Minggu 03 Februari 2019, 09:30 WIB

Sesar Lembang kembali Aktif

Despian Nurhidayat | WAWANCARA
Sesar Lembang kembali Aktif

MI/Despian Nurhidayat

BELAKANGAN sesar Lembang menjadi pembahasan. Apalagi, pada 17 Desember 2018 ahli Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerbitkan hasil studi tentang sesar Lembang di jurnal Tectonophysics.

Studi terbaru itu menghadirkan sejumlah faktra terbaru dan lebih terperinci jika dibandingkan dengan studi sebelumnya.

Media Indonesia berkesempatan berbincang dengan sang peneliti Mudrik Rahmawan Daryono, di Bandung, Rabu (30/1). Fakta apa saja yang telah diperbaruhi dari studi tersebut?

 

Sebetulnya, apa yang dimaksud dengan sesar Lembang dan apa dampaknya?

Sesar aktif, retakan permukaan gempa bumi atau survey structure yang robek dan berbeda arah. Dia (sesar) akan merobekkan sepanjang 29 km. Di daerah robek itu bangunan tipe apa pun saat ini yang di dunia pernah ada itu semua akan hancur. Jadi daerah itu tidak boleh dihuni, tapi bukan berarti kita menghindarinya puluhan kilometer. Kita hanya menghindari sekitar 15 meter atau 30 meter kiri-kanan.

Dampak lainnya efek guncangan gempanya. Ketika terjadi gempa di sesar aktif akan menghasilkan gelombang yang menyebar ke segala arah, atau menyebar ke selueruh kawasan Bandung Raya. Mulai dari Lembang sampai ke Kota Bandung. Maka bangunan yang dibangun di daerah-daerah itu harus memenuhi kriteria bangunan tahan gempa.

     

Apakah penelitian sesar Lembang pernah dilakukan dan mengapa bertahan hingga sekarang?

Penelitian-penelitian sebelumnya sudah ada, tapi sebelum ada bukti konkret sesar Lembang itu aktif. Namun, ada kriteria yang harus diikuti, salah satunya terbukti pernah bergerak dalam kurun waktu 11.500 tahun lalu. Jadi kalau kita sudah bisa membuktikan hal ini, pasti confidence-nya tinggi sekali.

Penelitian-penelitian itu saya koleksi dan pelajari semua. Dari panjang sesar Lembang 22 km dengan kinematika yang bermacam-macam, ada sesar normal, dan lainnya. Kemudian saya teliti dan salah satu data dari hasil kerja sama LIPI, ITB, dan Pemerintah Australia-atau AFDR project. Dalam proyek itu dibentuk program Graduate Research on Earthquake and Active Tektonik. Dalam program itu kami meneliti geologi gempa buminya dan masuk ke dalam program S-3 saya. Di situ juga dilakukan survei Lidar merupakan citra beresolusi tinggi sampe 90 cm. Jadi sangat akurat sekali. Salah satu keunggulan citra lidar ini, dia mampu menembus tutupan vegetasi, jadi dia mampu membaca permukaan bumi dengan asli.

 

Jadi apa studi terbaru yang ada dapatkan dari sesar Lembang?

Jelas kita meng-update dari 22 km menjadi 29 km. Secara kinematik kita menemukan bukti hasil uji Paleoseismologi yang kami lakukan di tiga lokasi. Kita menemukan adanya bukti gempa pada abad ke-15 dan 60 sebelum Masehi. Ini sudah merupakan bukti yang kuat bahwa sesar Lembang itu aktif.

Kita juga bisa menghitung kecepatan gesernya, yaitu antara 2 dan 3 milimeter per tahun. Kemudian, ada indikasi besar magnitudo gempa buminya yang mampu menghasilkan magnitudo dalam 6,5 skala Richter sampai 7 skala Richter. Ada juga indikasi perulangan gempa bumi antara 170 tahun dan 670 tahun siklus gempa bumi.

Jadi posisi kita saat ini, kita tahu gempa bumi terakhir terjadi pada abad ke-15, berarti sekitar 560-an tahun, dan belum pernah terjadi gempa lagi. Kita tahu gempa buminya berada dalam range antara 170 dan 670 tahun. Jadi kita termasuk ke fase terakhir siklus gempa bumi, itu harus kita waspadai.

 

Jika dihitung dari siklusnya, berapa lama lagi perkiraan akan terjadi gempa sesar Lembang ini?

