Pembunuhan Khashoggi Didalangi Pejabat Saudi

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Sabtu, 09 Feb 2019, 05:00 WIB Internasional
Pembunuhan Khashoggi Didalangi Pejabat Saudi

(Photo by Cemal YURTTAS / AFP)

PENYELIDIK hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memimpin investigasi internasional kematian jurnalis Jamal Khashoggi, mengungkapkan kasus pembunuhan tersebut direncanakan pejabat pemerintahan Arab Saudi.

Pelapor Khusus Agnes Callamard mengatakan tiga anggota timnya mendapat akses rekaman audio kasus pembunuhan yang mengerikan dari badan intelijen Turki. Selain itu, Arab Saudi disebut sengaja menghalangi upaya penyelidikan yang digulirkan Turki terhadap kasus kematian Khashoggi di dalam gedung Konsulat Saudi di Istanbul.

"Sangat disayangkan, waktu dan akses yang diberikan kepada penyelidik Turki sangat tidak memadai. Khususnya dalam pemeriksaan lokasi kejadian dan penyelidikan yang sesuai dengan standar internasional," papar Callamard.

Dalam laporan misinya selama sepekan bersama tiga tim ahli di Turki, Callamard mengatakan telah meminta akses ke Arab Saudi. Dia menaruh perhatian besar terhadap proses peradilan 11 orang tersangka, yang menghadapi persidangan di Arab Saudi atas pembunuhan Khashoggi. Callamard berencana meghadirkan laporan akhir kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Juni mendatang.

Khashoggi, kolumnis Washington Post yang kerap mengkritisi Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS), tewas dibunuh di dalam Konsulat Saudi pada 2 Oktober 2018. Sampai saat ini, jasadnya belum ditemukan. Agen intelijen AS meyakini MBS berperan besar dalam kasus pembunuhan tersebut. Namun, Riyadh membantah keterlibatan pangeran, dan menuding pihak yang membunuh Khashoggi bertindak atas kemauannya sendiri.

Ancam Khashoggi

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) disebut pernah mengancam akan menggunakan peluru terhadap jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu dilakukan bila Khashoggi tidak kembali ke Saudi dan mengakhiri kritikannya terhadap pemerintah.

Informasi tersebut diterbitkan New York Times dengan mengutip mantan dan pejabat luar negeri Amerika Serikat (AS) saat ini yang memiliki pengetahuan tentang laporan intelijen.

"Komentar itu (penggunaan peluru) dibuat dalam percakapan antara Pangeran Muhammad dan ajudannya Turki Aldakhil pada September 2017 dan disadap oleh badan intelijen Amerika," kata New York Times dalam laporannya, dikutip laman Aljazirah, Jumat (8/2).

Analis intelijen AS telah menafsirkan kata 'peluru' dalam percakapan antara Pangeran MBS dan Aldakhil secara metaforis. Hal itu tidak berarti Pangeran MBS akan menembak Khashoggi. Namun, kata tersebut menunjukkan niatnya untuk membunuh Khashoggi bila tak kembali ke Saudi.

Juru bicara Kejaksaan Saudi mengatakan 21 orang warga Saudi telah ditahan karena diduga terlibat kasus pembunuhan Khashoggi pada tahun lalu. Dari hasil penyidikan, 11 tersangka di antaranya mendapat dakwaan dan diproses ke pengadilan.

Pemerintah Turki meminta Arab Saudi mengekstradisi sejumlah tersangka agar diadili di pengadilan Turki. Sigurd Neubauer, dari lembaga think-tank Gulf International Forum, menekankan urgensi peninjauan penyelidikan PBB agar diterima secara global. "Kasus ini merupakan permaianan diplomatik yang kompleks."

Arab Saudi belum mengonfirmasi kemungkinan tim penyelidik PBB melanjutkan misinya ke dalam lingkup kerajaan. "Persoalan kematian Khashoggi meningkatkan sejumlah implikasi, yang menuntut perhatian besar dari komunitas internasional," ujar Callamard. (Aljazeera/AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More