Senin 11 Februari 2019, 10:30 WIB

Dari Penyimpanan Sepatu Jadi Pusat Literasi Terbaik

MI | Humaniora
Dari Penyimpanan Sepatu Jadi Pusat Literasi Terbaik

INSTAGRAM MASJID FATAHILLAH
PUSAT LITERASI: Seorang guru mengajar beberapa remaja di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masjid Fatahillah di Jakarta Timur.

 

LIMA belas tahun lalu, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masjid Fatahillah di Jakarta Timur hanya sebuah tempat penyimpanan sepatu. Kini, taman bacaan yang digagas Aki Harto Oetomo itu telah berubah wujud menjadi pusat literasi anak-anak hingga remaja.

Taman bacaan ini menawarkan tempat sederhana tetapi nyaman bagi pembaca atau hanya untuk sejenak berkumpul. Lokasinya persis di pelantaran Masjid Fatahillah yang terletak di Jalan Bulak Rantai No 30 RT 4/RW 5, Kampung Tengah, Kramat Jati.

Rerimbunan pohon di sekitar taman bacaan membuat suasana di sana begitu sejuk. Tak hanya pohon, beragam tanaman hijau dan majalah dinding (mading) makin mempercantik suasana dan membuat betah siapa pun yang datang ke sana.

Selain meminjamkan buku, majalah, atau koran, taman bacaan ini juga memiliki kegiatan mewarnai, bercocok tanam, hingga melipat origami setiap minggunya.

"TBM Masjid Fatahillah sering membantu para anak untuk belajar dan menulis secara nonformal, dan kegiatan lainnya untuk meningkatkan minat baca pada generasi milenial," ujar pengelola TBM Masjid Fatahillah, Ela Siti, ketika ditemui Media Indonesia, belum lama ini.

Untuk kegiatan tahunan, sejumlah pendidikan usia dini (PAUD) digandeng untuk melakukan kunjungan ke TBM Masjid Fatahillah.

Sesekali TBM Masjid Fatahillah juga membawa anak-anak asuhnya untuk mengadakan kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Saat ini, TBM Masjid Fatahillah memiliki koleksi 6.000 buku yang dikumpulkan dari sumbangsih masyarakat maupun hibah pemerintah. Jenis buku yang tersedia di taman bacaan ini bervariasi, dari buku komik, pelajaran, bahasa, motivasi, hingga agama. Bukan hanya buku anak atau remaja, taman bacaan ini juga memiliki koleksi bacaan untuk orang dewasa.

Tantangan yang dihadapi taman bacaan ini ke depan ialah bagaimana meningkatkan literasi masyarakat, khususnya generasi muda. Pasalnya, tingkat kunjungan masyarakat masih sedikit.

"Tidak lebih dari 30 orang setiap minggunya," sebut Ela.

Selain itu, ungkap Ela, perhatian dan bantuan dari pemerintah terhadap TBM Masjid Fatahillah masihlah minim. "Bantuan pemerintah memang ada, tetapi tidak ada bantuan secara nominal yang rutin. Padahal, banyak kegiatan taman baca sendiri yang membutuhkan biaya."

Sejauh ini, bantuan yang diberikan Suku Dinas dan Arsip Jakarta Timur kepada TBM Masjid Fatahillah berupa 4 kursi dan 1 meja pada 2016 lalu. Ada juga bantuan berupa pelatihan bagi pengelola dan bantuan 90 buku dalam kurun lima tahun terakhir (2014-2019).

Meski minim bantuan pemerintah, TBM Masjid Fatahillah tak berkecil hati dan terus melakukan inovasi. Tak mengherankam jika TBM Masjid Fatahillah dianggap sebagai salah satu taman bacaan terbaik di Jakarta.

Pada 2017, TBM Masjid Fatahillah menjadi salah satu nominasi TBM kreatif-rekreatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More