Saya tidak bisa memberikan kepastian dalam hal ini. Kira-kira mungkin bisa terjadi dalam waktu 100 sampai 150 tahun yang akan datang dan juga bisa terjadi dalam waktu dekat, kita tidak bisa mengetahui secara pasti. Namun, secara teori bahwa di situ sesar aktif, iya. Di situ terjadi perulangan gempa bumi, iya. Kemudian magnitudo gempa buminya 6,5 SR sampai 7 SR, iya. Jadi itu yang saat ini bisa kita pegang.

 

Berarti gempa sesar Lembang bisa belum dipastikan? Apakah ada tanda awal sebelum terjadi gempa sehingga bisa dilakukan evakuasi?

Tidak bisa diprediksi pasti, karena teknologi dan ilmu pengetahuan kita saat ini belum sampai pada tahap itu. Kita hanya bisa tahu, jalurnya dimana dan kita ini pada fase apa. Ini kita berada dalam fase pelepasan energi. Jadi sudah lama sekali kita tidak pernah gempa, jadi gempa itu kan bergerak sedikit demi sedikit.

Ketika dia sudah tidak mampu menahan dia retak. Setelah fase terjadi gempa, maka dia menghimpun energi, bergerak sedikit demi sedikit, sampai gempa buminya katakanlah 600 tahun. Setelah fase 600 tahun ini dia masuk ke dalam fase pelepasan energi.

Saat ini, tanda awal akan terjadinya gempa sesar Lembang ini tidak ada. Itu datang dengan tiba-tiba saja. Yang jelas, pengetahuan untuk evakuasi jika terjadi gempa itu merupakan hal yang sangat penting disampaikan kepada masyarakat dan anak-anak sekolah juga. Jika terjadi getaran segera lindungi kepala, berlindung di bawah meja, dan lainnya. Itu merupakan hal yang perlu diimbau kepada masyarakat.

 

Tahun lalu, Pemkot Bandung menyatakan akan merevisi Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) sehingga memasukkan peta atau zonasi rawan bencana cekungan Bandung. Apakah berarti di daerah sesar Lembang sama sekali tidak boleh ada hunian atau bentuk hunian apa saja yang cocok di sana?

Jadi, yang namanya sesar aktif itu bukan sesuatu yang harus kita hindari sampai puluhan kilometer. Kita itu menghindari sekitar 15 sampai 30 meter. Jadi sepanjang jalur sesar Lembang 30 meter aja itu yang tidak boleh dibangun bangunan hunian vital, seperti rumah sakit, tempat tinggal. Namun, kalau digunakan untuk jogging track, pertanian itu enggak masalah. Jadi untuk bangunan yang sifatnya tidak permanen itu sebenarnya tidak masalah.

     

Beberapa waktu lalu penelitian tentang potensi tsunami yang dikeluarkan peneliti BBPT menimbulkan kegaduhan. Apakah anda khawatir saat ingin menyampaikan temuan?

Kalau saya sendiri sih tidak ada kekhawatiran ya. Tentu semuanya harus cerdas, dalam artian sebagai peneliti pun kita harus cerdas, mengikuti kriteria akademis yang benar. Jadi kita mencari bukti yang autentik, kemudian kita melakukan metodologi yang benar, nah itu kita harus menyampaikan kalau itu merupakan hasil penelitian.

Dari sisi pemerintah daerah dan masyarakat harus cerdas juga, dalam artian informasi itu bukan sesuatu hal yang tanpa ada alasannya. Itu merupakan hal yang melatarbelakangi seorang ilmuwan mengemukakan pendapat. Jadi sebaiknya masyarakat jangan mudah paranoid terhadap informasi semacam ini. Tapi kita lihat ini ada sesuatu ancaman dan  solusi yang bisa kita lakukan secara bersama.

Semacam tsunami, pemerintah itu sudah melakukan sosialisasi mengenai jalur-jalur evakuasi, terus apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi tsunami. Seperti lari, tinggalkan kendaraan-kendaraan, dan hanya menggunakan kaki. Itu merupakan hal-hal yang harus dipatuhi semua. Secara prinsip kita seharusnya sudah enggak berdebat lagi, kita harus mematuhi informasinya.

 

Apakah Anda memiliki masukan-masukan untuk pemerintah terkait dengan sesar Lembang ini dan ketahanan bencana?

Jadi kita sudah melakukan publikasi jurnal internasional, terus kemudian di lokal, melalui media massa juga sudah. Saya sendiri pun sudah menyebarkan bentuk digitalnya. Jadi secara prinsip itu, kita sudah bagikan. Pemerintah daerah tentunya harus proaktif dengan informasi ini dan dia juga harus melakukan sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya sesuai dengan kemampuan dia tentunya. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More