Parlemen Australia Terkena Serangan Siber

Penulis: : (BBC/Tes/I-1) Pada: Sabtu, 09 Feb 2019, 04:20 WIB Internasional
Parlemen Australia Terkena Serangan Siber

ilus

PIHAK berwenang tengah menyelidiki aksi peretasan yang menyerang jaringan komputer Parlemen Australia. Meski sejumlah anggota parlemen mengaku tidak ada bukti yang menunjukkan akses atau pencurian data, kata sandi komputer para politikus diatur ulang sebagai langkah antisipasi.

Pakar keamanan siber setempat menyebut pelaku peretasan kemungkinan berasal dari negara lain. Perdana Menteri (PM) Australia belum mau berkomentar lebih lanjut mengenai sumber maupun motif peretasan. Dia mengatakan, belum ada petunjuk yang menyatakan lembaga atau departemen pemerintah menjadi target kejahatan siber.

Mayoritas anggota dan staf parlemen menggunakan jaringan komputer untuk menyimpan surat elektronik, yang masuk dalam sistem penyimpanan data.

Senada, anggota parlemen senior juga mengungkapkan belum ada bukti yang menunjukkan upaya peretasan bertujuan memengaruhi proses pemilihan umum (pemilu) atau politik. Namun, pemimpin oposisi Bill Shorten menggambarkan insiden tersebut sebagai alarm yang semestinya menyadarkan. Anggota parlemen lainnya juga ada yang berkomentar demikian.

Serangan ini terjadi ketika Australia tengah mempersiapkan pemilu nasional yang mungkin akan diadakan pada Mei mendatang. Mengingat hal itu, kata Hanson, serangan terhadap sistem e-mail resmi anggota parlemen menjadi perhatian, mengingat upaya baru-baru ini yang terkenal untuk memengaruhi pemilu ialah serangan siber.

Australia bergabung dengan AS pada Desember lalu dalam mengutuk kelompok peretasan yang didukung Tiongkok karena mencoba mencuri kekayaan intelektual. Akan tetapi, pemerintah Canberra belum secara terbuka meminta Tiongkok untuk bertanggung jawab atas serangan dunia maya lainnya yang menurut para pakar keamanan nasional tampaknya memiliki sidik jari.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Australia menghadapi sejumlah serangan siber. Beberapa di antaranya terkait dengan negara asing seperti Tiongkok. Pada 2015 dan 2016, terjadi serangan siber pada jaringan badan cuaca nasional dan lembaga statistik.

"Sepertinya ada campur tangan negara lain di balik serangan siber. Anda akan memiliki akses ke ruang korespondensi antara politisi, staf, dan orang-orang yang bertugas di gedung parlemen," tukas Fergus Hanson.

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More