Asa Damai dari Abu Dhabi

Penulis: Romanus Ndau Komisioner Komisi Informasi Pusat RI Pada: Kamis, 07 Feb 2019, 01:45 WIB Opini
Asa Damai dari Abu Dhabi

AFP

PEMIMPIN Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, dan Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmed al-Tayeb menandatangi dokumen bersejarah tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup berdampingan guna menangkal terorisme dan radikalisme, Selasa (5/2).  

Dokumen bersejarah yang dikenal dengan nama Deklarasi Abu Dhabi itu  berisikan tujuh poin penting; 1) seruan kepada pemimpin untuk membudayakan hidup damai dan toleran; 2) apresiasi terhadap pencapaian positif peradaban modern sekaligus prihatin terhadap degradasi etika dan moral; 3) kebangkitan agama sebagai pijakan nilai bagi generasi baru; 4) pengakuan atas hak-hak perempuan dalam berbagai bidang; 5) perlindungan terhadap anak; 6) rekonsiliasi di antara umat beragama; dan 7) kerja sama antara Vatikan dan Al-Azhar untuk menyosialisasikan visi dan misi dokumen tersebut.  

Menerima 'sang lain'
Kesepakatan tersebut merupakan prestasi besar abad ini karena membenihkan asa perdamaian dunia. Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Tayeb merupakan tokoh berpengaruh yang kiprahnya sangat dinantikan di tengah beragam tumpukan krisis saat ini. Keduanya menorehkan tinta emas untuk mereparasi hubungan antara Kristen dan Islam.

Keputusan itu jelas lebih produktif ketimbang tesis Samuel P Huntington 1990-an. Bukannya mencari jalan untuk keluar dari berbagai krisis, ilmuwan politik AS itu justru mengeluarkan tesis provokatif tentang clash of civilization. Menurutnya, relasi antara Barat dan dunia Islam akan diwarnai berbagai ketegangan karena perbedaan peradaban yang berakar pada agama. Jika mengikuti tesis tersebut, ketegangan merupakan keniscayaan karena berbagai perbedaan yang sulit didamaikan.

Deklarasi Abu Dhabi itu memberikan gambaran bahwa perbedaan bukan alasan bagi kita untuk berpisah. Perbedaan merupakan keniscayaan yang harus diakui dan diapresiasi. Perbedaan tidak harus melahirkan konflik, apalagi kekerasan sebagaimana terjadi saat ini di berbagai negara. Banalitas kekerasan Boko Haram di Nigeria, penderitaan kaum muslim Rohingya di Myanmar, dan bara api peperangan di Timur Tengah merupakan beberapa contoh betapa tanpa toleransi dunia akan terus berlumuran darah.

Hal penting yang disuarakan Paus Fransiskus dan Imam al-Tayeb ialah ajakan untuk menerima 'sang lain' sebagai keharusan yang tidak terelakkan. Perdamaian hanya mungkin tumbuh di atas sikap saling menerima dan menggandengnya dalam kerja sama yang saling mendukung. Penerimaan tersebut tumbuh di atas kesadaran bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang harus diakui dan diberi martabat tinggi. ‘Sang lain', kata Heffner (2001), merupakan pribadi utuh dan bermartabat yang mempunyai suara dan prakarsanya sendiri.

Soal itu juga dielaborasi secara menarik oleh Karen Amstrong di 1993 terbit bukunya A History of God. Baginya, tidak terhindarkan adanya the plurality of discourse on God. Meski beragam, inti semua agama sama; belas kasih. Itu berarti semakin beragam agama, semakin banyak sumber belas kasih.

Atas dasar itu, mantan biarawati Katolik itu merasa prihatin dengan aneka kekerasan atas nama agama. Katanya, bertengkar tentang agama tidak ada manfaatnya dan tidak kondusif bagi pencerahan. Agama sejati ialah agama humanistis, agama kemanusiaan, agama yang mengembangkan dan menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan sebaliknya, agama yang membinasakan manusia dan kemanusiaan. Agama yang diperlukan dewasa ini ialah agama yang mewartakan dan menawarkan pembebasan, menawarkan energi pembebasan bagi kemanusiaan.

Agama dalam Pilpres 2019
Deklarasi Abu Dhabi kiranya menjadi inspirasi bagi kehidupan umat beragama di Indonesia, khususnya menghadapi Pilpres 2019. Agak mengejutkan karena kini relasi antarumat beragama tengah menghadapi fase genting. Sentimen negatif terus dieksploitasi untuk memengaruhi pilihan pada Pilpres 2019.

Ironisnya, tempat-tempat ibadah sering dijadikan tempat persemaian bagi tumbuhnya sikap-sikap intoleransi. Alhasil, sesama umat beragama yang sebelumnya hidup rukun dan damai kini mengalami gesekan, saling curiga dan membenci bahkan hingga anak-anak. Pilpres yang semestinya momen untuk membangun harapan yang lebih baik kini direduksi menjadi wadah untuk mencaci maki, menyebarkan hoaks dan pertengkaran.

Anak saya, Gibran Lendong, pernah bercerita soal guru-gurunya yang mulai mengajarkan sikap intoleransi. Agama sendiri diagung-agungkan sementara agama orang lain diremehkan, bahkan ditertawakan. Bagaimana intolerasi bisa diatasi kalau sejak kecil anak-anak diajarkan dengan kebencian?

Secara pribadi saya merasa terganggu dengan berbagai upaya yang mengaitkan pilihan politik dengan agama. Seorang calon presiden juga dituntut untuk mahir soal-soal keagamaan. Padahal, itu ialah tanggung jawab tokoh agama untuk mengantarkan umatnya masuk surga setelah kehidupan di dunia berakhir. Tugas seorang presiden ialah membangun Indonesia lebih baik sehingga bisa menjadi 'surga' yang bisa dirasakan rakyat.

Beruntunglah rakyat Indonesia makin cerdas sehingga tidak mudah terpengaruh dengan provokasi elite politik. Berbagai survei juga menunjukkan bahwa eksploitasi sentimen agama dalam politik tidak memengaruhi pilihan rakyat. Rakyat tahu sosok pemimpin berintegritas. Kepadanya kepercayaan akan diberikan.

Deklarasi Abu Dhabi mengetuk hati kita untuk merajut kembali relasi-relasi sosial yang selama ini koyak akibat polarisasi politik menghadapi Pilpres 2019. Vatikan dan Mesir, dua contoh ekstrem dari perbedaan keagamaan, bisa bertemu dan bekerja sama untuk kemanusiaan. Kerja sama antarumat beragama merupakan kebutuhan mendesak, tak bisa ditawar-tawar. Itulah asa damai dari Abu Dhabi

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More