Energi Berkeadilan: Menakar Lampu Penerangan Jalan Tenaga Surya

Penulis: Fahmy Radhi Pengamat Ekonomi Energi UGM dan Mantan Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Pada: Selasa, 05 Feb 2019, 16:39 WIB Opini
Energi Berkeadilan: Menakar Lampu Penerangan Jalan Tenaga Surya

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

ENERGI berkeadilan merupakan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengupayakan ketersediaan (available) dan keterjangkauan harga (affordable) energi untuk seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata.

Energi berkeadilan sesungguhnya merupakan turunan dari Program Nawacita Presiden Joko Widodo, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu program implementasi energi berkeadilan diwujudkan dalam pencapaian 100% rasio elektrifikasi. Program 100% rasio elektrifikasi untuk menyediakan listrik bagi rumah tangga, bisnis dan industri, serta lampu penerangan jalan di seluruh wilayah Indonesia.

Hingga akhir 2018, rasio elektrifikasi sudah mencapai 98,3%, lebih besar daripada target ditetapkan sebesar 95,15%.

Rasio elektrifikasi diharapkan akan mencapai 99,9% pada 2019. Untuk menerangi di daerah-daerah terpencil, yang tidak ada jaringan distribusi listrik, digunakan panel tenaga surya dengan memasang 4 lampu di setiap rumah penduduk. Sedangkan untuk menerangi jalan-jalan umum digunakan penerangan jalan umum tenaga surya (PJU-TS).

PJU-TS adalah lampu penerangan jalan yang menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi listriknya. PJU-TS menjadi solusi untuk digunakan di jalan-jalan pada daerah yang belum terjangkau aliran listrik PT PLN (Persero), maupun pada daerah-daerah yang sudah terlistriki PLN, tetapi ingin mengurangi konsumsi listrik daerahnya.

Penggunaan PJU-TS ini merupakan solusi yang sangat tepat, lantaran tidak hanya menggunakan tenaga surya yang ramah lingkungan, tetapi juga memberikan kontribusi dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Pembangunan PJU-TS ini mengacu Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pemanfaatan Energi Baru Dan Energi Terbarukan Serta Konservasi Energi. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur ini merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan energi berkeadilan.

Selama hampir 5 tahun terakhir ini, pemasangan PJU-TS di berbagai daerah meningkat sangat pesat. Berdasarkan data Kementerian ESDM, sebanyak 670 unit PJU-TS telah dipasang di lima kabupaten pada 2015, meningkat menjadi 5.015 PJU-TS di 67 kabupaten dan 7.462 PJU retrofit di 48 kabupaten pada 2016.

Pada 2017, dipasang 924 PJU retrofit di enam kabupaten. Pada 2018 total PJU-TS yang sudah terpasang mencapai 35.935 unit di di 172 kabupaten dan kota, dari Kota Banda Aceh hingga kabupaten Merauke.

Kelebihan dan kekurangan PJU-TS PJU-TS merupakan alternatif lampu penerangan jalan, yang memiliki beberapa kelebihan. Pertama, biaya energi PJU-TS lebih murah dibandingkan PJU-PLN, lantaran menggunakan sumber energi surya yang tidak terbatas dan didapatkan secara gratis. Sedangkan PJU-PLN menggunakan energi fosil, yang harga energinya lebih mahal.

Selain itu, PJU-TS menggunakan komponen panel surya dengan lifetime hingga 25 tahun yang berfungsi menerima sinar matahari untuk diubah menjadi listrik melalui photovoltaic process.

Kedua, pengunaan PJU-TS lebih praktis dan efisien, Lampu PJU-TS dapat dipasang di mana saja, yang secara otomatis dapat mulai menyala pada sore hari dan pada pada pagi hari dengan perawatan yang mudah dan efisien selama bertahun tahun.

PJU-TS juga tidak tergantung dengan jaringan PLN sehingga tidak mengalami pemadaman pada saat terjadi pemadaman listrik PLN akibat terjadi gangguan.

Ketiga, PJU-TS menggunakan energi EBT yang ramah lingkungan dan bebas polusi. PJU-TS tidak memberikan kontribusi perubahan iklim lantaran sistem listrik tenaga surya tidak memancarkan gas rumah kaca yang berbahaya dan tidak menyebabkan polusi suara yang berisik.

Namun, selain punya kelebihan, ada pula kekurangannya. Salah satu kekurangan PJU-TS ialah sangat tergantung cuaca. Pada saat cuaca mendung dan hujan, kemampuan panel surya menangkap sinar matahari akan berkurang, sehingga tidak optimal dalam mengkonversi energi surya menjadi listrik.

Kekurangan PJU-TS lainnya adalah biaya investasi awal relatif mahal, bahkan lebih mahal ketimbang biaya investasi PJU-PLN. Pasalnya, komponen yang digunakan dalam sistem tenaga surya sebagian besar masih harus diimpor dengan harga mahal.

Akan tetapi sebetulnya harga energi surya yang digunakan jauh lebih murah ketimbang energi fosil yang digunakan PJU PLN, di samping biaya perawatan juga lebih murah.

Untuk meminimkan biaya investasi PJU-TS, idealnya semua komponen panel yang dibutuhkan dapat diproduksi dalam negeri dengan skala kapasitas optimal.

Peningkatan penggunaan PJU-TS dalam jumlah besar di seluruh wilayah Indonesia, baik untuk pemasangan baru, maupun menggatikan PJU-PLN, diharapkan dapat mendorong tumbuhnya industri komponen panel surya di Indonesia yang dibutuhkan sistem listrik tenaga surya.

Tumbuh kembangnya industri komponen panel tenaga surya di dalam negeri, tidak hanya mempercepat penggunaan PJU-TS di seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga memberikan multiplier effect terhadap pembukaan lapangan pekerjaan baru dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Ujung-ujungnya, pengunaan PJU-TS secara langsung, maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata, sesuai dengan tujuan 'Energi Berkeadilan'. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More