologis tanpa kimia. Kalau secara kasat mata kondisi limbah cair rumah tangga berubah secara total, sebelum mengalir ke Sungai Cidadap,” jelasnya.

IPAL seluas 6 meter x 5 meter itu diperuntukkan 250 rumah. Dengan kapasitas limbah yang bisa ditampung per harinya di tiap rumah sebanyak 900 liter.

Kemudian KLHK kembali membangun IPAL Wetland-Biocord 8 meter x 15 meter untuk kapasitas 2.200 kepala keluarga. “Paradigma sungai harus segera diubah oleh warga. Bukan sebagai tempat pembuang limbah.” tegas Siti. (Cikwan Suwandi/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More